Jelas bahwa kita hidup dalam dunia yang semakin rumit dan penuh tuntutan. Banyak aktivitas, banyak tekanan. Jadi, seringkali kita merasa semakin sulit untuk menangani semua tuntutan, semua informasi, semua jenis multitasking.
So in the same way that we know now that it is important for our physical and mental health to do physical exercise, it seems increasingly clearer that we also need to cultivate some hygiene of the mind, to have a steadier, calmer, clearer, more peaceful mind, that gives us the resources to deal with the ups and downs of life. So that is the very purpose of mind training or meditation.
Jadi, seperti halnya kita tahu sekarang bahwa olahraga penting bagi kesehatan fisik dan mental, tampaknya makin jelas bahwa kita juga perlu menumbuhkembangkan semacam pikiran yang higienis, untuk memiliki pikiran yang lebih mantap, lebih tenang, lebih jernih, lebih damai, yang memberikan kita sumber daya untuk menangani naik turunnya kehidupan. Jadi, itulah tujuan dari membudidayakan pikiran atau meditasi.
But it also is very essential to realize that it's not simply sort of to relax, to try to address our stress or to empty your mind, to get a break. We need a better motivation than that. We need to realize that by transforming ourselves, to knowing better our mind and training our mind, becoming a better human being, we can also better serve others and society. So when we train our mind, always remember it is in order to gain the capacity to bring about a better world, to relieve suffering, to bring happiness. For this being said, how do we begin?
Tapi juga sangat penting untuk tahu bahwa itu bukan sekedar rileks, untuk menghilangkan stres, atau untuk mengosongkan pikiran, untuk beristirahat sejenak. Kita butuh motivasi yang lebih baik daripada itu. Kita harus tahu bahwa dengan mengubah diri kita sendiri, dengan tahu lebih baik tentang pikiran kita dan dengan membudidayakan pikiran, kita menjadi manusia yang lebih baik, kita juga dapat melayani orang lain dan masyarakat dengan lebih baik. Jadi, saat membudidayakan pikiran kita, ingatlah selalu tujuannya adalah mengembangkan kapasitas untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, untuk menanggulangi penderitaan, untuk membawa kebahagiaan. Dengan demikian, bagaimana kita mulai melatihnya?
First of all adopt a reasonably balanced posture. Not too crooked, not too sleepy, not to tense. Then you can either keep your eyes open or half closed or if your mind is too busy you can close your eyes, convenient to you in the moment.
Pertama-tama, ambil postur tubuh yang seimbang. Tidak membungkuk, tidak terlalu loyo, tidak terlalu tegang. Lalu Anda bisa biarkan mata tetap terbuka atau setengah tertutup atau jika pikiran terlalu sibuk, Anda bisa menutup mata, apa pun yang nyaman untuk Anda saat ini.
Keeping this altruistic motivation in mind, the first thing we need to do is to have a mind that is more steady, that is calmer, more stable and more clear. Because right now it's a bit like a hectic restless monkey.
Mengingat motivasi altruistik ini dalam pikiran, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memiliki pikiran yang lebih mantap, yang lebih tenang, lebih stabil, dan lebih jernih. Karena saat ini pikiran kita seperti monyet penuh hiruk-pikuk yang gelisah.
So for that we will use putting our attention on something very simple at the same time quite subtle which is the coming and going of the breath. We don't see it, we hardly feel it coming through our nostrils. That is what to which we'll pay attention.
Jadi untuk itu, kita akan menambatkan perhatian kita pada sesuatu yang sangat sederhana dan juga sangat halus, yaitu keluar masuknya napas. Kita tidak dapat melihatnya, kita hampir tidak merasakannya melewati lubang hidung kita. Itulah yang akan kita perhatikan.
Now if you find you have been distracted which inevitably will happen: simply bring back the attention on the breath. Without further commentary "I'm not good, meditation is not for me" that again is a form of distraction. Bring back the mind.
Lalu jika Anda merasa terusik, di mana hal itu tidak terelakkan: cukup arahkan kembali perhatian pada napas. Tanpa berkomentar lebih lanjut, "Saya tidak cukup baik. Meditasi bukan untuk saya." Itu juga sejenis gangguan. Tambatkan kembali pikiran kita.
If thought comes, just let them pass. Don't try to stop them, they are there anyway. Let them pass like a bird passing through the sky without leaving a trace. If the inspiring (inhaling) and expiring (exhaling) become slower, just notice it. If it accelerates, notice it, don't interfere with it. Just keep your mind slowly breath after breath. Focused on the coming and going of the breath. Very simple, but that's a very fundamental way of training attentive presence.
Jika pikiran-pikiran bermunculan, biarkanlah berlalu. Jangan berusaha menghentikannya, bagaimanapun juga, pikiran-pikiran tersebut akan tetap ada. Biarkan pikiran-pikiran berlalu seperti burung yang terbang di angkasa tanpa meninggalkan jejak. Jika tarikan dan hembusan napas melambat, perhatikan saja. Jika napas memacu, perhatikan saja, jangan intervensi. Cukup tambatkan perlahan-lahan, napas demi napas. Fokuslah pada masuk dan keluarnya napas. Sangat sederhana, tapi itulah cara yang sangat mendasar untuk membudidayakan kehadiran yang penuh perhatian.
So let's do it together for a few moments.
Sekarang, mari kita lakukan bersama-sama untuk sejenak.
...
(Meditation)
(Meditasi)
As you breathe in and out and pay attention to the coming and going of the breath, maybe you could also try to see, what lies beneath the screen or the whirlpool of thoughts. Some kind of clear awareness, the freshness of the present moment. That is, the awareness is always at the source of every thought, recollection, memory, imagination, that luminous quality of the mind. That is simplicity of the mind, aware, simple, clear, vivid, and not so much encumbered with lots of mental construct. So as we breathe in and out, try to apprehend that pure, simple awareness that is always there.
Selagi menarik dan menghembuskan napas serta menambatkan perhatian pada masuk dan keluarnya napas, mungkin Anda juga bisa mencoba untuk memperhatikan apa yang ada di balik layar atau pusaran pikiran-pikiran. Semacam kesadaran yang jernih, segarnya kekinian. Yakni, kesadaran selalu merupakan sumber dari segala pikiran, kenangan, ingatan, imajinasi, kualitas cita yang benderang. Itulah keberadaan cita yang awas, lugas, jernih, jelas. Dan tidak begitu banyak terbebani oleh ciptaan-ciptaan mental. Jadi selagi menarik dan menghembuskan napas, coba rasakan kesadaran yang murni dan lugas, yang selalu ada.
...
(Meditation)
(Meditasi)
Then within that state of tranquility, of clarity, if some kind of quality were to manifest, obviously, it won't be directly hatred, jealousy, arrogant. Those are end products, of a lot of mental cogitation, construction, rumination, hopes, and fear. But within that simple, attentive presence, if something would be to manifest, which is attune to that state of simplicity, freedom, clarity, it's going to be loving kindness, compassion. (They all?) will naturally bloom out of that state.
Kemudian dalam keadaan ketenangan, kejernihan tersebut, jika kualitas tertentu muncul, tentunya tidak langsung berupa penolakan, iri hati, kesombongan. Itu semua adalah hasil akhir dari berbagai pemikiran, pembentukan, pertimbangan, harapan, dan ketakutan. Tapi dalam kehadiran yang sederhana dan penuh perhatian tersebut, jika sesuatu akan bermanifestasi, yang selaras dengan keadaan yang lugas, bebas, jernih, maka hal itu adalah cinta kasih (maitri), welas asih (karuna). Itu semua akan mekar dengan sendirinya dari keadaan demikian.
So now let's try to familiarize our mind with loving kindness. For that let's, begin with the easy subject or object of this loving kindness, like a beautiful innocent child for whom we only wish may the child be happy, be safe, prosper in life. May he or she see all his or her aspiration be fulfilled. May that child become a person who brings good throughout society.
So only wishing entirely well to this child. And let our mind, mental landscape be filled with this unconditional love for this child or for any other person towards whom this unconditional love springs forth effortlessly, naturally.
Jadi sekarang, mari membiasakan pikiran kita dengan cinta kasih. Untuk itu, mari kita mulai dengan subjek atau objek di mana cinta kasih dapat muncul dengan mudah, misalnya, anak kecil yang lucu dan polos di mana kita hanya ingin anak ini bahagia, selamat, sentosa hidupnya, agar semua aspirasinya terpenuhi. Agar anak ini menjadi pribadi yang membawa kebajikan untuk masyarakat. Jadi hanya sepenuhnya menginginkan yang terbaik untuk anak ini. Dan biarkan seluruh lingkup pikiran kita diliputi cinta kasih tanpa syarat terhadap anak ini atau terhadap siapa pun di mana cinta kasih tanpa syarat ini timbul dengan sendirinya, secara spontan.
...
(Meditation)
(Meditasi)
Then try to extend that. Why only that child? Why not other children? Why stop to children? Five years old? No! Extend to many other beings, first those who are close to you, who did you well, did well towards you. Then to strangers. And then to all sentient beings. Including animals of course. They are sentient beings that don't want to suffer, they want to live a happy life somehow. So just extend the circle of that loving kindness.
Kemudian coba diperluas. Mengapa hanya terhadap anak itu saja? Mengapa tidak terhadap anak-anak lainnya? Mengapa hanya terhadap anak-anak? Hanya yang berumur lima tahun? Tidak! Perluaskan itu terhadap makhluk-makhluk lainnya, pertama-tama, mereka yang dekat denganmu, mereka yang baik terhadapmu. Kemudian terhadap orang-orang yang tidak begitu Anda pedulikan. Lalu kemudian terhadap semua makhluk, termasuk binatang tentunya. Mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak ingin menderita, mereka pun ingin hidup bahagia. Jadi perluas lingkup cinta kasih tersebut.
...
(Meditation)
(Meditasi)
Then obviously, there are many people suffering in this world. So, when altruistic love, is alerted by empathy, sort of affective resonance, it tells you "This person is suffering, this animal is suffering." What happens is this unconditional benevolence of altruistic love turns into compassion. May I do everything that is possible and may I have the intention, the determination to remedy those suffering. May those suffering and their cause be eradicated. That's compassion. So now you can bring about the infinite suffering of the beings and completely fill them with love and compassion. May the root of suffering be eliminated. This powerful, courageous intention. Now this is how you can fill your mind with compassion and this is how we train in compassion. This is the meditation on compassion.
Kemudian, tentunya ada banyak orang yang menderita di dunia ini. Jadi, ketika cinta kasih altruistik ini disertai empati, semacam getaran afektif memberitahumu "Orang ini sedang menderita, hewan ini sedang menderita." Yang terjadi adalah cinta kasih altruistik yang tanpa syarat ini berubah menjadi welas asih (karuna). Agar saya melakukan apa pun yang bisa saya lakukan, dan agar saya memiliki niat dan tekad untuk menghilangkan penderitaan tersebut. Agar penderitaan dan sebab-sebab penderitaan hilang. Itulah welas asih (karuna). Jadi sekarang Anda bisa mengambil penderitaan tak terbatas dari para makhluk dan meliputi para makhluk sepenuhnya dengan cinta kasih dan welas asih. Agar sebab-sebab penderitaan hilang. Tekad yang penuh daya dan berani ini. Demikianlah cara untuk meliputi pikiranmu dengan welas asih dan itulah cara kita menumbuhkembangkan welas asih. Inilah meditasi welas asih (karuna).
...
(Meditation)
(Meditasi)
So, now you might say, "Well, but how can I extend that to people who have been mean to me, who has harmed me?" "It's just almost impossible." "How can I deal with them? How could I extend compassion to a bloody dictator who is harming countless sentient beings?" But remember, compassion is not a moral judgment. Of course, we can do moral judgment. Compassion is not excusing, condoning, this very harmful behavior. It's not minimizing the suffering that have been inflicted. Compassion is about uprooting the causes of suffering, whatever they are, wherever they are. And obviously a harmful person, a bloody dictator is an immense cause of suffering. So that cause is clearly an object for compassion.
Lalu, Anda mungkin berkata, "Baik, tapi bagaimana saya bisa memperluas itu terhadap orang-orang yang berbuat jahat kepada saya? Mereka yang menyakiti saya?" "Itu hampir tidak mungkin." "Bagaimana saya bisa menanganinya? Bagaimana welas asih saya bisa muncul terhadap diktator keji yang telah menyakiti makhluk-makhluk tak terhitung?" Tapi ingatlah, welas asih tidaklah menghakimi. Tentu saja, kita tetap bisa menilai. Welas asih bukan membenarkan, menghalalkan tindakan mencelakai. Itu tidak akan mengurangi penderitaan yang terlanjur timbul. Welas asih adalah sepenuhnya menghilangkan sebab-sebab penderitaan, apa pun itu, di manapun itu ada. Dan jelas, orang yang mencelakai, diktator keji adalah penyebab besar penderitaan. Jadi, penyebab penderitaan itulah objek welas asih kita.
May the hatreds, may the cruelty, may the indifference, may the greed, that have brought about those harmful actions, may that be eradicated. And that's in this way we certainly can extend a compassion to those harmful people. Just like this skillful physician seeing a mad, insane person. Will prevent person from harming and then see, "Is there a cure?" And if there is a cure, that's what a compassionate doctor should do. Not just bash down the harmful person.
Agar sikap memusuhi, agar kekejaman, agar sikap acuh tak acuh, agar keserakahan, yang telah menyebabkan tindakan-tindakan mencederai, agar itu menjadi hilang. Dengan demikian, kita pasti dapat memperluas welas asih kita terhadap orang-orang yang mencederai itu. Seperti halnya dokter ahli yang melihat orang gila akan mencegah orang itu agar tidak mencederai, kemudian menganalisa, "Apakah ada obatnya?" Dan apabila ada obatnya, itulah yang seyogianya dilakukan oleh dokter yang penuh welas asih. Bukan langsung menyerang orang yang mencederai itu.
So let's try, with this view, to extend compassion to those harmful people. And wish that through many ways to preventing the causes from arriving, to solving the cause when they have arrived. In many ways may true compassion eliminate the deepest cause of suffering in others mind and in this world.
Jadi mari kita coba dengan perspektif demikian, memperluas welas asih kepada orang-orang yang mencederai. Dan agar dengan berbagai cara, kita dapat mencegah munculnya sebab-sebab penderitaan hingga menghilangkan sebab-sebab penderitaan jika itu sudah muncul. Dengan berbagai cara, agar welas asih sejati menghilangkan penyebab utama penderitaan di pikiran para makhluk dan di seluruh dunia.
...
(Meditation)
(Meditasi)
Now if we feel a little bit discouraged by the magnitude of suffering all over, let's turn to celebrating, rejoicing the good deeds, the qualities, the achievement, that so many people have come to. People who work for peace, people who alleviate suffering all over the world, people who dedicate themselves to others, people who have brought about breakthroughs in science, in medicine, in all kinds of fields that are meant to relieve suffering.
Lalu, jika kita merasa agak berkecil hati karena banyaknya penderitaan di mana-mana, mari kita rayakan, turut bermudita atas perbuatan-perbuatan baik, kualitas-kualitas, pencapaian yang telah diraih oleh banyak orang. Orang-orang yang berupaya demi perdamaian, mereka yang meringankan penderitaan di seluruh dunia, yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain, yang melakukan terobosan dalam sains, dalam ilmu pengobatan, dalam semua bidang yang bertujuan meringankan penderitaan.
Let's rejoice from our heart. And this is a very uplifting and altruistic way to celebrate the good deeds of others. And it is also for us a source of inspiration and accruing our enthusiasm to continue ourselves to engage in beneficial activities. So let's celebrate with joy, others' qualities.
Mari kita turut bermudita dari lubuk hati kita. Dan inilah cara yang sangat menggembirakan hati dan altruistik untuk ikut merayakan perbuatan baik orang lain. Ini juga merupakan sumber inspirasi bagi kita, menumbuhkan antusiasme kita untuk terus melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Jadi, mari kita rayakan dengan sukacita, kualitas-kualitas orang lain.
...
(Meditation)
(Meditasi)
Now, regarding loving kindness, regarding compassion, regarding rejoicing in others' virtues, we cannot be partial. Only extend altruistic love to a close circle of friends and relatives. Only to those who treat us well. Of course this is so limited. It'd be like the sun decide to shine only to the few people and not the others. Doesn't work. It doesn't require more effort for the sun to shine on everybody. It's the same. And then of course if some people are closer to you in your life because of life's circumstances, then they will get more warm, more light. But it's not in a discriminative way, just because that's the circumstances of life. But still the sun shines on everyone. So with this image in mind, let's cultivate impartiality.
Lalu mengenai cinta kasih, welas asih, turut bermudita atas kebajikan orang lain, seyogianya kita tidak pilih kasih: hanya mengembangkan cinta kasih altruistik terhadap teman-teman dan kerabat dekat; hanya terhadap mereka yang memperlakukan kita dengan baik. Tentu saja, ini sangat terbatas. Itu seperti matahari yang hanya menyinari beberapa orang, tapi tidak menyinari orang-orang tertentu. Tidak seperti itu! Matahari tidak butuh upaya tambahan untuk menyinari semua orang. Seperti itu. Lalu tentu saja jika ada orang-orang yang lebih dekat denganmu karena kondisi tertentu, mereka akan mendapatkan kehangatan lebih, cahaya lebih. Tapi bukan dengan cara yang diskriminatif, namun karena kondisi-kondisi kehidupan. Tapi matahari tetap menyinari semua orang. Jadi dengan gambaran seperti ini dalam pikiran, mari tumbuhkembangkan sikap tidak membeda-bedakan (upeksha).
All sentient beings without exception can bask in the light of altruistic love and compassion. And that includes all sentient beings. I mean, as well as humans and eight million other species who are of course in this world. We can't forget any sentient being.
Semua makhluk tanpa terkecuali dapat merasakan cahaya cinta kasih dan welas asih altruistik. Dan itu mencakup semua makhluk. Maksud saya, selain manusia, juga delapan juta spesies lainnya yang ada di dunia ini. Kita tidak boleh abaikan satu makhluk pun.
...
(Meditation)
(Meditasi)
So at the end of a session of meditation, first we might rest a little bit in the simplicity of mind again without too many concepts, without bringing too many ideas in the mind, rest in that clear simplicity of the mind for a few moments.
Jadi, di akhir sesi meditasi, pertama-tama kita dapat bersemayam sejenak dengan semata-mata ‘hadir,’ tanpa terlalu banyak konsep, tanpa terlalu banyak gagasan dalam pikiran, bersemayamlah beberapa saat dengan keberadaan cita yang lugas dan jernih itu.
...
(Meditation)
(Meditasi)
And you remember that we started with the essential motivation to perfect ourselves through mind training and meditation so as to become, to contribute to the well-being of others. Likewise, at the end, we conclude with dedicating all the goodness we might've generated through this short session of meditation. Through this merit, through this goodness, may the immediate difficulties and suffering of beings be alleviated.
Dan Anda mungkin ingat bahwa kita memulai sesi ini dengan motivasi dasar untuk menyempurnakan diri melalui budidaya dan meditasi, untuk bersumbangsih terhadap kesejahteraan makhluk lain. Begitu pula di akhir sesi, kita simpulkan dengan mendedikasikan semua kebaikan yang kita lakukan melalui sesi singkat meditasi ini. Melalui potensi-potensi positif ini, melalui kebaikan ini, agar para makhluk terbebas dari kesulitan dan penderitaan yang sekarang sedang mereka alami.
And in the long term, may the mental delusion, the confusion, the ignorance that brings about all the other types of suffering be completely eradicated so that beings can gain inner freedom, inner peace, and unconditional love and compassion. So dedicate to that end. Clearly. Like snowflakes falling into a lake that will remain as long as the lake remains.
Dan untuk jangka panjang, agar delusi mental, kebingungan (moha), kesalahpengertian (avidya), yang menyebabkan semua jenis penderitaan lainnya – sepenuhnya musnah, sehingga para makhluk bisa mendapatkan kebebasan dan kedamaian dari dalam, serta mengalami cinta kasih dan welas asih yang tanpa syarat. Jadi dedikasikan untuk tujuan itu, dengan jelas. Seperti halnya butir salju yang jatuh ke danau, itu akan tetap ada selama danau tersebut ada.
...
(Dedication)
(Dedikasi)
Thank you, just a little further piece of advice. It says in the teachings, that it is better to engage in short but repeated sessions of meditation, regularly day after day, rather than from time to time spending ten hours with intense effort and then leaving many, many days without doing anything. Change has to come through regular training, regular exposure, and modern science will tell you that's also how, through neuroplasticity, the brain will change with regular repeated training. So be perseverant. And be full of joy, enthusiastic as the ideal of becoming a better human being to better be at the service of others. That's the best way to fulfill both your own aspiration and that of others. So train your mind, free your mind.
Terima kasih. Sedikit nasihat. Dikatakan dalam ajaran-ajaran, bahwa lebih baik melakukan sesi meditasi yang singkat secara rutin, teratur, setiap hari daripada sesekali bermeditasi sepuluh jam dengan usaha yang intens, lalu melewatkan banyak hari tanpa melakukannya sama sekali. Perubahan hanya dapat terjadi melalui praktik yang teratur, pembiasaan diri yang teratur, dan sebagaimana menurut ilmu pengetahuan modern, begitulah sifat plastisitas yang memungkinkan otak untuk berubah, melalui praktik yang rutin dan teratur. Karena itu, gigihlah. Dan bersukacitalah, berantusias untuk menjadi manusia yang lebih baik, agar bisa melayani orang/makhluk lain dengan lebih baik. Itulah cara terbaik untuk mewujudkan aspirasimu sendiri dan aspirasi makhluk lain. Jadi, budidayakanlah pikiranmu, bebaskanlah pikiranmu.
***
Sumber: https://youtu.be/Ui8VEOd_ZKs; https://youtu.be/yhqIcuwyHcs
Dipublikasikan dengan izin dari
Karuna-Shechen, Humanitarian Projects in the Himalayan Region.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Maret 2018.






