Transkripsi

Kata Majemuk Sanskerta ‘Tatpuruṣa’ dan Vajracchedikā

Tatpuruṣa

Dalam tata bahasa Indonesia, ada yang dikenal sebagai unsur gabungan kata atau kata majemuk, di mana biasanya unsur kata yang satu menjadi kata keterangan buat kata yang lain.

Kata majemuk ini bisa menjadi istilah khusus yang penulisannya terpisah seperti: duta besar, orang tua, simpang empat, kambing hitam, dan meja tulis; atau kata yang sudah padu dan ditulis serangkai seperti: saputangan, sukacita, acapkali, hulubalang, kacamata, dan wiraswasta.

Gabungan kata yang mempunyai kemungkinan salah pengertian, ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya, misalnya: ‘ibu-bapak kami’ dengan ‘ibu bapak-kami’, ‘buku-sejarah baru’ dengan ‘buku sejarah-baru’.

Dalam tata bahasa Sanskerta, juga dikenal kata majemuk semacam ini yang disebut “tatpuruṣa”, yang fungsi dasarnya sama yaitu kata yang satu menjadi keterangan kata yang lain. Tetapi, dalam Sanskerta tidak ada teknik membubuhkan tanda hubung (-). Kata yang dominan disebut pradhāna, yang bawahan disebut upasarjana. Sebagai contoh, kata ‘lokadhātu’: ‘dhātu’ adalah pradhāna dan ‘loka’ adalah upasarjana.

Ada juga tatpuruṣa yang sifatnya ‘me-negatifkan’, yang biasanya ditambah dengan awalan “a”, misalnya, ‘aputra’. Bahasa Indonesia juga mengenal kata majemuk semacam itu, misalnya, kata ‘asusila’.

Dalam tata bahasa Sanskerta, kata yang di-negatifkan dengan awalan “a” atau “an” bisa diterjemahkan sebagai karmadhāraya (bukan X, tidak X, yang bukan X, yang tidak X), maupun sebagai bahuvrīhi (tanpa X, tidak ada X, tidak memiliki X). Pemakaian keduanya benar dan sah tergantung konteks dan tujuan penulisan.

Vajracchedikā 金剛經 (Jīn Gāng Jīng)
Sejarah Sutra ini agak panjang.
Saat ini masih ada empat manuskrip Sanskerta yang otentik dan cukup lengkap.

Selain itu, paling tidak ada enam terjemahan berbahasa Tionghoa: Kumārajiva (402 Masehi – Taisho Tripitaka T235), Bodhiruci (509M – T236), Paramārtha (562M – T237), Dharmagupta (605M – T238), Xuanzang (648M –T220), dan Yijing (703M – T239).

Banyak juga terjemahan berbahasa Inggris dari bahasa Sanskerta, di antaranya dipelopori oleh F. Max Müller (1894), E. Conze (1957), dan G. Schopen (1989).

Terdapat juga beberapa terjemahan berbahasa Inggris dari sumber bahasa Tionghoa—terutama sumber terjemahan Kumārajiva—seperti yang dilakukan oleh A.F. Price & Wong Mou-Lam (1969) dan Charles Muller (2003). Selain itu, juga ada terjemahan berbahasa Tibet.

Salah satu terjemahan yang sangat cermat akhir-akhir ini dilakukan oleh Prof. Paul Harrison dari Universitas Stanford. Terjemahan beliau adalah suatu ‘game-changer’, sesuatu yang mengubah secara drastis: menghilangkan kebingungan dan sangat memperjelas cara kita memandang dan mempelajari Sutra ini.

Berdasarkan terjemahan beliau, terlihat sangat jelas mengapa semenjak dulu, Vajracchedikā/Sutra Pembelah Intan/Jīn Gāng Jīng, baik yang berbahasa Tionghoa maupun Inggris, rasanya sangat mistis, penuh misteri dengan kalimat-kalimat yang sangat sulit dimengerti.

Oleh karena itu, tidak jarang Jīn Gāng Jīng sangat dihormati, dipuja, dan dipandang sebagai dharani yang mempunyai daya. Saking sulitnya dimengerti, Sutra ini sangat jarang dibabarkan, apalagi dipelajari.

Alasannya ternyata dapat ditelusuri. Tampaknya, salah satu sebab utamanya adalah pilihan penerapan karmadhāraya (bukan X, tidak X, yang bukan X, yang tidak X) atau bahuvrīhi (tanpa X, tidak ada X, tidak memiliki X) dalam menerjemahkannya, sebagaimana disebut di atas.

Sutra ini terdiri dari 32 bait. Dalam 32 bait ini, ada 30 ‘tatpuruṣa’ yang merupakan inti dari tujuan sutra, yaitu menegaskan tentang shunyata dan kenyataan terdalam (ultimate truth), misalnya:
§8: puṇyaskandha > askandha; buddhadharmā > abuddhadharmā
§10c: ātmabhāva > abhāva
§13a: prajñāpāramitā > apāramitā
§13c: lokadhātu > adhātu
§17d: sarvadharmā > adharmā
§17e: upetakāya, mahākāya > akāya
§18b: cittadhārā > adhārā
§21b: sarvasatvā > asatvā
§23: kusalā dharmā > adharmā
§25: ātmagrāha > agrāha; bālaprthagjanā > ajanā
§30a: paramāṇusaṃcaya > asaṃcaya
§30b: trisāhasramahāsāhasro lokadhātu > adhātu
§31b: dharmasaṃjñā > asaṃjñā

Hampir semua terjemahan bahasa Inggris mengikuti terjemahan F. Max Müller dan E. Conze, dan semua terjemahan Tionghoa mengikuti terjemahan Kumārajiva. Dalam hal ini, keduanya menggunakan karmadhāraya (bukan X, tidak X, yang bukan X, yang tidak X).

Kumarajiva memilih untuk menggunakan ‘fēi’ 非 (karmadhāraya) dalam Jīn Gāng Jīng, bukan ‘wú’ 無 (bahuvrīhi) seperti halnya dalam Sutra Sari/Heart Sutra/心經 (Xīn Jīng).

Kunci untuk mengerti kata-kata majemuk ini ada dalam istilah “nirātmāno dharma” –'dharmas are selfless – dharma tanpa atman’, yang berupa bahuvrīhi. Hal ini jelas dan ada dalam Vajracchedikā.

Dalam sutta Pali, ungkapan “sabbe dhammā anattā” memang agak tidak tegas sehingga sering diterjemahkan sebagai 'all dharmas are not-self' – Semua dharma bukan saya. Meskipun demikian, keraguan semacam ini tidak ada dalam Vajracchedikā.

Akan terlihat jelas jika kita menggunakan contoh ini:
yo 'py asau lokadhātur adhātuḥ sa tathāgatena bhāṣitas tenocyate lokadhātur iti |


Terjemahan Kumārajiva yang menggunakan karmadhāraya: 如來說世界非世界,是名 世界 (rú lái shuō shì jiè fēi shì jiè, shì míng shì jiè)


Terjemahan Conze yang menggunakan penerapan yang sama: “And this world-system the Tathāgata has taught as no-system. Therefore it is called a 'world system'.”


Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia: “Dan sistem tata alam ini diajarkan oleh Tathagata sebagai bukan sistem tata, oleh karena itu, dapat disebut sebagai suatu ‘sistem tata alam’.”


Kalimat ini, dalam bahasa apa pun, akan sangat sulit untuk dimengerti, bahkan boleh dikatakan ‘non-sensical’: omongan tanpa arti.

Di sini, Prof. Harrison mengingatkan kita untuk lebih cermat. Jika kita menerima bahwa sutra ini memang sengaja membuat kita tidak bisa ‘mengerti’ ketika membaca kalimatnya, apakah ini tidak bertentangan dengan anjuran Buddha untuk mengerti sekali pun cuma beberapa kalimat? Ataukah sutra ini dibuat begitu ‘dalam’, karenanya, kita tidak usah mempelajarinya, tapi cukup hanya menghargai dan menyembahnya?

Di sisi lain, jika kalimat berbahasa Sanskerta tersebut diterjemahkan dengan menggunakan bahuvrīhi, sebagaimana terjemahan berbahasa Tibet dan terjemahan Prof. Harrison, itu akan berbunyi sebagai berikut:

"Any world system there is has been preached by the Realized One as systemless. Thus it is called a world-system".


“Sistem tata alam apa pun yang diajarkan oleh Tathagata tidak memiliki sistem tata. Dengan pengertian itulah, digunakan istilah sistem tata alam.”


Terjemahan ini jauh lebih jelas. Yang diajarkan adalah, pada akhirnya, ultimately—tidak ada ‘sistem’, tidak ada satu ‘tataan’ untuk alam ini. Jadi kalau pun harus membicarakan ‘sistem tata alam’ (secara konvensional), maka konteksnya harus jelas bahwa tidak ada ‘sistem tata alam’-nya.

Ketika membicarakan kwetiau Medan, jelas tidak ada Medan di kwetiaunya. Istilah kwetiau Medan bisa dimengerti, dan kwetiau Medan bisa dibeli di mana-mana justru karena tidak harus ada Medan-nya.

Jadi, kwetiau Medan adanya di mana, dan REALLY – SEBENARNYA seperti apa?
… bersambung …

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upasaka Salim Lee. Februari 2019.

Baca Lebih Lanjut

Kata Majemuk Sanskerta ‘Tatpuruṣa’ dan Vajracchedikā | Potowa Dharma Center