Seusai, bahkan sebelum, kita bersama membicarakan dasar-dasar tantra, banyak pertanyaan
tentang ikonografi atau wujud representasi yang digunakan dalam tradisi itu. Salah satu aspek
penampilan yang berbeda adalah aspek 'garang, murka, sarosha, krodha', atau 'menyeramkan'.
Ternyata ada beberapa hal yang membuat kita takut, gentar, atau ngeri, dan biasanya kita
hanya merasa bahwa sebabnya hanyalah 'sensori, indrawi' saja.
Sebetulnya dalam Buddhadharma, takut, gentar atau ngeri ini dijelaskan oleh Buddha dari
sudut sebab dasarnya, mengapa kita takut, gentar atau ngeri. Mungkin akan membuat kita
terperangah!
GENTAR dan NGERI
Dalam Sutra Bhaya-bherava – Sutra Gentar dan Ngeri (Majjhima Nikāya 4, Bhayabherava Suttaṁ, Ekottarāgama 31.1), Brahmana Jāṇussoṇi bertanya kepada Buddha: ‘… (mengapa) tinggal terpencil di hutan belantara itu menantang. Sulit untuk hidup dalam pengasingan dan sulit menemukan kenikmatan dalam kesendirian. Hutan tampaknya pasti membuat pikiran terampas dan perasaan bergejolak jika tidak tenggelam dalam samādhi.’
Buddha menjawab: ‘Ketika saya belum tergugah, saya juga berpikir seperti itu: Tempat menetap yang terpencil di dalam hutan sulit untuk bertahan... hutan pasti merampas pikiran, jika dia tidak memiliki daya pemusatan perhatian.’
Kemudian saya berpikir: ‘Ada petapa dan brahmana dengan perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak murni dan bergejolak, sering berdiam di hutan belantara. Para petapa dan brahmana itu memiliki rasa takut, gentar dan ngeri yang tidak mendukung karena cacat dalam perilaku mereka. Tetapi saya tidak sering tinggal di tempat terpencil di hutan belantara dengan perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak murni atau bergejolak. Perilaku saya murnikan, seperti para mulia yang sering tinggal di hutan belantara dengan perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang murni, tanpa gejolak. Melihat kemurnian perilaku ini dalam diri saya, saya merasa lebih tenang untuk tinggal di hutan.’
Kemudian saya berpikir, ‘Ada petapa dan brahmana dengan mata pencaharian dan cara bermasyarakatnya tidak murni dan selaras, yang sering berdiam di hutan belantara dan hutan. Para petapa dan brahmana itu menimbulkan rasa gentar yang tidak terampil karena cacat dalam cara penghidupan mereka. Tapi saya tidak sering tinggal di tempat terpencil di hutan belantara dan hutan dengan mata pencaharian dan cara bermasyarakat yang tidak bersih dan selaras. Mata pencaharian dan cara bermasyarakat saya murnikan. Saya adalah salah satu dari para mulia yang sering tinggal di tempat terpencil di hutan belantara dengan penghidupan yang murni. Melihat kemurnian penghidupan dalam diri saya ini, saya merasa semakin tenang tinggal di hutan.’
Kemudian saya berpikir, ‘Ada para petapa dan brahmana yang masih penuh hasrat akan kenikmatan indria, dengan nafsu yang bergairah … saya tidak penuh hasrat …’
‘Ada petapa dan brahmana yang hatinya penuh dengan itikad tidak baik, dengan niat jahat … saya memiliki hati yang penuh cinta kasih …’
‘Ada para petapa dan brahmana yang masih dikuasai oleh rasa tumpul, malas dan kantuk … saya bebas dari ketumpulan pikir dan kantuk …’
‘Ada petapa dan brahmana yang gelisah, bergejolak, tanpa kedamaian pikiran … Pikiran saya damai …’
‘Ada petapa dan brahmana yang selalu bimbang dan tidak pasti … saya telah melampaui keraguan …’
‘Ada petapa dan brahmana yang mengagungkan diri mereka sendiri dan merendahkan orang lain … saya tidak memuliakan diri sendiri atau merendahkan orang lain …’
‘Ada petapa dan brahmana penuh penyesalan, keheranan dan penakut … saya tidak mudah terkejut …’
‘Ada petapa dan brahmana yang masih menikmati dan terikat pada harta, kehormatan, dan ketenaran … saya hanya memiliki sedikit keinginan …’
‘Ada petapa dan brahmana yang malas dan kekurangan tenaga … saya bersemangat …’
‘Ada para petapa dan brahmana yang tidak ingat, waspada dan tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan … saya penuh perhatian …’
‘Ada petapa dan brahmana yang hati dan pikirannya kurang menyatu, dengan pikiran menyimpang (asamāhitā vibbhantacittā)… saya selaras dalam penyatuan pikiran …’
‘Ada petapa dan brahmana yang bebal dan bodoh (duppaññā eḷamūgā) yang sering tinggal di tempat terpencil di hutan belantara. Para petapa dan brahmana itu membangkitkan rasa takut, gentar dan ngeri yang tidak mendukung karena cacat kebebalan dan kebodohan. Tapi saya tidak sering menginap di tempat terpencil di hutan belantara dengan kebebalan dan kebodohan. Saya selaras dalam kewaskitaan. Saya adalah salah satu dari para mulia yang sering tinggal di hutan belantara dalam kewaskitaan yang selaras (paññāsampadaṁ). Melihat pencapaian tahap kewaskitaan dalam diri saya ini, saya merasa semakin tenang tinggal di dalam hutan’.
…….
'Saya benar-benar melihat yang ada (yathābhūtaṁ abbhaññāsiṁ):
‘Ini adalah cemaran (āsavā) … ’
‘Ini adalah asal mula cemaran (āsavasamudayo’ti)… ’
‘Ini adalah lenyapnya cemaran (āsavanirodho’ti) … ’
‘Ini adalah praktik yang mengarah pada lenyapnya cemaran (āsavanirodhagāminī paṭipadā’ti).’
Mengetahui dan melihat seperti ini, pikiran saya terbebas dari penggerogotan karat kenikmatan indria (kāmāsavāpi cittaṁ vimuccittha), keinginan untuk terwujud lagi (bhavāsavāpi), dan ketidaktahuan (avijjāsavāpi). Ketika dibebaskan, saya tahu itu pembebasan.
Saya mengerti: ‘Pewujudan berulang telah berakhir; perjalanan telah tertempuh; apa yang harus dilakukan, telah dilakukan; tidak ada penyebab kembali ke kondisi keberadaan apa pun.’
Ini adalah pengetahuan ketiga, yang saya capai pada jaga terakhir malam itu. Ketidaktahuan dihancurkan dan pengetahuan muncul; kegelapan dihancurkan dan cahaya muncul, seperti yang memang terjadi pada seorang yang rajin, jeli, dan teguh dalam semadi pencariannya.'
‘Brahmana, kamu mungkin berpikir: ‘Mungkin Bho Gotama masih belum terbebaskan dari hasrat kegairahan, penolakan, dan ketidakpengertian (avītarāgo avītadoso avītamoho) bahkan hingga hari ini, maka itulah sebabnya dia masih sering tinggal di tempat terpencil di hutan belantara.’ Tetapi kamu seharusnya tidak melihatnya seperti ini. Saya melihat dua alasan untuk sering menetap di tempat terpencil di alam liar dan hutan. Saya melihat dan bersemayam dalam kehidupan yang bahagia untuk diri saya sendiri di masa sekarang, dan saya memiliki welas asih untuk generasi mendatang (attano ca diṭṭhadhammasukhavihāraṁ sampassamāno, pacchimañca janataṁ anukampamāno).’
***
Marilah kita kupas sedikit secara singkat. Kalau kita amati dan rasakan, ketakutan biasanya menyangkut kekhawatiran tentang kelangsungan hidup, keamanan, atau identitas. Ketakutan adalah mekanisme reaktif yang timbul ketika identitas kita (termasuk identitas fisik) terancam. Jika ini mengenai ketakutan dasar, kita merasa ngeri. Misalnya tentang perang nuklir.
Sutra Bhaya-bherava ini pembuka mata. Bhaya ini pembuat gentar = bahaya, bherava = bhairava = perwujudan yang sangat mengerikan. Jadi yang jelas, pengertian ini ada dalam Majjhima Nikāya sutra Pali, maupun terjemahan dari Sanskerta dalam Ekottaragama.
Bhairava, perwujudan yang sangat mengerikan, justru digunakan sebagai representasi untuk 'membasmi' semua sebab kengerian itu sehingga akhirnya semua sebab kengerian itu menjadi sosok yang diinjak, atau kepala yang dipotong, atau tengkorak. Dari sudut persepsi biasa itu 'menyeramkan', tetapi keberingasan seperti itu yang dibutuhkan untuk menanggulangi sebab-sebab yang membuat kita takut, misalnya sakit, mati, dan sebagainya. Jadi alatnya adalah pisau, celurit atau pedang pengetahuan dan kewaskitaan yang tajam.
Penjelasan Buddha dalam keterangannya kepada Brahmana Janusoni menggunakan setting 'tinggal terpencil di alam liar' (ini juga punya beberapa pengertian, bukan hanya secara harfiah harus di hutan belantara), ternyata, sebab-sebab ketakutan dan kengerian ini membantu mendefinisikan alam samsara.
Kita, mungkin tanpa sadar, menggunakan kriteria dan cara dari berbagai 'alam' untuk ber-reaksi terhadap ancaman yang kita hadapi.
Melawan secara frontal untuk menghancurkan ancaman atau balas dendam dengan kemarahan, seperti makhluk neraka.
Memilih keselamatan dan keamanan, karena merasa tidak cukup memiliki sarana untuk melawan, seperti preta.
Fokus untuk kelangsungan hidup, menerima rutinitas dan seadanya, karena selalu merasa gugup, harus hati-hati dan was-was, seperti binatang.
Mengejar dan memilih kesenangan sebagai kompensasi, butuh sanjungan dan konfirmasi dari yang lain, seperti laayaknya manusia.
Selalu membandingkan dan bersaing untuk keunggulan, seperti para asura.
Selalu sensitif, melindungi persepsi status dan kedudukan seperti para dewa.
Ini yang mendasari ketakutan dan kengerian kita, ini samsara. Kita lelap dalam keyakinan kita
dan mengabaikan konsekuensi dampaknya. Seperti yang dicontohkan oleh Buddha, selama kita
masih memiliki 'perasaan dan pemahaman' seperti itu, kita akan selalu memiliki rasa takut dan
gentar dalam hidup ini.
Kuncinya? Melihat dan mengetahui apa itu sebenarnya 'ketakutan'? Maka Buddha
melanjutkannya dengan cara 'hidup tergugah'.
Pertama, kenali perilaku yang berulang-ulang kita jalankan dan bertanya 'Mengapa saya melakukan ini?' Kita akan sangat cepat menghalalkanya, segera siap dengan jawabannya. Tetapi lanjutkan pertanyaan itu, lapis per lapis, dengan pertanyaan 'Mengapa?' Akhirnya, kita ‘kan hanya bisa menjawab dengan 'Saya tidak tahu'.
Emosi akan timbul dengan 'ketidak tahuan' ini, meskipun mungkin tidak secara langsung. Ini yang kita rasakan dengan 'masuk' ke dalam dan 'menjadi' perasaan itu. Ini akan memperhentikan tindakan yang reaktif. Merasakan ketakutan itu berbeda dengan 'menjadi' ketakutan ini sendiri.
Ternyata kita dapat melihat 'apa' yang mengalami takut itu sama dengan 'rasa takut' itu. Ini akan memicu kejelasan dan mengalami tanpa pemisahan.
Ketika kita bisa menjadi perasaan takut itu dan mengetahui sifatnya secara bersamaan, perasaan takut itu tidak lagi memiliki kuasa atas kita.
Kita bebas dari proyeksinya dan mengalami apa yang muncul sebagaimana adanya. Kita tidak lagi memercayai apa yang dikatakan oleh perasaan tentang dunia yang kita alami, sehingga dorongan untuk bergulat, berperang, melawan, ingin aman, atau melindungi status, sirna.
Karena kita melihat dengan jelas yang ada (yathābhūtaṁ abbhaññāsiṁ): kita lebih cenderung memperhatikan apa yang tidak seimbang. Dan kita akan memahami hubungan antara ketidakseimbangan dan penderitaan di alam ini.
Pelatihan Buddhadharma bukanlah upaya untuk memastikan atau memvalidasi perasaan tentang siapa diri kita. Buddhadharma itu tentang melihat dan mengalami apa adanya.
Kita melepaskan posisi yang baku karena kita memahami bahwa tidak semua pengalaman dapat diungkapkan. Kita melepaskan harapan dan aspirasi karena kita memahami bahwa kebahagiaan abadi bukanlah suatu pilihan. Kita melepaskan upaya untuk menjadikan dunia atau diri kita sendiri menjadi sesuatu yang kokoh karena kita memahami bahwa semua pengalaman muncul dan tenggelam. Alih-alih bereaksi terhadap ketakutan dan kengerian dengan kebencian, diskriminasi, atau kebingungan, kita hidup dalam kesadaran, tidak mencari makna atau motivasi ke masa lalu atau masa depan, tetapi menanggapi ketidakseimbangan dan kebutuhan saat ini dengan tepat dan selaras.
***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma Up. Salim Lee. Suatu kontemplasi di Hari Waisak, 4 Juni 2023.





