Teks Topikal

Dalam Bahasa Apakah Buddha Berbicara? (What Language Did the Buddha Speak?) Berdasarkan Ceramah Utama oleh Prof. Jan Nattier

“Proto-Sejarah Penerjemahan Ajaran Buddhis dari Gandhari dan Pali ke Bahasa Tionghoa Dinasti Han” (“The Proto-History of Buddhist Translation from Gandhari and Pali to Han-Dynasty Chinese”)

Translation & Transmission Conference 2017, Boulder, Colorado, USA

A Tsadra Foundation Initiative

June 2, 2017




Baca versi Bahasa Inggris

Kutipan sebagian dari ceramah utama, atas kebaikan hati dan ijin dari Prof. Nattier dan Tsadra Foundation – ditranskripsi, diedit, dan diterjemahkan oleh Tim Potowa Center & Bumi Borobudur.


Pada mulanya, ajaran-ajaran Buddha diteruskan hanya secara lisan selama beberapa abad. Dimulai di Tiongkok, tepatnya di ibukota utara Luoyang, di pertengahan abad ke-2 Masehi, untuk pertama kalinya kita dapat melihat contoh-contoh terjemahan ajaran Buddhis di luar bahasa India. Namun, ketika kita bertanya dari sumber-sumber mana para penerjemah menerjemahkannya, kita langsung berhadapan dengan kenyataan bahwa sesungguhnya terjemahan ajaran Buddhis tidak dimulai di Tiongkok, tetapi telah dimulai sejak beberapa abad sebelumnya, bahkan besar kemungkinan sejak masa kehidupan Buddha sendiri. Hal ini jarang dibicarakan dan kebanyakan baru menjadi fokus penelitian ilmiah di beberapa dekade terakhir.

Jadi, pertanyaan yang sangat mendasar adalah: dalam bahasa apakah Buddha berbicara?
Dengan apa yang kita ketahui sekarang, secara umum dapat diterima bahwa Buddha tinggal di bagian timur laut India, dilahirkan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Nepal bagian selatan dan beliau menghabiskan sebagian besar masa mengajarnya di wilayah yang dikenal sebagai Magadha. Jadi, masuk akal untuk mengasumsikan, seperti yang dilakukan oleh para ahli, bahwa pada awalnya sebagian besar ajaran beliau disampaikan dalam suatu bahasa yang secara teknis disebut bahasa Magadhi Kuno. Disebut "Kuno" untuk membedakannya dari Ardha Magadhi, bahasa yang lama setelah itu digunakan untuk meneruskan ajaran-ajaran tradisi Jain.

Magadhi Kuno bukanlah satu-satunya bahasa yang digunakan di India atau paling tidak di India Utara pada masa itu. Tampaknya Buddha juga dapat berkomunikasi menggunakan lebih dari satu bahasa, seperti apa yang K.R. Norman kemukakan dalam “The Dialects in Which the Buddha Preached” (1980) dan C. Chowdhury dalam “Did the Buddha Speak Pali?” (2009).



Bahasa-bahasa Indo-Arya (Indo-Iran) secara umum dibagi menjadi tiga periode: Indo-Arya Kuno meliputi bahasa Weda dari Ṛgveda dan juga Sanskerta Klasik; bahasa-bahasa Indo-Arya Menengah (Middle-Indic, Middle Iranian) mulai muncul dalam prasasti-prasasti di sekitar masa Buddha (abad ke-5 SM) – bahasa-bahasa ini sering disebut sebagai Prakerta yang berakar dari bahasa-bahasa Indo-Arya Kuno yang tidak digunakan lagi, seperti bahasa Weda; bahasa-bahasa Indo-Arya Baru adalah bahasa-bahasa modern di India Utara, seperti bahasa Hindi, Gujarati, dan Bengali.

Prakerta adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bahasa-bahasa daerah, yakni bahasa-bahasa lisan Indo-Arya Menengah yang berbeda dengan bahasa Sanskerta. Bermanfaat untuk memperhatikan arti kata Prakerta dan bagaimana hubungannya dengan Sanskerta.

Prakrta” dapat didefinisikan sebagai ‘alami’, ‘belum diperhalus’, atau ‘tidak dipoles’. "Prakrti" adalah kata yang terkenal dalam filsafat India dan dibedakan dengan Sanskerta yang berasal dari kata "Sanskerta" yang berarti ‘digabung’, hampir seperti ‘dihiasi’, ‘diperindah’. Dilihat dari pasangan kedua istilah ini, seolah-olah Prakrta diolah menjadi Sanskerta dan itu memang kemudian terjadi dalam sejarah Buddhis India.

Ada ajaran-ajaran awal yang menggunakan bahasa-bahasa Prakerta, ajaran-ajaran lisannya sudah pasti berbahasa Prakerta, bahasa setempat, dan seiring berjalannya waktu, bahasa Sanskerta semakin menjadi bahasa pilihan untuk transmisi ajaran dan teks Buddhis. Jadi, misalnya pada saat orang Tibet menerima tradisi ajaran ini, bahasa Sanskerta tampaknya merupakan bahasa Buddhis yang digunakan secara umum. Namun, di masa-masa awal, kondisinya tidak sesederhana itu.

Situasi ini agak janggal. Bahasa-bahasa Prakerta adalah bahasa turunan dari Sanskerta. Hubungan Prakerta dengan Sanskerta bisa dibandingkan seperti bahasa Romawi dengan bahasa Latin. Jadi, Sanskerta lebih tua sebagai bahasa, tetapi lebih baru sebagai bahasa transmisi teks-teks Buddhis. Meskipun jelas tidak mungkin, ini seolah-olah ajaran Kristen awal berbahasa Prancis, Italia, atau Spanyol, kemudian diubah ke dalam bahasa Latin. Jadi, dari segi bahasa, ada sesuatu yang terbalik dalam sejarah Buddhis di India.

Banyak jenis bahasa Prakerta yang berbeda-beda. Bahasa-bahasa turunan Sanskerta inilah yang digunakan di berbagai daerah di India, terutama di India Utara pada saat itu.

Melihat sejarah budaya penerjemahan ajaran Buddhis secara umum, sebelumnya muncul pertanyaan: Apakah ajaran-ajaran ini memang perlu diterjemahkan? Ataukah kita semua belajar Sanskerta serta membaca dan mempelajari ajaran dalam Sanskerta? Ataukah kita semua belajar Pali serta membaca dan mempelajari ajaran dalam Pali? Haruskah kita menerjemahkan? Ataukah kita biarkan ajaran-ajaran tersebut dalam bahasa aslinya?

Berguna untuk mengetahui terlebih dahulu pandangan Buddha sendiri mengenai pedoman penerjemahan seperti terdapat dalam suatu kisah di Vinaya Pali dan juga dalam Vinaya dari berbagai Nikaya atau tradisi lainnya.

Dalam Vinaya tradisi Pali yang di dunia modern dikenal sebagai Theravada, juga dalam Vinaya dari berbagai Nikaya lainnya, ditemukan suatu kisah tentang apa yang Buddha katakan mengenai hal ini. Karena secara luas ditemukan di berbagai kanon, itu menandakan bahwa kisah ini sudah ada sejak awal.

Dalam cerita ini, kita mendapat penegasan yang sangat jelas tentang pandangan Buddha sendiri mengenai pedoman penerjemahan dan ini sangat penting. Dalam kisah ini, Buddha menentang pelafalan ajaran-ajaran beliau secara formal dalam bahasa apa pun selain dalam bahasa daerah setempat: tidak menggunakan bahasa formal, gunakanlah bahasa lisan setempat.

Dikisahkan ada dua Brahmana bersaudara yang telah menjadi Buddhis dan sebagai Brahmana yang baik, mereka khawatir bahwa para biksu “dari berbagai asal-usul dan latar belakang keluarga” akan mencemari kata-kata Buddha dengan melafalkan ajaran beliau dengan cara masing-masing. “Mari kita perbaiki situasi ini,” dan kakak-beradik itu memberi saran kepada Buddha untuk merangkai kata-kata Buddha sebagai “chanda”, sebagaimana pelafalan teks-teks Weda, literatur keagamaan yang sangat mereka kenali.

Bagi para cendekiawan bahasa dan terutama peneliti sejarah India, hal yang sangat luar biasa tentang pelafalan teks Weda adalah ajaran-ajaran ini diteruskan secara lisan, tidak hanya selama berabad-abad, tetapi selama ribuan tahun dalam bahasa kuno yang sudah tidak lagi digunakan, termasuk oleh kedua Brahmana bersaudara ini. Dengan kata lain, mereka melafalkan syair-syair klasik ketika diajarkan ajaran suci Weda dan tradisi penghafalan itu dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap suku kata dapat diingat dan dipertahankan. Itulah sebabnya para akademisi modern dapat mencari tahu dari sumber-sumber ini yang sekarang telah tertulis, seperti apa Sanskerta Weda pada waktu itu dan bagaimana proses evolusi bahasa ini.

Kedua bersaudara itu tampaknya telah mengusulkan untuk melakukan sesuatu yang lebih elegan, lebih terstandarisasi, ajaran-ajaran Buddha yang ciri-cirinya lebih bisa dikenali sehingga tidak ada orang dari beragam aksen dan dialek lokal masing-masing yang akan mengacaukan ajaran-ajaran penting ini.

Tanggapan Buddha atas saran mereka sangat jelas dan sama sekali tidak ragu-ragu. Beliau melarang pelafalan ajaran-ajaran beliau dalam bentuk “chanda”, baik itu sebagai syair, dipercantik, atau dalam bahasa Weda asli. Apa pun bentuk “chanda” itu, beliau melarangnya. Kemudian, beliau memberikan instruksi yang jelas kepada para pengikutnya, “Ajarkanlah kata-kata Buddha dalam bahasa kalian masing-masing.”
Jadi, sejauh sumber-sumber yang sekarang ada, pedoman penerjemahan yang dibuat oleh Buddha sendiri – di mana tiada orang lain yang lebih layak untuk melakukan itu – adalah, “Ajarkan dalam bahasa apa pun yang dapat dipahami oleh masyarakat setempat.” Gunakanlah bahasa daerah, atau dalam konteks India, gunakan Prakerta. Tampaknya itulah yang dilakukan oleh para Buddhis di abad-abad awal ini.

Seperti telah disebutkan, ada beragam Prakerta yang digunakan di berbagai bagian India. Kita dapat memperoleh informasi konkret tentang Prakerta-Prakerta tersebut melalui prasasti-prasasti Raja Asoka yang berisi pesan-pesan kepada rakyatnya, diukir di batu dan ditempatkan di seluruh wilayah kekuasaannya. Kekaisaran Mauriya Asoka meliputi hampir seluruh anak benua India, kekaisaran terbesar hingga datangnya Inggris ke India.



Asoka menguasai wilayah yang sangat luas dan prasasti-prasastinya juga banyak ditemukan di wilayah tersebut. Berbicara tentang Asoka, biasanya kita langsung membahas tentang isi, misalnya betapa Asoka adalah raja yang mengagumkan dan bagaimana beliau meninggalkan kekerasan ketika menjadi Buddhis, dan sebagainya. Semua itu tentunya penting, tetapi yang juga menarik untuk diketahui adalah bahasa-bahasa apa yang digunakan dalam prasasti-prasasti itu. Dari sinilah para peneliti dapat menggunakan materinya karena prasasti-prasasti itu ditulis dalam berbagai jenis Prakerta dan beberapa di antaranya bahkan tidak dalam bahasa-bahasa India.

Wilayah kekuasaan Asoka meliputi apa yang saat ini dikenal sebagai Pakistan dan bahkan Afghanistan Timur. Di daerah-daerah ini, ada prasasti-prasasti yang diukir dalam bahasa Aram dan Yunani, serta Prakerta.

Bahasa Aram adalah bahasa yang digunakan Yesus dan merupakan bahasa Semit dari Timur Tengah. Ini dapat dimengerti ketika kita mengetahui bahwa bahasa Aram digunakan sebagai bahasa administrasi sipil oleh Kekaisaran Persia Akhaimenia. Itu sebabnya bahasa ini ada di sana. Ini adalah sisa-sisa peninggalan Persia. Bangsa Persia, yang merupakan bagian dari Indo-Eropa, menggunakan bahasa yang sepenuhnya berbeda untuk komunikasi tertulis administrasi sipil mereka.



Penggunaan bahasa Yunani tentu saja merupakan bagian dari peninggalan Iskandar Agung yang menduduki daerah itu dan meninggal sekitar satu abad sebelum masa Raja Asoka.

Bahasa Aram dan Yunani adalah contoh yang janggal dan luar biasa. Bahkan, ada prasasti dwibahasa yang memungkinkan bahasa-bahasa tersebut dibandingkan dengan Prakerta sehingga membantu menerjemahkan satu sama lain. Ini adalah kumpulan materi multibahasa yang sangat kaya, salah satu warisan paling berharga dari Raja Asoka. Prasasti-prasasti tersebut telah memungkinkan para cendekiawan memetakan beragam bahasa Prakerta yang digunakan di berbagai wilayah di India pada masa itu.

Berbicara tentang India Utara, dapat dibedakan fitur-fitur linguistik dan fonologis antara Prakerta Timur dan Prakerta Barat yang digunakan di pertengahan abad ke-3, jadi tergantung kronologi yang digunakan: kronologi pendek, kronologi panjang, sekitar satu atau dua abad setelah kehidupan Buddha.

Di manakah kedudukan Pali dalam konteks ini? Pali pastinya dapat diklasifikasikan sebagai salah satu dari sekian bahasa Indo-Arya Menengah (Middle-Indic) karena memang secara linguistik termasuk dalam teritori ini. Jadi, dalam arti spesifik, Pali dapat dikatakan adalah Prakerta. Namun, ketika kita memetakan Pali ke gambaran yang diberikan oleh prasasti-prasasti Asoka, para ahli literatur India menemukan sesuatu yang sangat janggal karena Pali tidak sesuai dengan profil Prakerta biasa.

Sebagaimana ditulis oleh ahli Pali terkemuka, Oskar von Hinüber, bahasa Pali menunjukkan campuran fitur timur dan barat, termasuk beberapa terminologi yang dianggap berasal dari bahasa Magadhi Kuno itu sendiri, bahkan bahasa yang lebih tua. Mayoritas karakteristik Pali sebenarnya lebih cocok dengan apa yang kita ketahui dari prasasti-prasasti itu sebagai Prakerta Barat, yaitu Prakerta Girnar, bukan Prakerta Timur. Ini cukup untuk menimbulkan pertanyaan apakah ada sesuatu dalam Pali yang memiliki kemiripan dengan bahasa yang digunakan oleh Buddha, mengingat bahwa Buddha hidup dan mengajar di bagian timur wilayah ini, sedangkan Pali adalah bahasa campuran yang mengandung sedikit fitur Prakerta Timur dan mayoritas fitur Prakerta Barat.

Pali, dengan kata lain, adalah bahasa hibrida yang terdiri dari campuran khas berbagai dialek. Untuk menyimpulkan karya Oskar von Hinüber dan pakar-pakar lainnya, fakta tentang bahasa hibrida Pali ini memiliki beberapa implikasi penting dan mencolok.

Jelas Pali bukanlah bahasa yang digunakan Buddha.

Tidak hanya Buddha tidak berbicara Pali, tak seorang pun berbicara Pali. Pali, menurut Oskar von Hinüber, adalah bahasa buatan yang dihimpun dari berbagai bahasa lisan untuk menghasilkan apa yang disebut sebagai “lingua franca” dengan tujuan untuk menyebarkan ajaran Buddha melintasi batas dialek dan mungkin juga batas bahasa. Jadi, Pali adalah bahasa kompromi yang dibuat dari penggalan-penggalan berbagai bahasa di India saat itu. Bahasa ini dimaksudkan untuk menjadi bahasa pengantar yang digunakan secara luas untuk teks keagamaan, tidak hanya untuk kanon Tripitaka, tapi di masa berikutnya digunakan juga untuk ulasan-ulasan dan teks-teks seperti Dipavamsa di abad ke-3 atau ke-4 dan Mahavamsa di abad ke-5 yang disusun di Sri Lanka untuk menceritakan sejarah Buddhadharma seiring dengan sejarah Sri Lanka.

Jadi, Pali sudah menunjukkan adanya penyimpangan dari pedoman proses bahasa yang sudah kita bahas. Ini bukan bahasa siapa pun dan idealnya merupakan bahasa semua orang, setidaknya sebagai suatu bahasa untuk mempelajari dan mengulang ajaran-ajaran dan teks-teks Buddhadharma. Cara lain untuk mendeskripsikannya, ini boleh disebut bahasa kompromi.

Implikasi lain yang mengejutkan tentang hal ini, bahkan mungkin mengagetkan bagi sebagian orang yang menganggap Pali sebagai kata-kata Buddha yang sebenarnya, yakni: teks-teks Pali tidak bisa dikatakan sebagai asli.

Teks dalam Pali bukanlah ajaran-ajaran asli dalam dialek siapa pun. Pali adalah terjemahan atau setidaknya transposisi dari berbagai elemen Prakerta ke kata-kata yang berbeda. Pali adalah "terjemahan" dari satu dialek yang berhubungan erat dengan dialek lain. Tentu saja peralihannya jauh lebih mudah daripada, misalnya, menerjemahkan dari bahasa India ke bahasa Tionghoa atau bahasa Tibet, tetapi proses peralihan tersebut tetap merupakan semacam penerjemahan.

Dengan Pali, kita melihat bukti adanya upaya merubah teks keagamaan dari satu atau mungkin banyak bahasa berbeda yang digunakan, bahkan bahasa dari wilayah timur laut India, menjadi bahasa tertulis yang “baku”.

Istilah “Pali” merupakan hasil dari kesalahpahaman yang sudah lama kita warisi. Ini adalah kesalahpahaman dalam tradisi-tradisi Asia di abad pertengahan. Istilah “Pali” tidak ada dalam Tipitaka Pali, tetapi merupakan istilah yang digunakan dalam ulasan-ulasan yang berasal dari lapisan literatur Buddhis yang muncul belakangan. Ketika istilah “Pali” muncul, kemunculannya adalah dalam konteks “pali bhasha,” artinya bahasa Pali.

Pali terdengar dan terlihat seperti nama suatu bahasa, sebagaimana bahasa Perancis, bahasa Sanskerta, atau bahasa Tionghoa, tetapi sebenarnya bukan. Pali bukanlah nama bahasa, tetapi “pali” berarti ‘teks’, tepatnya teks keagamaan dan tidak hanya yang tertulis. Jadi, “pali basha” adalah ‘bahasa teks/pengajaran’ yang sekali lagi mengingatkan kita bahwa ini bukanlah bahasa percakapan lisan, tetapi adalah bahasa untuk teks yang dibuat dengan tujuan sangat khusus.

Oskar von Hinüber telah melacak ini beberapa waktu lalu dan K. R. Norman juga telah membahasnya. Umat Buddha Asia juga mulai salah memahami ini sebagai nama bahasa. Mereka lupa bahwa Pali berarti teks, sejenis teks tertentu, dan mereka mulai menganggap itu sama seperti ungkapan lainnya, bahwa itu adalah nama bahasa. Jika bahasa itu memiliki nama, mungkin bisa disebut Prakerta Hibrida Buddhis atau sejenisnya.

Ketika tradisi lisan ini mengalami transposisi atau diterjemahkan ke dalam Pali, ini bukan semacam pekerjaan linguistik atau perubahan dramatis seperti yang kita lihat, misalnya dalam terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, Septuaginta, atau alih bahasa ajaran Kristen awal dari bahasa Aram ke bahasa Yunani Koine, bahasa lisan Yunani yang digunakan dalam Perjanjian Baru. Ini adalah pergeseran dari satu kelompok bahasa ke bahasa lain.

Di India, apa yang kita lihat adalah pergeseran di antara bahasa-bahasa Prakerta, pergeseran dari satu bahasa Indo-Arya Menengah ke bahasa Indo-Arya Menengah lainnya seiring menyebarnya Buddhadharma ke wilayah-wilayah yang lebih jauh.

Jadi, kapan Pali menjadi bahasa keagamaan? Persisnya kita tidak tahu, tidak mungkin mendapatkan tanggal pastinya, tetapi terdapat satu tolok ukur yang sangat penting dalam sejarah tradisi Pali, yaitu kitab suci Pali ditulis menjelang akhir abad pertama Masehi, kira-kira di tahun 20-an menurut sumber tradisional setelah itu.

Mengapa ajaran-ajaran lisan itu perlu ditulis? Ini dilakukan di Sri Lanka. Alasan umumnya adalah ketakutan selama tradisi itu bersifat lisan, seandainya biksu terakhir yang dapat melafalkan Digha Nikaya meninggal dalam wabah kelaparan, maka segalanya akan hilang. Jika ada wabah kelaparan, jika ada perang saudara, jika ada epidemi – bagi tradisi yang bergantung pada ingatan luar kepala orang-orang yang melafalkan teks-teks ini – maka akan menjadi sebab berakhirnya silsilah untuk sebagian maupun keseluruhan kanon. Itulah alasan yang biasanya diberikan untuk ini.

Steve Collins baru-baru ini berpendapat bahwa ini sebenarnya adalah perseteruan antar-Nikaya dan mereka yang menulis teks-teks Pali mencoba mendapatkan posisi unggul dalam perseteruan ini. Tampaknya mereka berhasil. Tradisi Pali berkembang luar biasa dalam peran dan pengaruhnya di waktu itu dan di abad-abad setelahnya.

Akan tetapi, apa yang penting untuk diperhatikan di sini adalah betapa radikalnya pergeseran ini dari praktik Buddhadharma sebelumnya. Bukan hanya praktik Buddhadharma saja, tetapi praktik keagamaan di seluruh India.

Ajaran-ajaran suci tidak pernah ditulis sebelumnya.

Kita ketahui bahwa tradisi Weda dihafalkan dan diwariskan secara lisan, tapi bukan semata-mata karena mereka ahli dalam hal ini. Di satu sisi, jika disampaikan secara lisan, maka dapat ditentukan secara spesifik siapa yang mendapat akses ke ajaran Weda dan tidak semua orang berhak mendapatkan aksesnya. Jadi, aspek esoteris transmisi dapat dipertahankan melalui cara ini. Ajaran ini tidak akan jatuh ke tangan sembarang orang yang tidak memenuhi syarat yang menemukannya, mengambilnya, dan membacanya.

Tetapi lebih dari itu, ada bagian menarik dalam ajaran Weda, atau Weda yang belakangan, yaitu Aitareya Aranyuka yang memuat daftar hal-hal yang mendiskualifikasi seseorang dari melakukan ritual Weda. Dengan kata lain, dia harus mempurifikasi diri sebelum dapat memasuki lingkup suci. Daftar tersebut, sebagaimana dapat diduga, memuat banyak persyaratan yang harus dipenuhi, seperti: tidak menyentuh mayat, tidak menyentuh darah, tidak melakukan hubungan seksual, tetapi berikutnya adalah: tidak menulis, termasuk tidak menghapus tulisan. Dari sudut pandang Brahmana, semua itu dianggap kegiatan yang tercemar. Ini menunjukkan betapa tidak dapat diterimanya siapa pun di bagian dunia itu untuk menuliskan Veda, Upanishad, atau ajaran-ajaran suci lainnya.

Sangat jelas di dalam Aitareya Aranyuka bahwa menulis ajaran adalah aktivitas yang mencemari. Jadi, betapa luar biasanya pergeseran atau penyimpangan ini dari praktik umum di India, yaitu menulis ajaran-ajaran suci Buddhadharma. Perhatikanlah di mana ini terjadi. Ini tidak terjadi di Magadha, juga tidak terjadi di Madyadesa, daerah pusat. Bahkan, tidak terjadi di benua itu, melainkan terjadi di Sri Lanka, jauh dari pusat Brahmana, daerah di mana tidak terdapat kendala-kendala seperti itu.

Ini menarik dan menjadi lebih menarik lagi ketika kita melihat tempat lain yang diketahui juga sebagai tempat ditulisnya ajaran-ajaran Buddhis. Takjubnya, ini terjadi pada saat yang kurang lebih sama, yaitu pada abad ke-1 SM, di ujung berlawanan anak benua India, yaitu di Pakistan Utara dan Afghanistan Selatan, di suatu wilayah yang dikenal sebagai Gandhara dan bahasa yang digunakan adalah Gandhari.

Ada legenda, tradisi, mungkin sejarah, cerita yang mengisahkan penulisan kanon Pali di abad ke-1 SM. Akan tetapi, manuskrip-manuskrip Pali yang ada sekarang adalah manuskrip yang ditulis lebih dari seribu tahun kemudian. Ada dua lembar yang ditemukan di Nepal yang berasal dari abad ke-8 atau 9, sedangkan sebagian besar lainnya berasal dari abad ke-15 dan seterusnya. Oskar von Hinüber menjelaskan bahwa iklim adalah penyebab benda-benda, terutama daun lontar, tidak akan dapat bertahan dengan baik, terutama jika tidak terkubur di padang pasir atau di suatu tempat yang setidaknya sedikit lebih dingin dan tidak begitu lembab.

Mengenai Gandhari, kita memiliki manuskrip dari abad ke-1 SM yang telah dilakukan carbon dating (dihitung usianya berdasarkan uji karbon). Naskah ini dapat dikatakan sebagai teks literatur India tertua, bukan dipahat pada batu, tetapi menggunakan media pilihan wilayah ini, yaitu ditulis pada kulit pohon betula dan berbahasa Gandhari. Jadi, kita memiliki bukti fisik autentik dari teks suci Buddhadharma yang diedarkan secara tertulis di ujung lain dari lingkup budaya India. Gandhari juga adalah Prakerta, di mana dari daerah inilah bahasa Yunani dan Aram digunakan. Menariknya, itu tertulis dalam skrip yang bersumber dari bahasa Aram, ditulis dari kanan ke kiri tetapi dalam bahasa Indo-Arya Menengah. Jelas itu Prakerta, jadi Gandhari adalah sepupu Pali, tapi sangat jelas berbeda. Gandhari adalah gaya Prakerta dari wilayah barat laut.

Di sini, dalam hal Pali dan Gandhari, dapat dilihat bahwa teks yang kita miliki adalah hasil terjemahan. Dalam manuskrip Gandhari, ada kata-kata yang tampil dalam bentuk yang tidak lazim digunakan dalam Gandhari pada umumnya. Oskar von Hinüber menunjukkan hal yang sama dalam Pali. Jadi, kita dapat melihat jejak-jejak dari mana teks-teks Pali dan Gandhari ini berasal. Ini adalah gambaran yang luar biasa. Dalam lingkup budaya India, hanya di dua Prakerta tersebut terdapat bukti nyata bahwa kedua-duanya tertulis.

Seperti yang bisa kita lihat, kedua bahasa tersebut menyebar jauh di luar wilayah asalnya. Kisah Pali cukup jelas: dari Sri Lanka kemudian diekspor ke Asia Tenggara dan menjadi bahasa keagamaan di sana. Kisah Gandhari menjadi lebih jelas dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan penelitian mutakhir yang menunjukkan banyak bukti bahwa beberapa teks awal di Tiongkok berasal dari Gandhari, walaupun tidak eksklusif hanya dalam Gandhari.

Beberapa lainnya mungkin ditransmisikan secara lisan, ada juga campuran lisan dan tulisan yang sampai ke Tiongkok. Terkadang dalam terjemahan bahasa Tionghoa terlihat bukti konkret, seperti transkripsi dalam pengucapan istilah yang merujuk ke Gandhari, bukan Prakerta lainnya.

Pali menyebar keluar dari Asia Selatan, dari Sri Lanka ke Asia Tenggara, tentunya melalui rute laut. Kemudian di barat laut, Gandhari masuk ke Tiongkok melalui Jalur Sutera.

Beberapa tahun terakhir ditemukan teks di Pakistan dan Afghanistan. Namun, hampir seabad lalu sudah ditemukan bukti Gandhari dari Asia Tengah bagian timur, yaitu Cekungan Tarim, bagian selatan dari apa yang sekarang dikenal sebagai Xin Jiang di Republik Rakyat Tiongkok, salah satunya adalah Dharmapada versi Gandhari. Jelas teks-teks Buddhadharma dulunya diekspor ke Tiongkok melalui wilayah ini.

Jadi, Pali dan Gandhari adalah bahasa yang digunakan untuk mentransmisikan dan menulis literatur Buddhadharma. Fakta dituliskannya ini telah banyak membantu melestarikan Buddhadharma di luar India. Dengan keluar dari daerah asalnya maka budaya-budaya lain inilah yang melestarikannya ketika Buddhadharma dan beberapa wilayah-wilayah mulai hilang.

Kita menemukan bukti dari sumber-sumber sekuler bahwa Buddhadharma telah dikenal pada abad ke-1 di wilayah-wilayah pada ujung batas lingkup budaya India hingga ke Tiongkok. Sejarah dan puisi menyebut tentang para biksu Buddhis dan sebagainya. Namun, penerjemahan teks-teks Buddhadharma ke bahasa lain selain bahasa India dimulai di pertengahan abad ke-2. Ini merupakan hal yang luar biasa, salah satu yang menakjubkan tentang transmisi budaya dalam sejarah dunia.

Kata Sanskerta “pustaka”, dalam Pali "pitika", merupakan hal yang menarik untuk dicatat. Pustaka tampaknya merupakan kata pinjaman dari Iran. Kata ini pertama kali muncul dalam literatur Buddhadharma, dan terutama dalam literatur Buddhadharma, serta digunakan untuk suatu kategori yang sebelumnya tidak ada di India, yaitu teks-teks agama tertulis. Mereka tidak mempunyai istilah untuk itu sehingga membutuhkan sebuah kata dan disebutlah “pustaka”.

Jadi, jika kita membaca bagian-bagian, misalnya, dalam Sutra Prajnaparamita Delapan Ribu Sloka (Astasahasrika Prajnaparamita Sutra) tentang menuliskan teks menjadi buku, kata yang digunakan adalah untuk membuatnya menjadi “pustaka”.

Apa arti kata “pustaka” dalam bahasa asalnya, bahasa Iran? Artinya adalah kulit. Orang Iran menulis di kulit sapi. Secara tradisional, kitab suci Zoroastrian dicatat di kulit sapi yang merupakan media tulisan di wilayah tersebut. Jadi, “pustaka” adalah sesuatu yang ditulis di kulit sapi.

Para Buddhis tidak mengikuti cara tersebut, mereka tidak menulis kitab suci di kulit sapi. Di barat laut, mereka menulisnya di kulit pohon betula. Di Sri Lanka, mereka menulisnya di atas daun lontar, seperti yang dilakukan di daratan India. Ini adalah contoh yang sangat baik tentang betapa asingnya suatu konsep sehingga harus meminjam sebuah kata yang arti sesungguhnya mungkin dengan cepat dilupakan di India. Ini diambil dari lingkup budaya Iran, tetangga India, sedikit ke utara, untuk menggambarkan sesuatu yang tidak ada di India sebelumnya: teks-teks keagamaan yang tertulis.

Jan Nattier
Hua Hin, Thailand

***
Jan Nattier meraih gelar sarjana di bidang Pembandingan Agama (spesialisasi Buddhadharma) di Universitas Indiana, di mana beliau juga memulai pendidikan pascasarjana di Departemen Studi Ural dan Alta. Jan Nattier meraih gelar doktor di Universitas Harvard di bawah Committee on Inner Asian and Altaic Studies (spesialisasi bahasa Mongolia dan Tibet klasik). Beliau pernah mengajar di Macalester College, Universitas Hawai, Universitas Stanford, Universitas Indiana, dan Universitas Tokyo, serta menjabat sebagai anggota dari International Research Institute for Advanced Buddhology (Universitas Soka). Karya tulis ilmiah beliau termasuk: Once Upon a Future Time: Studies in a Buddhist Philosophy of Decline (Asian Humanities Press, 1991), A Few Good Men: The Bodhisattva Path According to the Inquiry of Ugra [Ugraparipṛcchāsūtra] (University of Hawai'i Press, 2003), dan A Guide to the Earliest Chinese (Universitas Soka, 2008).


***
Revisi: November 2019.

Baca Lebih Lanjut

Dalam Bahasa Apakah Buddha Berbicara? (What Language Did the Buddha Speak?) Berdasarkan Ceramah Utama oleh Prof. Jan Nattier | Potowa Dharma Center