First, those pleasures do not satisfy both the body and mind. Second, they depend on external circumstances over which we never have complete control, and as such are not always immediately available whenever and wherever we want them …
On reflection, pleasures are the cause of great frustration and repeated suffering …
However, the happiness provided by the Dharma is quite different. It permeates the body and mind at all times and in all circumstances …
No enemy and no event can take it away from us, and its benefits continue into our future lives.
That is why it is an ultimate goal to achieve.
Bahasa Indonesia:
Mengonsumsi minuman keras, menari, bernyanyi, dan kesenangan-kesenangan jasmaniah tak pernah sepenuhnya memuaskan …
Pertama, kesenangan-kesenangan itu tidak memuaskan tubuh maupun pikiran. Kedua, kesenangan-kesenangan tersebut bergantung pada kondisi-kondisi eksternal yang sepenuhnya di luar kendali kita, dan karenanya, hal-hal itu tidak langsung segera ada di saat dan di mana kita menginginkannya …
Setelah dikontemplasikan, kesenangan-kesenangan adalah penyebab dari keputusasaan besar dan penderitaan yang berulang-ulang …
Sebaliknya, kebahagiaan yang bersumber dari Dharma sangat berbeda. Kebahagiaan yang demikian meresapi tubuh dan pikiran di setiap saat dan di segala situasi …
Tidak ada musuh atau peristiwa apa pun yang dapat merampasnya dari kita, dan manfaat-manfaat tersebut berlanjut terus hingga kehidupan-kehidupan kita mendatang.
Itulah alasannya ini adalah tujuan akhir yang ingin dicapai.
***
Arya Asanga, sebagaimana dikutip dalam “The Treasury of Precious Instructions – Pusaka Petunjuk-Petunjuk Berharga” (gDams ngag rin po che'i mdzod), oleh Jamgön Kongtrul Lodrö Taye.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Suatu refleksi menyambut Tahun Baru, 1 Januari 2019.






