Transkripsi

Lebih Terampil Dalam Hidup

Teachings Om Salim via telepon saat Puja Waisak, 17 Mei 2014



Senang sekali saya mendengar kalian melakukan puja ini. Begitu banyak pilihan dalam liburan begini, kalian malah memilih ikut puja daripada jalan-jalan di mal atau hanya di rumah saja. Apa pun alasannya, kadang juga tidak begitu jelas dalam pikiran kita, tapi mestinya karena ada sesuatu yang lebih baik daripada pilihan-pilihan lain. Saya kagum dengan kalian, yang penuh perjuangan menjalani hidup dengan mencari sesuatu agar hidup bermakna.

“Menurut kalian apa tujuan dari puja?” Om Salim bertanya.
“Untuk menggaris-bawahi motivasi kita.” Salah satu peserta menjawab.

“Tepat. Kita memberi kesempatan kepada diri kita sendiri untuk mempertajam dan memperkokoh motivasi kita.”

Hidup ini mau diatur atau dipikir seperti apa juga repot. Kita harus sekolah, harus kerja, harus punya ini punya itu. Kita tahu hidup ini tak semudah yang dibayangkan, apa pun yang coba kita rencanakan jarang sekali kejadiannya seperti itu. Begitu banyak hal tak terduga, banyak pula hal yang kita tahu bisa terjadi pada kita namun kita enggan memikirkannya. Karena itu, sering sekali kita terperangah.

Nah, motivasi mengikuti puja tidak selalu ingin mencapai keadaan yang lebih baik dari sekarang, misalnya ingin lebih kaya, lebih terkenal, ingin tidak sakit, semua beres, dll. Sesuatu yang akhirnya keturutan pun akan muncul lagi sesuatu yang tidak memuaskan, dan kalian tahu itu tidak bisa diandalkan.

Namun jika motivasi kita adalah ingin lebih kenal hidup ini, tentang keberadaan ini, semakin kita dekat, semakin kita tahu keberadaan itu sebenarnya seperti apa. Apa pun yang kita kerjakan, dari masak, puja, retret, bantu mama, itu semua tergantung dari motivasi. Jika kita tidak tahu landasan dari segala tindakan kita, kita akan nabrak-nabrak terus, di samping babak belur. Akhirnya percuma juga. Karena itu, untuk hidup kita butuh teknik, mengembangkan suatu kebisaan. Kita tahu ada alternatif dalam menghadapi kehidupan ini, ada cara-caranya, ada jurus-jurusnya. Definisi gongfu adalah mendapatkan suatu kebisaan dengan berlatih sambil melakukan sesuatu. Untuk itu, kita beruntung sekali menemukan Dharma.

Buddha menggunakan kata “parinna,” artinya to know well, kenali/tahu benar-benar. Apa yang diajarkan oleh Buddha adalah mengembangkan kepekaan, lebih tahu tentang hidup ini, tidak sekedar tahu luarnya saja, tapi lebih “sensible,” lebih bisa mengerti, lebih mendalami, lebih mengenal, jadi lebih bisa menjalaninya.

Misalnya, orang yang ahli dalam tanaman – begitu melihat suatu pohon dia akan tahu jenis pohonnya, apa kebutuhannya, bagaimana perkembangannya, penggunaan pupuknya, dan sebagainya. Sementara orang awam yang membawa pulang dan menanamnya, sering kali tidak tumbuh karena kurangnya pengetahuan mengenai pohon tersebut.

Atau misalnya begitu melihat lukisan, seorang seniman lebih bisa menikmati, mengerti mengapa dilukis seperti itu, tahu siapa yang melukis, dsb. Ceritanya lebih banyak. Sementara kita mungkin berpikir: “Kok lukisan cuma begini, ga ada gunungnya ga ada sungainya, cuman coretan-coretan. Anak kecil saja bisa gambar begini.” Kita tidak bisa menghargainya.

Jadi dalam hidup ini kita harus lebih tahu, lebih peka, lebih mengerti, dengan demikian kita lebih bisa menghargai. Menghargai juga berarti menikmati lebih dalam, seperti ahli seni tadi, atau seorang pembalap mobil yang menghargai pekerjaannya meskipun hanya berputar-putar di dalam mobil. Ini tidak berarti kita harus menjadi ahli tanaman, ahli seni dan sebagainya. Kita terbiasa tidak menghargai hidup karena dalam pemikiran kita, hidup itu mesti ada tolak ukurnya, “harus” seperti begini atau begitu. Kita membuat cerita tentang “saya” dan “milik saya” (I and mine).

Jika kalian sedang kecewa sekarang, kalian mungkin merasa ‘tidak seharusnya’ seperti ini. Janganlah bertanya “Mengapa saya seperti ini, mengapa orang-orang tidak mengerti saya, mengapa harus ada persoalan ini?” Bila kita kenal betul hidup ini seperti apa (parinna), cara kita bertanya bukanlah “mengapa seperti ini?” tetapi seyogianya: “Jika kondisinya seperti ini, lalu apa yang harus saya lakukan?” Itu lho caranya bertanya. Dalam hal ini kita harus menggunakan panna dan keterbukaan hati. Misalnya kamu merawat mama dan mama rewelnya luar biasa, jangan bertanya “Kenapa mama begitu rewel, apa tidak ngerti saya sendiri repot?” Pertanyaannya jangan seperti itu, pertanyaannya dibalik: “Sekarang mama ini rewel, saya harus berbuat apa ya?” Itu loh caranya.

Untuk bisa bertanya seperti ini, butuh keberanian yang luar biasa karena kamu memikirkan orang lain. Datang ke puja, masak, dan lain-lain sebenarnya adalah menguatkan motivasimu. Peduli pada orang lain. Kita bisa lebih percaya diri, hidup ini akan lebih cerah. Masih bisa senyum biar pun yang kalian alami itu tidak realistis. Paling tidak, kalian tidak cemberut saat mengalami sesuatu yang tidak nyaman.

Sebenarnya hidup adalah bagaimana kita berhubungan dengan semuanya, dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita; artinya pengalaman-pengalamanmu itu sama dengan hidupmu. Apa pun yang kita alami, meski kaget, sedih, senang, kita tahu bahwa itu hanya sedih, kaget, senang dan sebagainya.

Saat mengalami sesuatu, kita sering lupa bahwa itu hanya pengalaman, lalu kita anggap itu pengalaman ‘saya’ (misalnya marah itu adalah ‘saya’ atau ‘milik saya’). Dua hal ini bikin repot. Begitu kita berpikir seperti itu, bahwa ‘saya’ marah, bukan ‘yang ada hanyalah kemarahan’ – langkah berikutnya tentunya ‘saya’ harus dilindungi. Saat lagi kecewa, kita berpikir “saya tidak seharusnya dikecewakan seperti ini,” lalu kita pisahkan antara ‘saya’ dengan ‘orang lain.’ Biasanya tindakan selanjutnya adalah pilihan berdasarkan pandangan kita dan umumnya bukan pilihan terbaik. Kita pikir pilihannya hanya itu dan keputusan yang dibuat malah lebih runyam, malah tidak mendukung hidupmu.

Hidup ini sifatnya dukha, tapi bukan menderita lho. Hidup itu serba tidak menentu, kadang menyenangkan, kadang susah. Dukha nirodha bukanlah mencegah timbulnya dukha, tapi di mana dukha tak lagi menjadi persoalan; hidup itu tak lagi menjadi persoalan; pengalaman tak lagi jadi soal.

Jika kita berpegang pada pedoman ini, latihan seperti gongfu tadi, semakin latihan kita semakin ahli. Kalian mungkin tetap sama: tetap nangis, tetap kecewa, tetap takut, tapi tindakanmu akan lain sekali, tindakanmu akan lebih mantap. Ini artinya tambah lama kalian mengerti Dharma lebih dalam. Kalian lebih mengenal, tahu lebih baik tentang hidup ini, lebih bisa menghadapi dukha, dan tahu langkah apa yang perlu diambil. Jadi kita harus tahu dulu apa itu hidup, posisinya seperti apa, kondisinya seperti apa, baru kita melakukan sesuatu. Dua hal ini disebut wisdom dan compassion. Melakukan sesuatu (action) berdasarkan apa yang kalian tahu. Bila hati terbuka, kita akan semakin terbuka pada segala hal, pada setiap orang. Hidup menjadi lebih berarti. Apa pun yang terjadi kalian pasti tahu cara menghadapinya. Hanya kalian sendiri yang tahu sebenarnya.

Buddha mengatakan bahwa ajaran beliau seperti segenggam daun di tangan, yang jumlahnya hanyalah sedikit dibandingkan jumlah semua dedaunan di hutan. Tetapi ini cukup untuk kita gunakan.

Jadi saat kalian mengikuti Waisak, kontemplasikanlah inti ajaran Buddha, fokuskan pada motivasi, usahakan pikiran tidak ke mana-mana. Motivasinya adalah parinna, menumbuhkembangkan sesuatu. Ini adalah bhavana. Jadi puja juga meditasi, masak pun meditasi, karena kita menumbuhkembangkan sesuatu. Apa yang kalian lakukan ini luar biasa. Kalian datang dan berdoa, ini disebut blessing dalam Buddhadharma yang akan membuat kalian lebih pandai. Pandai dalam hal ini berarti lebih tabah dan lebih berani karena lebih mengerti dalam melihat sesuatu dan tahu apa yang harus diperbuat. Jadi hidup kalian akan lebih bisa kalian atasi.

Baca Lebih Lanjut