Teks Topikal

Satyadvayavatara: Mengenali Gerbang Menuju Dua Kenyataan (The Entrance to the Two Realities)

Atisha Dipamkarashrijnana
Sujud Pada Mahakaruna!

1.
Dharma yang dibabarkan oleh Buddha,
Secara tepat mengajarkan dua kenyataan;
Kenyataan konvensi dunia dan
Kenyataan akhir sebagaimana adanya.

2.
Kenyataan konvensional ada dua jenis:
Jenis yang keliru dan yang tepat.
Jenis yang keliru ada dua macam: bulan di permukaan air,
Dan logika-logika dari filosofi yang keliru.

3.
Kita berpegangan bahwa kenyataan konvensional adalah
Fenomena apa pun yang timbul dan hilang, yang
Dapat menimbulkan dampak, dan
Dapat diterima hanya jika tidak dianalisa terlalu mendalam.

4.
Hanya ada satu kenyataan akhir;
Meskipun orang lain bersikukuh ada dua jenis:
Tetapi jika dharmatā sama sekali tidak dapat ditunjuk,
Mengapa bisa ada dua, tiga, atau lebih?

5.
Kita dapat menggunakan kata-kata konvensional untuk menunjukkan ini,
Seperti tidak timbul dan tidak hancur.
Tetapi di dalam kenyataan akhir yang tidak bisa dibeda-bedakan,
Tidak ada subjek sebagai landasan dan tidak ada sifat keberadaan sebagai objek.

6.
Pembedaan dalam shunyata itu sendiri
Sama sekali tidak mungkin ada.
Dan ketika kita mengerti ini secara nonkonseptual,
Secara konvensional ini disebut "Melihat Shunyata."

7.
Dalam sutra-sutra mengenai shunyata yang dalam, dikatakan
'Tidak melihat' itu dengan sendirinya 'melihat,' dan
Dalam ini, tidak ada penglihatan maupun penglihat,
Semuanya geming, tidak ada awal, tidak ada akhir.
8.
Substansi dan nonsubstansi keduanya ditolak;
Tidak ada konseptualisasi, tidak ada landasan untuk itu;
Tidak ada yang bersemayam dan tidak ada tempat untuk bersemayam;
Tidak datang, tidak pergi, dan tidak ada yang bisa dibuat perumpamaan untuk itu.

9.
Itu tak terungkapkan dan tak dapat dilihat;
Tidak berubah-ubah dan tanpa terkondisi.
Ketika seorang yogi dapat merealisasikan hal ini, dia menghancurkan
Halangan klesha dan halangan pengetahuannya.

10.
Buddhadharma mengenal dua jenis persepsi:
Persepsi langsung dan persepsi yang disimpulkan.
Tetapi mengatakan shunyata dapat diketahui melalui salah satu dari itu
Adalah suatu delusi yang tidak melihat secara jernih.

11.
Jika memang demikian, maka para Tirthika dan Sravaka—
Apalagi para Vijnanavadin—
Mestinya sudah dapat mengerti sifat keberadaan baku yang sesungguhnya,
Dan tentunya, shunyata tidak bertolak belakang dengan cara pandang Madhyamika.

12.
Sebagai konsekuensi dari itu, semua tradisi akan sepakat,
Karena mereka semua menilai segala sesuatu dengan logika yang valid;
Tetapi, karena logika-logika mereka tidak sepaham,
Tidakkah sifat keberadaan sesungguhnya yang mereka lihat secara logis,
Akan ada sama banyaknya dengan jumlah logika-logika tersebut?

13.
Oleh karena itu, tidaklah perlu berbicara tentang
Persepsi langsung maupun persepsi yang disimpulkan sehubungan dengan shunyata.
Para guru hanya menerangkannya seperti itu,
Semata-mata untuk menyanggah para Tirthika.

14.
Telah dinyatakan dengan jelas dalam kitab-kitab ajaran
Bahwa seseorang tidak dapat mengerti shunyata,
Baik dengan cita konseptual maupun nonkonseptual.
Guru besar Bhavaviveka telah berkata demikian.

15.
Lalu bagaimanakah seseorang mengerti shunyata?
Hal ini diklarifikasi oleh Nagarjuna
Yang telah diprediksi oleh Buddha sendiri
Dan yang telah melihat kenyataan dari Dharmata,
Karena juga sudah diklarifikasi lebih lanjut oleh murid beliau, Chandrakirti,
Seseorang dapat memperoleh wawasan mendalam akan Dharmata
Dengan mengikuti ajaran tradisi yang bersumber dari mereka.

16.
Mengenai semua ajaran yang terdapat dalam
Delapan puluh empat ribu kumpulan ajaran,
Itu semua menuju dan mengarah pada Dharmata ini;
Semua jenis meditasi lainnya dijalankan untuk mendukung hal ini;
Karena mengerti shunyata membawa pembebasan sempurna.

Akan tetapi, jika seseorang mengabaikan kenyataan konvensional yang valid
Sambil menumbuhkembangkan realisasi shunyata yang mendalam,
Dia akan keliru dalam menanggapi kenyataan konvensional, misalnya:
Baik dan tidak baik, sebab dan akibat, dsb.
Serta akan menderita di kehidupan ini maupun di kehidupan mendatang.

18.
Menjalankan praktik tanpa pembelajaran yang memadai
Tidak akan menghasilkan pengertian sempurna tentang shunyata.
Begitu juga, orang-orang yang tidak berupaya mengumpulkan daya kebajikan
Akan tersesat dalam dunia yang penuh kenegatifan.

Karena ketika orang-orang yang berwawasan terbatas
Keliru memahami shunyata, mereka akan binasa.
Sebagaimana dinyatakan oleh Guru Candrakirti.

20.
"Kenyataan Terkait berfungsi sebagai Upaya;
Dari Upaya, muncullah Kenyataan Akhir.
Siapa pun yang tidak tahu perbedaan di antara keduanya,
Dan memahami itu secara keliru, akan terjatuh ke alam-alam rendah.";

21.
Tanpa mengandalkan kenyataan konvensional,
Seseorang tidak akan memperoleh wawasan tajam mengenai kenyataan akhir sebagaimana adanya.
Tanpa semakin maju (pengertiannya) mengenai kenyataan konvensional yang valid,
Tidaklah mungkin memasuki
Kediaman agung pengertian sempurna.

22.
Jika kita mencari sifat keberadaan dari objek-objek
Yang tampak di level kenyataan konvensional,
Kita tidak akan menemukan apa pun sama sekali.
Tidak ditemukannya sesuatu yang tak dapat ditemukan
Adalah pengalaman kenyataan akhir,
Dharmata adalah murni sejak semula.

23.
Segala sesuatu yang ada di level konvensional
Dinyatakan ada sewaktu itu muncul,
Dikarenakan ada sebab-sebab dan kondisi-kondisi untuk itu.
Jika tidak benar bahwa itu adanya seperti itu,
Lalu, siapakah yang menciptakan pantulan bulan di permukaan air?

24.
Oleh karena itu, semua penampilan memang ada
Dihasilkan dari berbagai hubungan bersebab.
Karena jika rentetan kondisi-kondisinya terpangkas,
Itu tak mungkin dapat muncul meski berupa Kenyataan Terkait.

25.
Oleh karena itu, jika pandangan seseorang tidak terhalangi,
Dan praktiknya sangat murni
Dia tidak akan menyimpang jauh dari jalan,
Dan akan maju menuju keadaan tertinggi.

26.
Hidup ini singkat dan begitu banyaknya jenis pengetahuan;
Agar dia, yang bahkan tidak tahu berapa lama masa hidupnya,
Haruslah bisa memilih di antara yang benar-benar menjadi aspirasinya
Seperti halnya angsa yang bisa menyaring hanya susu dari campurannya dengan air.

Suntingan mengenai Dua Kenyataan ini dilakukan dengan serba kekurangan
Oleh seseorang yang berpandangan sempit seperti saya;
Tetapi ini didasari kata-kata Guruku,
Dan merupakan penyajian Dua Kenyataan menurut tradisi Nagarjuna.

Meskipun zaman sekarang orang-orang mempunyai keyakinan,
Teks yang ditulis untuk Raja dari Suwarnadwipa ini,
Seyogianya dicamkan dan dianalisa secara saksama,
Tidak sekadar didasari keyakinan dan bakti semata.

Raja dari Suwarnadwipa, Gurupala, mengirim
Biksu Devamati untuk menghadap saya, dan atas permohonannya,
Saya menyusun teks "Mengenali Gerbang Menuju Dua Kenyataan" ini
Para cendekiawan masa kini bisa menilainya sendiri.

Demikianlah teks "Mengenali Gerbang Menuju Dua Kenyataan" yang ditulis oleh Guru Dipamkarasrijnana. Pandita Dipamkarasrijnana sendiri dan Lotsawa Gyatsön Senge yang menerjemahkan dan menyuntingnya.

***

SUMBER:
1. "The Complete Works of Atisa," translated and annotated by Richard Sherburne, S.J. Aditya Prakashan. New Delhi. 2000.
2. "Atisha and Buddhism in Tibet," compiled and translated by Doboom Tulku and Glenn H. Mullin. Publisher: Tibet House, New Delhi.
3. "Atisa's Introduction to the Two Truths, and Its Sources" by Lindner, C.H.R., Journal of Indian Philosophy, 9, 2, June 01, 1981.
4. "Entrance to the Two Realities" by Atīśa Dīpaṃkaraśrījñāna, by Will May, Buddhist Open Online Translations, BOOTL.org.

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Revisi: Juni 2019.

Baca Lebih Lanjut