Transkripsi

Ke Hulu Berakit-Rakit, ke Tepian Berenang-Renang: Tergantung Kebutuhan

Upasaka Salim Lee
Dalam kehidupan, kita selalu membayangkan, bahkan mengharapkan, betapa bahagianya hidup ini seandainya kita dapat mengontrolnya. Mengontrol situasi dan kondisi luar maupun dalam, badan dan pikiran. Selalu ingin memenuhi keinginan kita untuk mendapatkan yang menyenangkan dan keinginan untuk menolak yang tidak menyenangkan.

Dasarnya karena kita punya indra, jadi rasanya sangat masuk akal kalau kita hanya ingin melihat yang asri, mendengar kata-kata yang manis, musik yang cocok, merasakan makanan yang lezat dan hal-hal yang memuaskan indra kita. Tentunya kita juga ingin disukai, ingin dihargai, ingin jadi ‘orang,’ jadi sosok yang baik, ‘to be Somebody.’ Tiap hari kita berdiri di depan cermin, hanya ingin meyakinkan diri kita sendiri apakah kita ini masih ‘memadai’ menjadi sosok yang cocok dengan yang ada di dalam benak kita. Biasanya ini juga dilengkapi dengan cerita-cerita ‘siapa saya.’ Kita sering memulai percakapan dengan kata: ‘Kalau saya…’ ‘Saya ini orangnya…’ ‘Menurut saya…’

Kita kadang-kadang, atau malah sering dilanda keraguan, dilumpuhkan oleh ketidakpastian, dikecewakan, karena begitu seringnya hasil yang kita alami tidak sesuai dengan harapan kita. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa demikian, dan merasa tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh. Hampir selalu salah mengerti.

Untuk menanggulangi hal-hal seperti itu, banyak teknik dan jurus-jurus yang kita gunakan. Misalnya: membuat rutinitas, mencari pekerjaan yang stabil, teman-teman yang mendukung, cukup uang dan harta, mengingat apa yang pernah kita alami, berpikir tentang skenario-skenario yang mungkin akan kita hadapi. Ini semua masuk akal, tapi itu tidak mungkin bisa terjadi demikian. Permutasi hidup ini tak terbatas. Keinginan kita adalah jalan kehidupan ini lurus dan nyaman. Tetapi sering di sepanjang jalan, kita temukan lembah, gunung, sungai, hamparan air yang luas.

Sebagaimana dikatakan dalam Sutta Alagaddupama: Perumpamaan Ular Air (The Water-Snake Simile):

“Seandainya seseorang bepergian menyusuri suatu jalan. Dia menjumpai hamparan air yang luas, di mana tepi sebelah sini adalah meragukan dan beresiko, sedangkan tepi seberang aman dan tak beresiko, namun tak ada kapal maupun jembatan yang menghubungkan tepi sini dengan tepi seberang.”

Biasanya, situasi yang harus kita hadapi di kehidupan ini tidak pernah terpikir dalam skenario kita, di luar dugaan, tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Terus, mau bagaimana? Kita bisa langsung duduk terpuruk, bisa menangis, bisa mencak-mencak, bisa marah, jengkel, kecewa, bisa protes keras ‘Mengapa begini? Mengapa saya? Apa tidak ada keadilan? Kalian kok keterlaluan?’ dsb. Tetapi ini jelas tidak banyak membantu.

Atau, dengan segala kekecewaan dsb, kita ‘take stock.’ Kita rasakan emosi yang kita alami, kita coba sebisa-bisanya menganalisa situasi dan kondisi yang kita hadapi tanpa terlalu banyak dipengaruhi oleh perasaan atau emosi. Tidak hanya mengandalkan kebiasaan, tanpa memaksakan kesimpulan yang hanya ingin mencocokkan dengan apa yang kita tahu. Tetapi tegar, berani menganalisa.  Sarana, sumber daya (resources) baik dalam arti kemampuan maupun materi, apa yang ada? Kendalanya apa?

Di saat begini tentunya mengingat pengalaman yang lalu bisa membantu, tetapi kalau kita hanya menggantungkan dari pengetahuan yang ada maupun pengalaman yang lalu, pasti opsinya sedikit. Di sini dibutuhkan sikap pandang yang realistik, dengan apa yang ada: rumput, ranting, dahan, dedaunan, sebisanya: menggunakan tangan, kaki, kemudian kita jadi kreatif, jadi berani mengambil keputusan untuk melakukannya. Just do it! Bukan hanya dengan ‘bondo nekat,’ tetapi dengan seluruh ‘bondo’ – modal, sarana yang ada, menjalankan apa yang harus dijalankan. Do whatever needs to be done. This is smart! Ini benar-benar sesuatu yang tepat, dan yang penting, tanpa harus tahu dulu bahwa kita akan sampai di seberang. Yang penting penuh perhatian dan upaya, nanti hasilnya akan terbentuk dengan sendirinya.

“Timbul pikiran dalam dirinya, ‘Di hamparan air yang luas ini, di mana tepi sebelah sini adalah meragukan dan beresiko, sedangkan tepi seberang aman dan tak beresiko, namun tak ada kapal maupun jembatan yang menghubungkan tepi sini dengan tepi seberang. Bagaimana bila saya mengumpulkan rumput, ranting, dahan serta dedaunan, dan setelah mengikat semuanya menjadi rakit, menyeberang dengan aman ke tepi seberang dengan mengandalkan rakit, berupaya dengan menggunakan tangan dan kaki saya?’ Lalu setelah mengumpulkan rumput, ranting, dahan serta dedaunan, setelah mengikat semuanya menjadi rakit, orang itu menyeberang dengan aman ke tepi seberang dengan mengandalkan rakit, berupaya dengan menggunakan tangan dan kakinya.”

Nah, seandainya dengan selamat kita bisa sampai di seberang, kita bisa mengatasi apa yang kita hadapi. Apakah berarti bahwa mulai sekarang, setiap waktu saya hadapi persoalan apa pun, saya bisa menggunakan cara penyelesaian seperti ini, selalu?

Jelas tidak mungkin. Karena mungkin yang kita hadapi itu jurang yang terjal. Rakit tidak akan ada gunanya. Makanya jelas bahwa di setiap keadaan selalu membutuhkan suatu solusi kreatif yang khusus, yang baru. Punya dan membawa rakit tidak bisa memecahkan segala persoalan.

Kita harus menumbuhkembangkan keterampilan untuk bisa kreatif dalam menghadapi apa pun, bukan hanya membawa rakit ke mana-mana. Kalau perlu, kaki tangan digunakan, juga kebisaan kita untuk tidak langsung bereaksi akan sangat membantu. Motivasi menjadi sangat krusial dan keberanian untuk tidak terikat oleh hasil akan menjadi sarana ampuh. Kita jadi canggih dalam merespons.

“Setelah menyeberang ke tepi seberang, dia mungkin berpikir, ‘Betapa bergunanya rakit ini bagi saya! Karena dengan mengandalkan rakit ini, berupaya dengan menggunakan tangan dan kaki, saya telah menyeberang dengan aman ke tepi seberang. Mengapa saya tidak mengangkat rakit ini di atas kepala atau memanggulnya di punggung, membawanya ke mana pun saya pergi?’”

“Dan apa yang harus dilakukan oleh orang itu sehingga dia melakukan apa yang harus dilakukan terhadap rakit tersebut? Ada kejadian di mana setelah menyeberang, seseorang berpikir, ‘Betapa bergunanya rakit ini bagi saya! Karena dengan mengandalkan rakit ini, berupaya dengan menggunakan tangan dan kaki, saya telah menyeberang dengan aman ke tepi seberang. Mengapa saya tidak menariknya ke daratan atau menenggelamkannya dalam air, dan saya bisa pergi ke mana pun?’ Dengan demikian, dia melakukan apa yang harus dilakukan terhadap rakit tersebut. Begitu pula, para bhikkhu, Dhamma yang telah saya ajarkan adalah bagaikan rakit, dengan tujuan untuk menyeberang, bukan untuk dicengkeram.”

Buddhadharma diajarkan untuk menghentikan penderitaan, bukan hanya dihafalkan. Dan karena begitu banyaknya permutasi di kehidupan ini maka dikatakan ada 84.000 ajaran untuk mengatasi 84.000 emosi-emosi yang reaktif. Ini hanya ingin menunjukkan bahwa 84.000 itu banyak dan tidak mungkin untuk dihafalkan semuanya. Sebaliknya, tidak ada satu jurus pamungkas yang bisa menghentikan pergulatan di dalam hati kita. Tidak ada satu obat yang bisa menyembuhkan setiap penyakit (kecuali obat favorit Belabar Potowa, Minyak Angin!).

Setiap aspek ajaran itu luar biasa gunanya, tapi seperti rakit yang hanya berguna untuk menyeberangi banjir, tidak ada satu aspek dharma pun, misalnya emptiness (shunyata), yang bisa kita andalkan untuk mengatasi semua situasi dan bermacam-macam tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini.

Setiap aspek dharma itu perfect kalau tidak dicengkeram, kalau tidak dianggap mujarab di setiap saat, di setiap situasi. Apalagi hanya sekedar berbagai pengetahuan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pengalaman hidup, seperti nama planet, berat jenis besi, berapa jumlah kaki kelabang, dsb. Tidak akan banyak gunanya.

Jadi jika kita lebih terampil dalam mengumpulkan ‘rerumputan, ranting, dahan, dedaunan’ – PRAJNA; dan bersedia untuk selalu ‘menggunakan tangan dan kaki kita’ – UPAYA, maka lautan tantangan hidup apa pun akan mungkin kita arungi.

“Dengan memahami bahwa Dhamma yang diajarkan adalah bagaikan rakit, janganlah kalian mencengkeram pada Dhamma sekali pun, apa lagi yang bukan Dhamma.”

***
Bunga Rampai: Kumpulan Ajaran Dharma oleh Upa. Salim Lee. Februari 2017.

Baca Lebih Lanjut