Transkripsi

Intisari Ajaran Buddha

Tak terpungkiri bahwa dalam hidup ini kita senantiasa mendambakan kebahagiaan. Banyak dari kita yang menganggap bahwa kebahagiaan itu sama dengan terpenuhinya keinginan. Sehingga kita tidak henti-hentinya menuruti keinginan kita karena kita percaya dengan terpenuhinya keinginan, kita akan bahagia. Apakah memang demikian? Apakah kita baru bisa bahagia bila keinginan terpenuhi? Apakah dengan terpenuhinya, kita pasti bahagia? Sesungguhnya kebahagiaan adalah suatu state of mind (keadaan pikiran) dimana tidak ada gejolak-gejolak, tidak ada ketidakpuasan; semuanya serba pas. Kenyataannya, kebahagiaan hampir tidak ada kaitannya dengan terpenuhinya keinginan!

Ketika kita menyukai sesuatu, kita membesar-besarkannya, kita berpikir bahwa dengan mendapatkan itu, kita akan bahagia, dan dalam rangka mendapatkan itu, kita tidak mempedulikan orang lain. Sebaliknya ketika kita tidak menyukai sesuatu, kita menjelek-jelekkannya, kita berpikir dengan mengenyahkan itu, kita akan bahagia, dan untuk mengenyahkan itu, kita tidak mempedulikan orang lain. Inilah dua hal yang disebut lobha (Sanskerta: raga) dan dosa (Sanskerta: dvesha).

Kadang mungkin kita merasa semua orang sepertinya ”melawan” kita. Semuanya serba salah, tidak ada yang pas. Kadang kita anggap apapun yang kita miliki serba tidak cukup atau kita iri akan keadaan orang lain yang kelihatannya lebih baik. Ini juga suatu state of mind.

Setiap kali kita berpikir, berkata dan berbuat sesuatu, itu selalu meninggalkan tilasan-tilasan (‘jejak-jejak’ mental), yang juga disebut vasana atau bija. Tilasan-tilasan tersebut akan selalu kita bawa. Tilasan positif akan menyebabkan kita mengalami kenyamanan, sedangkan tilasan negatif akan menyebabkan kita mengalami ketidaknyamanan. Dengan kata lain, apapun yang hasilnya nyaman itu adalah karma positif dan apapun yang hasilnya tidak nyaman itu adalah karma negatif. Suatu tindakan itu positif atau negatif tergantung motivasi kita dan tergantung cara kita memperlakukan makhluk atau orang lain. Semakin kita peduli ke sesama, hidup kita akan semakin nyaman. Inilah kunci kebahagiaan.

Oleh karena itu, pikirkanlah orang lain terlebih dahulu. Jika bisa, bantulah orang atau makhluk lain atau paling tidak, jangan merugikan makhluk lain. Dengan demikian hidup kita akan berubah. Pedulilah ke sesama, pedulilah orang-orang di sekeliling kita. Buatlah tekad untuk menjadi lebih baik agar bermanfaat bagi makhluk lain.

Kita perlu mendisiplinkan pikiran kita terus-menerus, agar kita bisa berpikir jernih. Kita perlu mempunyai ketajaman melihat. Untuk itu, kita butuh pikiran yang imbang untuk mengatasi gangguan-gangguan perhatian karena loyo atau terlalu bergejolak. Agar pikiran imbang atau agar kita dapat berkonsentrasi, hidup kita harus teratur. Jika kita selalu membenci, penuh kemarahan, iri hati, dan sebagainya, maka kita tidak bisa konsentrasi. Jika kita tidak bisa konsentrasi, kita tak dapat melihat realita dengan benar. Inilah yang disebut sila, samadhi dan prajna.

Jika kita bisa berpikir jernih, kita tahu bagaimana menjalani hidup ini. Kita tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya. Memiliki cara pandang yang benar itu penting sekali. Jika kita mengerti bahwa segala sesuatu hanya bersifat pengalaman, kita tidak lagi bereaksi terus-menerus tetapi kita mempunyai kesempatan untuk berespon.

Sebagai kesimpulan, hiduplah seperti seorang pendekar dengan sepak terjang sebagai berikut: 1) Hargailah apa yang kita miliki dan jangan selalu memikirkan apa yang tidak kita miliki; miliki rasa sentosa atau rasa serba berkecukupan, 2) Miliki hati welas asih; jangan menyakiti orang lain dengan ucapan, perbuatan maupun pikiran, 3) Jangan bereaksi secara negatif terhadap sesuatu yang tidak kita sukai, 4) Miliki mudita citta - ikut bersenang hati atas kebahagiaan orang lain.

Akhir kata, selalu renungkanlah intisari ajaran Buddha berikut:
Hindari hal-hal yang negatif
Tanamkan ha-hal yang positif
Amati dan disiplinkan pikiran dengan seksama
Inilah ajaran semua Buddha.

Mulailah dari diri kita sendiri, mulailah sekarang dan mulailah sedikit demi sedikit. Hargailah hidup ini. Ambilah sari dari hidup ini. Hidup ini jangan disia-siakan dan jangan disalahgunakan.

Semoga semua potensi positif didedikasikan agar semuanya terbebas dari segala bentuk penderitaan, agar semua makhluk mengalami kedamaian dan kebahagiaan ...

Desember 2010 oleh Potowa Center

Baca Lebih Lanjut