This explains why it is so important for a practitioner to determine whether a cognitive event is a misconception or true knowledge. For it is only by generating insight which sees through delusion that we can become liberated.
Even in our own experience we can see how our state of mind passes through different stages, eventually leading to a state of true knowledge.
For instance, our initial attitude or standpoint on any given topic might be a very hardened misconception, thinking and grasping at a totally mistaken notion. But when that strong grasping at the wrong notion is countered with reasoning, it can then turn into a kind of lingering doubt, an uncertainty where we wonder: "Maybe it is the case, but then again maybe it is not". That would represent a second stage.
When further exposed to reason or evidence, this doubt of ours can turn into an assumption, tending towards the right decision. However, it is still just a presumption, just a belief. When that belief is yet further exposed to reason and reflection, eventually we could arrive at what is called 'inference generated through a reasoning process'.
Yet that inference remains conceptual, and it is not a direct knowledge of the object. Finally, when we have developed this inference and constantly familiarized ourselves with it, it could turn into an intuitive and direct realization--a direct experience of the event. So we can see through our own experience how our mind, as a result of being exposed to reason and reflection, goes through different stages, eventually leading to a direct experience of a phenomenon or event.
***
Bahasa Indonesia:
Alasan mengapa kita menemukan begitu banyak pembahasan tentang epistemologi, atau bagaimana mendefinisikan sesuatu sebagai kognisi/persepsi yang valid dalam tulisan-tulisan Buddhadharma adalah dikarenakan semua permasalahan, penderitaan, dan kebingungan kita bersumber dari kesalahpengertian dalam mempersepsi sesuatu.
Ini menjelaskan mengapa begitu penting bagi seorang praktisi untuk menentukan apakah suatu peristiwa kognitif adalah persepsi yang valid atau tidak. Karena hanya dengan timbulnya penglihatan tajam yang menembus delusi maka kita baru dapat terbebaskan.
Dalam pengalaman kita sendiri pun, kita dapat melihat bagaimana keadaan pikiran kita melewati berbagai tahap perkembangan, yang pada akhirnya menghasilkan pengetahuan yang tepat.
Sebagai contoh, sikap atau sudut pandang awal kita tentang topik tertentu mungkin berupa kesalahpengertian yang sudah mendarah-daging, berpikir dan mencengkeram pada gagasan yang sepenuhnya keliru. Tetapi ketika cengkeraman kuat pada gagasan yang keliru tersebut ditantang dengan penalaran, itu kemudian dapat berubah menjadi semacam keraguan yang masih ada, suatu ketidakpastian di mana kita bertanya: "Mungkin memang demikian, tetapi mungkin juga tidak." Itu tahap kedua.
Ketika dinalar atau ditelaah lebih lanjut, keraguan ini bisa berubah menjadi asumsi yang mengarah pada keputusan yang tepat. Namun, itu masih berupa anggapan, hanya sekadar percaya. Ketika kepercayaan ini semakin dinalar dan diintrospeksi, pada akhirnya kita bisa sampai pada apa yang disebut 'deduksi yang dihasilkan melalui proses penalaran.'
Meskipun demikian, kesimpulan tersebut masih bersifat konseptual, dan bukan pengetahuan langsung atas objek. Akhirnya, ketika kita sudah menumbuhkan deduksi ini dan terus-menerus membiasakan diri dengan itu, maka hal tersebut bisa berubah menjadi realisasi intuitif dan langsung – pengalaman langsung akan peristiwa tersebut. Jadi kita dapat melihat secara mendalam melalui pengalaman kita sendiri, bagaimana pikiran kita yang karena dinalar dan diintrospeksi, melewati berbagai tahapan, yang pada akhirnya menghasilkan pengalaman langsung atas suatu fenomena atau peristiwa.
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Desember 2018.






