Jadi, ada guru-guru dengan latar belakang budaya tertentu, yang mengajarkan apa yang mereka persepsikan sebagai ajaran sejati Buddha. Tetapi ada guru lain dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, dan mereka juga mempunyai persepsi sendiri tentang bentuk ajaran mereka, doktrin mereka, mereka tidak melihatnya dari sudut pandang kesinambungan historis, tetapi mereka melihat itu sebagai ajaran langsung dari Buddha. Dan karena itu, kita orang-orang Barat dihadapkan pada persepsi yang berbeda-beda ini, yang tentunya tidak selaras satu sama lain, dan ada konflik-konflik tertentu. Jadi, pertanyaannya adalah “Bagaimana kita mengatasi hal itu?” Satu cara adalah memilih salah satu tradisi tersebut dan mengatakan “Oke, inilah yang benar” dan secara otomatis membuang tradisi-tradisi lainnya, “Tradisi-tradisi lainnya semuanya salah, jadi saya mengikuti guru saya yang mengatakan ini dan itu, ini yang benar, yang lainnya semuanya salah.” Saya rasa itu sangat disayangkan.
Perumpamaan yang sering saya gunakan adalah berbagai tradisi Buddhadharma yang berbeda-beda ini bagaikan bunga-bunga beraneka warna, dan gambaran tiga dimensi dari semua bunga-bunga yang berbeda-beda lalu menjadi dua dimensi: hitam dan putih, benar dan salah. Titik. Di sisi lain, dan ini juga jalan buntu lainnya – yakni mencampur-adukkan semuanya menjadi satu tanpa pandang bulu, seakan-akan mengambil semua warna yang berbeda-beda ini dan memasukkannya ke dalam blender. Hasilnya lalu jadi abu-abu. Warna-warnanya menjadi hilang. Jadi, saran saya adalah: bisakah kita menerima, bisakah kita memperkenankan masing-masing warna sebagaimana adanya dan membiarkan itu semua berdampingan? Cara untuk itu, menurut pemahaman saya, adalah dengan melihat itu berdasarkan periode waktu tertentu dalam sejarah Buddhadharma: ini gagasan yang kita gunakan, ini konsep mengenai Buddha yang mereka miliki, ini jenis praktik yang mereka jalankan. Dan dalam konteks itu, ini sangat berarti. Dan ketika berlanjut ke periode sejarah Buddhadharma berikutnya, ada ajaran yang berbeda-beda, praktik yang berbeda-beda, konsep mengenai Buddha yang berbeda-beda. Sekali lagi, dalam konteks tersebut, itu sangat berarti. Kita bisa memperkenankan dua atau lebih pandangan ini berdampingan, tanpa harus memutuskan benar atau salah, tetapi dengan mengetahui latar belakang sejarah Buddhadharma, yakni tahu: ini Buddhadharma permulaan, ini Buddhadharma 500 tahun kemudian, ini Buddhadharma 1500 tahun kemudian. Dengan begitu, tidak ada lagi konflik.
Bhikkhu Analayo: Satu cerita lagi?
Evan Henritze: Silakan …
Bhikkhu Analayo: Akhir-akhir ini saya memiliki pengalaman dengan seorang bhikkhuni dari Myanmar. Bhikkhuni ini menjalankan tradisi Goenka dan dia juga belajar Abhidhamma dengan guru lainnya. Di antara kedua tradisi ini, dia mengalami konflik tentang sesuatu yang disebut Haddaya Vatthu, elemen jantung, jadi dia menulis kepada saya. Itu suatu konflik yang sangat besar baginya. Tradisi Abhidhamma mengatakan Haddaya Vatthu adalah jantung; tradisi Goenka mengatakan Haddaya Vatthu adalah ulu hati. Jadi pertanyaan bhikkhuni tersebut dan orang-orang di tradisi itu: “Siapa yang benar?” “Siapa yang salah?” “Bagaimana saya menangani hal ini?” Jadi, saya gunakan itu sebagai uji coba untuk jenis metodologi yang saya ajukan ini. Jadi, pertama-tama, dari perspektif sejarah, Haddaya Vatthu tidak diajarkan dalam Buddhadharma awal. Haddaya Vatthu hanya muncul di tradisi Theravada di waktu yang lumayan belakangan. Jadi ini sedikit mengurangi desakan seperti “Jika saya tidak benar-benar tahu apa itu Haddaya Vatthu, bagaimana saya dapat Tergugah? Segalanya tergantung pada hal ini.” Haddaya Vatthu adalah konsep yang muncul di masa tertentu, tetapi ada praktisi-praktisi yang tidak menggunakan konsep ini dan mereka tetap dapat Tergugah, seperti Buddha sendiri. Lalu kita tidak menjadi fundamentalis dan berkata, “Keduanya salah karena Haddaya Vatthu tidak diajarkan oleh Buddha.” Itu juga jalan buntu lainnya. Tidak demikian. Haddaya Vatthu adalah suatu konsep yang sangat bermakna dalam ulasan Abhidhamma, meskipun sesungguhnya tidak ada dalam Kitab Kanon Abhidhamma. Tapi hanya ada dalam ulasan Abhidhamma dan kita bisa membuktikannya lewat penelitian modern, karena kita tahu tentang itu dari orang-orang yang pernah melakukan transplantasi jantung. Sungguh menarik bahwa orang-orang yang menerima transplantasi jantung dapat merasakan emosi-emosi terkait dengan pendonor jantung. Jadi ada semacam ingatan emosional. Saya tidak tahu persis apa sebutannya, tetapi sepertinya ada sesuatu yang benar-benar terbawa bersama fisik jantung. Jadi adalah ajaran yang bermanfaat dalam ulasan Abhidhamma bahwa Haddaya Vatthu adalah jantung secara fisik.
Sekarang, beralih ke tradisi Goenka-ji. Pendekatan Goenka-ji, yang beliau ajarkan berdasarkan apa yang dipelajari dari gurunya U Ba Khin, adalah tentang apa yang disebut “vibrasi.” Dan hal ini sangat berhubungan dengan energi tubuh. Jadi, untuk energi tubuh, ulu hati memang merupakan titik pusat, tepatnya di sanalah dalam tradisi Vipassana yang khusus ini, kita rasakan titik temu antara tubuh dan pikiran. Jadi, jika kita melihatnya dari kerangka tradisi ini, sangat tepat menganggap Haddaya Vatthu adalah ulu hati. Dan sungguh indah menyaksikan bhikkhuni dari Myanmar dan teman-temannya, seluruh situasi, seluruh ketegangan menghilang. Seketika mereka dapat melihat bahwa tidak ada kebenaran mutlak tentang Haddaya Vatthu, tapi ada konteks-konteks tertentu di mana saya dapat menggunakan konsep ini secara berarti dan saya dapat menggunakan itu dalam konteks yang berbeda-beda tanpa perlu adanya konflik. Kita tidak perlu memutuskan tafsiran mana tentang Haddaya Vatthu yang benar. Ada konteks di mana pengertian ini benar, dan ada konteks lainnya di mana pengertian itu benar.
Evan Henritze: Saya sangat menghargainya karena ada masa-masa tertentu dalam praktik saya sendiri, dan tanpa membicarakannya dengan orang lain, di mana kita memiliki pengalaman dan kita mencari suatu peta, suatu peta konseptual, semacam cerminan atas pengalaman kita. Dan lalu, ketika kita tidak menemukannya, mungkin dalam tradisi tertentu yang kita jalankan, mungkin ada aspirasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Tetapi tanpa mengetahui konteks pemetaan atau sistem yang berbeda-beda, kontemplasi tersebut bisa jadi tambah membingungkan.
Bhikkhu Analayo: Betul sekali!
Evan Henritze: Jadi apa yang saya tangkap dari pembahasan Bhante adalah betapa pentingnya menghargai keseluruhan konteks dari sudut pandang tertentu.
Bhikkhu Analayo: Betul sekali!
Evan Henritze: Ya, dan ini benar-benar kembali pada upaya-kausalya (upaya yang terampil), bahwa motivasi yang mendasarinya adalah upaya yang terampil dan tetap menghargai kemajemukan dari pendekatan tersebut.
Bhikkhu Analayo: Inilah pentingnya menghargai kemajemukan. Itu seperti kita dapat menerima bahwa ada Buddha yang berbeda-beda. Jadi, bagi kita orang Barat yang berlatar belakang pendekatan ilmiah, yang menarik adalah Buddha historis, Buddha yang dapat direkonstruksi, yang merupakan fokus utama karya saya yakni studi perbandingan Buddhadharma awal (Dhamma-mula), apa yang kemungkinan besar diajarkan oleh Buddha historis. Tetapi sekali lagi, agar ini tidak mengarah ke suatu bentuk fundamentalisme, kita harus mengerti bahwa tradisi Buddhadharma lainnya memiliki versi Buddha yang berbeda-beda. Misalnya, jika saya mempunyai seorang guru … kita kembali ke Myanmar. Jadi bagi guru-guru bhikkhuni Myanmar yang mengajarkan Abhidhamma, Buddha mereka adalah Buddha yang mengajarkan Abhidhamma, dan sepenuhnya percuma jika kita mendatangi salah satu dari bhikkhu Sayadaw dan berkata: “Tidak, Buddha tidak mengajarkan Abhidhamma.” Mereka tidak akan mengerti apa yang engkau katakan, karena bagi mereka, Buddha mereka dan lagi pula semua Buddha, hanyalah konstruksi mental yang kita ciptakan. Buddha mereka adalah Buddha yang mengajarkan Abhidhamma. Buddha yang pergi ke Alam Tavatimsa untuk mengunjungi ibunya dan di saat itulah Buddha mengajarkan Abhidhamma.
Dan lalu ada Rinpoche dari Tibet; Buddha bagi beliau adalah Buddha yang pertama-tama mengajarkan Sutra Buddha Avatamsaka. Dan ketika Buddha tahu saat itu banyak orang yang tidak mengerti Sutra Buddha Avatamsaka, beliau kemudian mengajarkan Hinayana. Sekali lagi, jika kita melihat latar belakang historis dan mencengkeramnya terlalu kuat, maka akan ada pertentangan. Yang saya sarankan adalah terimalah ini semua sebagai konsepsi yang berbeda-beda tentang Buddha. Sepenuhnya saya berhak mempunyai gagasan tentang Buddha historis versi saya sendiri, tapi saya bisa bersikap sedemikian rupa sehingga tidak menciptakan konflik dengan versi Buddha-Buddha lainnya.
Ada satu kisah lagi yang ingin saya ceritakan. Ini tentang sewaktu saya tinggal di Sri Lanka, saya memiliki pusat meditasi di sana; selain menjalankan pusat meditasi, kami juga melakukan beberapa bakti sosial. Di Sri Lanka banyak orang miskin, jadi kami melakukan berbagai proyek untuk membantu orang-orang. Dan ada seorang wanita, dia punya banyak anak, dan suaminya entah meninggalkan keluarganya atau telah meninggal dunia. Dan dia sedang dalam kesusahan untuk menafkahi anak-anaknya. Dia memiliki keahlian mengukir kayu, jadi kami menyiapkan dana, membeli peralatan-peralatan dan juga … kayu khusus yang dibutuhkannya dan dia mulai membuat ukiran kayu dan dapat menunjang biaya hidup anak-anaknya.Sebagai ungkapan terima kasih, dia datang ke pusat meditasi dan membawakan saya sebuah patung Buddha. Patung Buddha dari kayu yang dibuatnya sangat indah, tetapi patung tersebut memiliki tonjolan usnisha di ke palanya. Mungkin saya harus menjelaskan sedikit tentang usnisha, lalu kembali ke cerita saya. Usnisha merupakan perkembangan dari sejarah seni India. (Sementara) di sutta-sutta awal, sangat jelas bahwa Buddha memiliki tampilan fisik yang tidak berbeda dengan orang biasa. Dan salah satu dari 32 tanda keagungan Buddha adalah beliau memiliki usnisha, Buddha memiliki kepala yang bulat seperti serban, tetapi dalam seni India klasik dan ketika Buddha mulai direpresentasikan dalam seni pahat atau lukisan, ada kecenderungan untuk menggambarkan orang-orang suci itu berambut dan biasanya disanggul; selain [untuk] Buddha, representasi untuk para Jain juga dibuat begitu. Tentang para Jain, yang kita tahu adalah sebenarnya mereka mencabut rambut mereka, jadi tidak mungkin rambut mereka dapat tumbuh. Para Jain masih digambarkan berambut panjang, biasanya diikat dan disanggul ke atas. Lalu ciri khas representasi Buddha dalam karya seni ini, dalam tradisi-tradisi belakangan kemudian dianggap Buddha memiliki usnisha di kepalanya, semacam tonjolan daging atau tulang. Jika kita lihat patung Buddha zaman sekarang dari berbagai tradisi, kita akan melihat ada sesuatu yang menonjol di kepala Buddha. Jadi dengan pemahaman historis saya, dan sekarang kita kembali lagi ke cerita saya di Sri Lanka. Saya tidak terbiasa dengan tonjolan usnisha. Jadi, saya berkata kepada wanita tersebut: “Saya menghargai patung Buddha ini, tapi bisakah Anda menghilangkan tonjolan usnisha-nya?”
Dia berkata: “Ya, tidak masalah,” kemudian dia mengambil peralatannya dan mulai menghilangkan usnisha tersebut, dan saat itu saya hanya mengamati apa yang sedang dia kerjakan. Di pusat meditasi ini, saya satu-satunya yang berkulit putih dan yang lainnya semuanya orang Sri Lanka, jadi ruangan itu dipenuhi orang-orang Sri Lanka dan wanita itu langsung menghilangkan tonjolan tersebut. Dan selagi dia mengerjakannya, bagi saya patung tersebut semakin terlihat sebagai Buddha dan saya sangat senang. Tapi ketika dia selesai mengerjakannya, saya mendongak dan melihat ke arah orang-orang Sri Lanka. Mereka terlihat sangat sedih dan bermuka pilu, salah satu dari mereka berkata: “Bhante, patung ini bukan lagi patung Buddha.” Jadi Anda paham maksudnya? Persoalannya adalah, bagi mereka, usnisha di kepala merupakan bagian yang sangat penting dari seorang Buddha, dan dengan menghilangkannya, saya mengubah patung Buddha yang indah ini menjadi hanya seorang bhikkhu. Patung ini bukan lagi Buddha bagi mereka. Lalu, apakah saya bisa menyatakan ‘saya benar’ dan ‘mereka salah’? Tentu saja tidak. Mereka adalah mayoritas, jadi secara demokratis, sayalah yang salah. Jadi bagi saya sendiri, jika itu patung Buddha, saya berhak menghilangkan tonjolan usnisha. Tidak ada yang dapat menentang itu, tetapi saya rasa saya tidak berhak mengatakan ini satu-satunya wujud Buddha yang semestinya, atau bahwa Buddha dengan tonjolan usnisha ini hanyalah karya seni India dan tidak ada artinya. Anda mengerti maksud saya? Dengan menerima dan memperkenankan representasi visual Buddha yang berbeda ini, semua konsep Buddha yang berbeda-beda dapat saling berdampingan tanpa perlu ada penilaian mengenai itu. Saya pilih salah satu yang cocok buat saya, tetapi tidak berarti saya harus meremehkan yang lainnya.
Evan Henritze: Kutipan Bhante ini sangat saya sukai: “Menghormati semua tradisi Buddhadharma dengan keunikannya dan nilai ajarannya masing-masing, merupakan landasan yang sangat diperlukan untuk berkembangnya keseimbangan mental dan ketidakterikatan, yang merupakan hasil dari mempraktikkan salah satu tradisi tersebut.” Dan saya rasa itulah yang ingin Bhante sampaikan dari cerita di atas, yakni dengan mampu menerima gagasan orang lain tentang versi Buddha menurut mereka, kita menjalankan upaya-kausalya (upaya yang terampil), kita mempraktikkan ketidakterikatan dan mempraktikkan keseimbangan mental.
Bhikkhu Analayo: Ya, kita mempraktikkan sati (hening, heneng, eling, waspada), kita mempraktikkan upekkha (hati yang tidak bias atau membeda-bedakan), kita mempraktikkan karuna (welas asih). Semuanya!
Evan Henritze: Dan saya juga ingin tahu, bahkan dalam proses untuk mengerti konteks dari konsep tertentu dalam suatu tradisi, saya ingin tahu apakah ada praktik di mana kita bisa menyadari munculnya rintangan dan kita mengalaminya sebagai suatu kesempatan untuk berlatih dengan itu, bahkan [juga berlatih] dalam proses [saat] membandingkan.
Bhikkhu Analayo: Betul sekali! Selalu ada jalan tengah, di mana kita tidak semata-mata mencampur-adukkan semuanya, kita juga tidak menutup mata terhadap kekurangan dari tradisi Buddhadharma tertentu, tetapi kita menempatkannya pada level yang sama. Kita tidak terperangkap dalam kondisi-kondisi mental yang kita sendiri ingin atasi. Jadi, inilah praktiknya, tentang sati (hening, heneng, eling, waspada), upekkha (hati yang tidak bias atau membeda-bedakan), pengertian. Jadi, kita tidak semata-mata berpura-pura bahwa semuanya sama dan menutup mata, tetapi ada suatu kelapangan sati yang memungkinkan kita memposisikan segala sesuatu. Beberapa hal, misalnya Buddha tanpa tonjolan usnisha di kepalanya, terasa akrab di hati saya, dan Buddha dengan tonjolan usnisha terasa jauh, tetapi keduanya bisa berdampingan di lingkup yang sama, lingkup kesadaran yang sama.
Evan Henritze: Kadang ada anggapan di dunia Barat bahwa ada tujuan untuk memadukan dan ada anggapan bahwa kita dapat memadukan berbagai silsilah dan berbagai gagasan untuk menemukan sesuatu yang lebih menyeluruh dan lebih lengkap. Apakah Bhante dapat memberikan pendapat tentang hal ini, gagasan tentang perpaduan. Dan apakah ada yang disebut paduan yang keliru? Mungkin ada cara di mana kita bisa memadukan secara internal untuk diri kita sendiri seperti yang kita bicarakan sekarang. Tetapi juga ada cara lain di mana kita punya jawaban yang sempurna atau suatu paduan dalam cara tertentu, apakah Bhante bisa sedikit berkomentar tentang hal ini.
Bhikkhu Analayo: Ya, saya rasa apa yang Anda katakan sama dengan yang saya rasakan, yakni ada paduan pribadi untuk diri kita sendiri, tetapi mengatakan ini satu-satunya cara untuk menyatukan semuanya, saya agak skeptis. Dan inilah yang kita bicarakan, yang saya sampaikan sebelumnya mengenai pandangan buntu lainnya, dikotomi: hitam dan putih, benar dan salah; dan pandangan buntu satunya lagi adalah memasukkan semuanya ke dalam blender dan mencampur-adukkannya menjadi satu dan yang kita dapatkan adalah abu-abu. Saya rasa hingga tahap tertentu, itu juga dikarenakan kurangnya rasa hormat terhadap tradisi-tradisi yang ada. Dan saya rasa saya sudah cukup lama tinggal di Asia. Saya tahu itu yang terjadi, dan itu merupakan kelanjutan dari kesombongan kolonialisme, anggapan bahwa orang Barat selalu tahu lebih banyak; sekarang mereka bertemu Buddhadharma dan mereka merasa tahu jauh lebih banyak, dan kita di Barat akan menciptakan Buddhadharma yang sesungguhnya! Kita akan membuang semua takhayul yang ada dan hal-hal lainnya dan ini akan menjadi Buddhadharma yang sesungguhnya; dan orang-orang dungu tersebut selama 2500 tahun, tidak mengerti hal ini. Saya agak melebih-lebihkan untuk menunjukkan sisi buntu lainnya dan saya rasa ini juga bukan keadaan pikiran yang bajik!
Itu pendapat saya pribadi. Pendapat saya pribadi adalah kita mempunyai sintesis (paduan) untuk diri kita sendiri, tetapi kita memperkenankan tradisi yang berbeda-beda ini sebagaimana adanya dan menghargai semuanya berikut seluruh konteks budaya, sosial, perkembangan sejarah, daripada mencoba mencampur-adukkannya, mencampur-adukkannya menjadi satu, menjadi suatu bentuk Buddhadharma yang menurut kita ‘paling baik’ sebagaimana yang terjadi sekarang di abad ke-21 di Barat. Buddhadharma Barat, meskipun saya juga merupakan bagian dari Buddhadharma Barat, tapi Buddhadharma Barat hanyalah salah satu bentuk Buddhadharma, dan pernyataan bahwa Buddhadharma Barat merupakan bentuk penyesuaian yang paling sempurna dari berbagai tradisi, sekali lagi merupakan sumber timbulnya berbagai polemik, merupakan sumber munculnya fundamentalisme, merupakan sumber dari sikap merendahkan, yang dapat mengarah pada banyak hal negatif. Jadi, saya pribadi lebih condong memperkenankan tradisi yang berbeda-beda hidup berdampingan di mana pun itu berada.
Evan Henritze: Apakah Bhante pernah menjalankan tradisi-tradisi lain dan apakah sebelumnya Bhante memiliki pengalaman tentang praktik yang kita bicarakan, tentang sintesis (paduan) pribadi dan pemahaman pribadi?
Bhikkhu Analayo: Saya sangat tertarik dengan tradisi Tibet, saya belajar dan menjalankan Dzogchen dengan Tulku Urgyen, Tulku Urgyen di Nagi Gompa di Nepal, dan waktu itu saya adalah bhikkhu Theravada. Saya masih ingat ketika beliau memberikan petunjuk yang disebut Pointing-out Instruction (Petunjuk Langsung), ketika saya berjalan ke luar, beliau melihat ke arah saya. Waktu itu yang hadir sekitar 300 orang, dan beliau sepertinya melihat ke arah saya: “Siapakah bhikkhu ini?” Dan ya, inilah yang saya juga coba jelaskan dalam artikel tentang perbedaan citta Vipassana dengan citta Dzogchen. Jadi saya merasa jenis sati yang dipraktikkan dalam tradisi Dzogchen sangat menolong dan khususnya membantu untuk mengarahkan saya pada praktik sunnata (shunyata), tetapi ada bagian dari konsep Dzogchen yang menegaskan ada sesuatu yang tidak berubah-ubah. Dan hal ini menurut saya tidak begitu membantu, karena praktik saya adalah berdasarkan kerangka sutta-sutta awal (Dhamma-mula), dan sangat jelas bahwa tidak ada yang permanen, termasuk ‘yang mengetahui,’ kesadaran, vinnana (vijnana), apa pun sebutannya. Itu adalah suatu proses yang berubah-ubah. Dan saya tidak ingin meninggalkan itu karena saya rasa itu sangat penting dalam jalan pada pembebasan seperti yang diajarkan dalam Buddhadharma awal, tetapi dalam konteks tersebut, saya dapat menempatkan ajaran Dzogchen dan menggunakannya, tetapi disertai pengertian bahwa Rigpa ini berubah-ubah. Dan saya rasa itu berjalan dengan sangat, sangat baik dan saya tetap menghargai tradisi Dzogchen dan tidak berpura-pura bahwa konsep yang mendasari Dzogchen sudah ada dalam Buddhadharma awal, karena permasalahan lain akan timbul ketika kita menyatakan rekonstruksi historis Buddhadharma versi kita adalah satu-satunya yang benar. Ketika kita membuat pernyataan, ketika kita mengambil posisi seperti ini, maka semua orang yang merasakan manfaat dari tradisi Buddhadharma yang berkembang belakangan, seolah-olah terpaksa berpura-pura bahwa itu sudah diajarkan oleh Buddha sendiri (di masa Buddha). Itu merupakan sumber utama kebingungan dan bahkan kadang-kadang bisa disebut ketidakjujuran. Yang jelas, ada suatu kesinambungan, ada bagian-bagian tertentu dalam sutta-sutta yang menjurus ke suatu arah tertentu, tetapi konsep-konsep tertentu jelas sekali baru muncul di masa kemudian, dan kita tahu itu dari rekonstruksi akademis sejarah pemikiran Buddhadharma. Jadi berpura-pura mengatakan ini sudah diajarkan di masa Buddha … dan kita melakukan itu melalui proses ‘memilih-milih.’ Kita memilih beberapa bagian (dari sutta), mengabaikan beberapa bagian lainnya, kemudian membentuk gagasan kita, dan berkata: “Ini, apa yang saya praktikkan sudah diajarkan oleh Buddha!” Saya rasa itu bukan gebrakan yang bermanfaat.
Evan Henritze: Bagi Bhante yang sangat menghargai Buddhadharma awal (Dhamma-mula), ada cara di mana kita dapat menghargai yang lainnya, dengan mengakui bahwa pemikiran tertentu mungkin muncul belakangan, dan memperkenankan itu, menerima itu sebagai sesuatu yang sama-sama dapat diterima, tanpa harus membuktikan bahwa itu berasal dari Buddhadharma awal.
Bhikkhu Analayo: Betul! Betul sekali! Itu maksud saya. Ada kecenderungan untuk mengatakan “Buddhadharma awal itu baik tapi yang berkembang belakangan itu tidak baik.” Mengapa harus begitu? Maksud saya, Buddha tidak menggunakan pesawat terbang, lalu apakah kita harus berhenti menggunakan pesawat terbang? Dan apakah kita harus menciptakan argumen seperti: “Ya, tapi orang-orang bisa terbang pada waktu itu dan ada Vinaya-nya, dan jika saya tidak bisa terbang maka saya dapat menggunakan pesawat terbang.” Ini sama sekali tidak masuk akal!
Ada suatu kisah singkat yang ingin saya ceritakan, yakni ketika saya masih kecil, saya sangat tertarik pada evolusi spesies. Jadi saya selalu pergi dari museum ke museum di kota dan kami melakukan anjangkarya untuk mencari fosil. Ketika berulang tahun, anak-anak lainnya mendapatkan berbagai macam mainan, tapi yang saya inginkan adalah replika dari Archaeopteryx. Archaeopteryx adalah evolusi dari reptil menjadi burung. Dan saya begitu terkesima dengan gagasan bahwa reptil-reptil kecil ini, karena ingin menghindari predator jadi mereka mulai memanjat pohon. Lalu agar dapat pindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan aman, mereka mulai melompat dari satu cabang ke cabang lainnya. Dan ketika mereka melompat, perlahan-lahan, perlahan-lahan mulai tumbuh semacam sayap dan inilah asal muasal terjadinya burung. Jadi, pemahaman yang membuat saya terkesima ini, sesungguhnya mendasari banyak karya akademis saya. Saya berpikir “Saya ingin mengerti, bagaimana itu bisa terjadi?” Tetapi, ini tidak perlu mengikutsertakan penilaian atau penghakiman. Saya tidak perlu berkata: “Reptil adalah binatang paling purwa, semua burung lainnya adalah generasi selanjutnya.” Ini konyol. Maksud saya, burung itu sangat indah. Apakah saya tidak bisa memperkenankan burung dan reptil apa adanya tanpa memberikan penghakiman, atau seperti yang kita bicarakan sebelumnya, berpura-pura bahwa burung adalah reptil, agar itu dapat diterima. Dulunya reptil, berasal dari reptil, tapi bukan lagi reptil. Dan saya tidak harus menganggap reptil lebih tinggi dan burung lebih rendah, hanya karena yang satu lebih awal dan yang lainnya muncul belakangan. Saya dapat memperkenankan itu berdampingan.
Evan Henritze: Ya, saya menyukai pemikiran bahwa jika kita tertarik pada satu tradisi yang mungkin kita belum apresiasi yang menakjubkan tentang keindahannya, karena melihat benang merah keberadaannya, dan sepertinya saya mendengar Bhante mengatakan bahwa ada cara di mana kita dapat mundur selangkah dari konsepsi-konsepsi kita sendiri dan … yakni proses menguraikan konsepsi kita sendiri, ada keindahannya tersendiri di sana.
Bhikkhu Analayo: Ya, ya. Diutarakan dengan sangat baik! Persis seperti yang saya bicarakan. Ada saat-saat di mana kita terperangkap karena kita semua memiliki ego, kita mengidentifikasi diri kita dengan tradisi yang kita anut, tapi itulah gunanya sati, di mana kita rasakan dan kita tahu: “Sekarang, saya lagi mencengkeram dan menghakimi,” dan mungkin kita dapat kembali pada kelapangan yang tidak menghindar, kita melihatnya secara langsung, kita tahu ini adalah Buddhadharma yang berkembang belakangan, ini Buddhadharma awal, tapi tidak memberi penilaian, dan tidak mulai berpikir “Saya benar, mereka keliru,” karena itu sangat tidak bermanfaat dan tidak terampil.
Evan Henritze: Ya, saya sempat berpikir, kadang-kadang kita dilandasi rasa takut: ketakutan ingin benar atau sejenisnya.
Bhikkhu Analayo: Betul, betul sekali! Ingin benar. Dan itulah pentingnya sati, itulah aspek sati yang begitu penting, pandangan yang luas dan kemampuan untuk hidup dengan apa yang disebut Disonansi Kognitif – tidak berpikir bahwa karena saya melakukan seperti ini, maka semua orang juga harus melakukan hal yang sama. Dan jika mereka melakukan hal yang berbeda, agar mereka sepaham dengan saya, saya berpura-pura menganggap kita semua sama, semua orang melakukan hal yang sama. Itu hanyalah cara lain untuk menguatkan pemikiran bahwa saya benar. Tetapi jika kita bisa tidak mencengkeram dan memperkenankan semuanya berdampingan apa adanya, dan ketika muncul pemikiran “saya yang paling benar,” kita tahu dan menyadarinya, itu benar-benar mengubah situasi dan kita dapat memperkenankan aneka kembang Buddhadharma yang berbeda-beda di Barat, untuk tumbuh dan berkembang sesuai caranya masing-masing, memperkenankannya berdampingan, tanpa menganggap yang satu lebih baik, yang lainnya kurang, dan tidak menciptakan diskriminasi, dogmatisme, fundamentalisme. Saya rasa tidak harus begitu.
Evan Henritze: Luar biasa!
***
Diterjemahkan oleh tim Potowa Center dengan izin dari Barre Center for Buddhist Studies.
Mei 2017.






