Materi Dharma
Teks Topikal
Teks Topikal
Mahamudra Upadesa: Dua Puluh Delapan Gatha Kidung Vajra (The Twenty Eight Vajra Verse)
Siddhacarya Tilopa
1.
Naropa, mahamudra tak mungkin diajarkan,
Tetapi bakti terhadap Guru-mu dan kesukaran-kesukaran yang engkau hadapi
Telah membuatmu teguh dalam menghadapi penderitaan dan juga tanggap:
Resapkanlah dalam hatimu, murid-ku yang layak.
2.
Misalnya, angkasa: Apa yang bergantung pada apa?
Begitu pula, mahamudra: tak tergantung pada apapun.
Tanpa mencoba mengendalikan. Biarkanlah dan bersemayamlah dalam keadaan apa adanya.
Lepaskan apapun yang membelenggumu, dan kebebasan tak akan lagi diragukan.
3.
Saat engkau menatap angkasa, penglihatan berhenti.
Begitu pula, saat citta menatap citta,
Arus pemikiran berhenti, engkau akan mengalami Penggugahan terdalam.
4.
Kabut muncul dari bumi dan lenyap di angkasa
Tidak ke mana-mana, tidak pula menetap.
Begitu juga, meskipun pikiran-pikiran muncul,
Saat engkau menatap citta-mu, awan-awan pikiran lenyap.
5.
Angkasa tak terbatasi oleh warna atau bentuk.
Tak mempunyai warna, hitam atau putih: tak pernah berubah.
Demikian pula, citta, dasarnya tak terbatasi oleh warna atau bentuk.
Tak terpengaruh oleh tindakan baik maupun buruk.
6.
Kegelapan selama seribu kalpa tak akan dapat meredupkan
Kecerahan dan kecemerlangan yang merupakan sifat dasar mentari.
Demikian pula, berkalpa-kalpa masa samsara tak dapat meredupkan
Kejernihan murni yang merupakan sifat dasar citta.
7.
Meskipun engkau katakan angkasa itu kosong,
Engkau tak akan dapat menjelaskan bahwa angkasa itu “seperti ini.”
Begitu pula, meskipun citta dikatakan sebagai kejernihan murni,
Tanpa ada apapun di situ: tetapi tetap tak akan dapat dikatakan “seperti ini.”
8.
Karena itu, sifat dasar citta bagaikan angkasa:
Mencakup semuanya, segala sesuatu yang dialami.
9.
Hentikan semua aktivitas fisik: duduk sewajarnya dengan rileks.
Tanpa berkata atau berbicara: biarkanlah suara sebagaimana adanya, tanpa makna, bagaikan gema.
Tanpa memikirkan apapun: amatilah apa yang dialami tanpa bentuk pikiran.
10.
Tubuhmu tak berinti, kosong bagaikan bambu.
Citta-mu melampaui konsep, terbuka bagaikan angkasa.
Biarkanlah tanpa terkendali dan bersemayamlah di sana.
11.
Citta tanpa projeksi adalah mahamudra.
Latih, jalankan dan kembangkanlah ini, maka engkau akan mengalami Penggugahan terdalam.
12.
Engkau tak akan dapat melihat kejernihan murni mahamudra
Melalui kitab-kitab ajaran maupun menghayati berbagai filsafat atau sistem cara pandang,
Baik mantra-mantra, maupun paramita,
Vinaya, sutra-sutra atau kumpulan ajaran lainnya.
13.
Ambisi mengaburkan kejernihan murni, maka engkau tak dapat melihatnya.
Memikirkan tentang sila, mengaburkan tujuan sesungguhnya dalam menjalankannya.
Tanpa memikirkan apapun; lepaskanlah semua ambisi.
Biarkanlah apapun yang muncul mengendap dengan sendirinya, bagaikan menulis di atas air.
Tanpa penempatan, tanpa fokus, tanpa kehilangan poinnya –
Jangan tinggalkan komitmen ini: ini adalah cahaya dalam kegelapan.
14.
Jika engkau bebas dari ambisi dan tak bersikukuh dengan paham apapun,
Engkau akan dapat melihat semua yang diajarkan kitab-kitab ajaran.
Jika engkau membuka hati untuk ini, engkau akan terbebas dari penjara samsara.
Jika engkau bersemayam seperti ini, semua klesha dan kesalahpengertian musnah.
Inilah yang disebut “Pancaran Cahaya dari Ajaran.”
15.
Mereka yang kecerdasannya terbatas tak akan tertarik dengan ini.
Arus samsara akan senantiasa menghempaskan dan melarutkan mereka.
Oh, betapa menyedihkan, mereka yang kecerdasannya terbatas –pergulatan mereka tiada hentinya.
Jangan menerima keberadaan dan pergulatan seperti ini, carilah pembebasan, andalkanlah seorang Guru yang terampil.
Ketika energi beliau memasuki hatimu, cittamu terbebaskan.
16.
Betapa bahagianya!
Cara samsara tak masuk akal: cara samsara adalah benih-benih penderitaan.
Mengikuti kebiasaan tak ada manfaatnya. Fokuslah pada apa yang tepat dan benar.
Jika sudah melampaui semua keterpakuan, itulah agungnya cara pandang.
Jika sudah tanpa gangguan, itulah agungnya praktik.
Jika sudah tanpa tindak-tanduk atau usaha, itulah agungnya perilaku.
Keberhasilan akan muncul ketika engkau bebas dari harapan dan ketakutan.
17.
Di luar kerangka konsep, citta selalu bersifat jernih.
Di mana tiada marga, di situlah marga Penggugahan dimulai.
Jika sudah tiada apapun yang harus dilakukan, engkau mengalami Penggugahan terdalam.
18.
Oh! Lihatlah dengan seksama dunia pengalamanmu ini.
Tiada yang langgeng. Bagaikan mimpi, bagaikan sulap. Mimpi, sulapan, tak masuk akal.
Alamilah kepedihan ini dan lupakanlah urusan-urusan dunia.
19.
Putuskanlah keterlibatan dengan negara atau keluarga,
Jalanilah sendirian di hutan atau pegunungan.
Bersemayamlah, tanpa mempraktikkan apapun.
Jika engkau mencapai keadaan dimana sudah tiada apapun yang perlu dicapai, engkau merealisasi mahamudra.
20.
Pohon dengan banyak cabang dan dedaunan.
Pangkaslah akarnya, maka puluhan ribu cabangnya akan layu.
Begitu pula, pangkaslah akar dari pikiran-pikiran, maka samsara akan berakhir.
21.
Meskipun gelap ribuan kalpa.
Hilang seketika dengan secercah cahaya.
Demikian pula, satu ketika kejernihan murni,
Menghilangkan kesalahpengertian, klesha dan kebingungan dari ribuan kalpa.
22.
Betapa bahagianya!
Dengan menggunakan intelek, tak akan mampu melihat melampaui intelek.
Dengan bertindak, tak akan mengenal ‘tanpa tindakan.’
Jika engkau ingin tahu apa yang melampaui intelek dan tindakan,
Pangkaslah pikiran pada akarnya dan bersemayamlah dalam kesadaran semata.
23.
Biarkanlah keruhnya pemikiran, mengendap dan menjadi jernih.
Biarkanlah penampakan muncul dan berlalu dengan sendirinya.
Tanpa ada yang perlu diubah, alam yang engkau alami menjadi mahamudra.
Karena landasan pengalaman tak berawal, runtuhlah pola-pola kebiasaan dan penyimpangan-penyimpangan emosi.
Bersemayamlah dalam ketiadaan awal, tanpa harapan atau memikirkan diri sendiri.
Biarkanlah apapun yang timbul, muncul dengan sendirinya dan biarkanlah konseptualisasi mereda.
24.
Yang teragung dari semua cara pandang adalah yang bebas dari semua konsep.
Yang teragung dari semua praktik adalah yang luas dan dalam tanpa batas.
Yang teragung dari semua perilaku adalah hati yang terbuka dan tidak memihak.
Yang teragung dari semua hasil adalah hanya berada sewajarnya, bebas dari kekhawatiran.
25.
Pada mulanya, meditasi bagaikan sungai deras yang terjun melalui jurang yang curam.
Pada tahap pertengahan bagaikan sungai Gangga dengan arus yang mengalir perlahan dan lancar.
Pada tahap akhir, di sinilah dimana semua sungai bertemu, bagaikan ibu dan anak.
26.
Ketika citta-mu tak begitu tajam dan tidak benar-benar bersemayam,
Gunakanlah prana dan munculkanlah ketegaran kesadaran.
Gunakanlah tatapan dan teknik-teknik untuk menambatkan citta
Latihlah kesadaran hingga benar-benar bersemayam.
27.
Jika engkau menjalankan praktik karmamudra secara benar, akan muncullah sukha-shunya yang tak terpisahkan.
Dengan keseimbangan upaya dan prajna, energi prana akan terkembang.
Biarkanlah turun dengan perlahan, himpun, lalu naikkan kembali,
Kembalikanlah pada tempatnya, biarkanlah meresap ke seluruh tubuhmu.
Jika engkau bebas dari cengkeraman dambaan dan keinginan, muncullah kesadaran sukha-shunya yang tak terpisahkan.
28.
Engkau akan berumur panjang, tak akan menua, dan akan bersinar bagaikan rembulan.
Engkau akan memancarkan kesehatan, kebahagiaan dan kuat bagaikan singa.
Engkau akan segera memperoleh banyak kebisaan, siddhi dan terbuka untuk siddhi tertinggi.
Agar upadesa ini, yang merupakan intisari dari mahamudra,
Bersemayam dalam hati semua makhluk yang layak mendapatkannya.
Inilah instruksi-instruksi lisan Siddhacarya Tilopada kepada Naropada, dari Kasmir di tepi sungai Gangga. Naropa mengajarkan Dua Puluh Delapan Gatha Vajra ini kepada penerjemah Marpa. Marpa menyelesaikan terjemahannya di Pulahari, India Utara. Ken McLeod menerjemahkannya ke bahasa Inggris di Los Angeles, Amerika, berdasarkan berbagai ulasan dan terjemahan-terjemahan sebelumnya.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Februari 2011.
Baca Lebih Lanjut
- Pikiranmu Agamamu
- Kompas Jalan Penggugahan: Warisan Tersembunyi Bodhipathakrama Atiśa bagi Tradisi Tahapan Jalan
- Setenang Dasar Lautan (Make Your Mind an Ocean & Peaceful Stillness of the Silent Mind)
- Berlanjut ke Penggugahan: Risalah Mendetail Jalan Penggugahan Bertahap (Lam Rim Chen Mo) oleh Yang Mulia Dalai Lama ke-14
- Adigang, Adigung, Adiguna: (Pengandalan pada Keperkasaan, Kewenangan, Kecerdikan)






