Tindakan dalam arti tidak mencederai makhluk lain. Ini adalah sesuatu yang berguna secara universal, sesuatu yang dihargai semua orang, baik mereka yang beragama maupun tidak.
Cara pandang merujuk pada prinsip kesalingterkaitan. Kebahagiaan dan penderitaan (duhkha), serta makhluk-makhluk yang mengalaminya, tidak muncul tanpa sebab, juga tidak disebabkan oleh pencipta abadi. Kenyataannya, segala sesuatu muncul dari sebab-sebab yang sesuai. Pemikiran ini diyakini oleh semua tradisi Buddhadharma, oleh karena itu, saya biasanya mengatakan bahwa cara pandang kita adalah pengertian kesalingterkaitan.
Pengertian kesalingterkaitan membawa keterbukaan pikiran. Secara umum, alih-alih tahu bahwa apa pun yang kita alami muncul dari jaringan sebab-sebab yang rumit, kita cenderung menganggap, sebagai contoh, kebahagiaan atau kesedihan, bersumber dari sebab-sebab yang berdiri sendiri. Tapi jika demikian halnya, begitu kita mengalami sesuatu yang kita anggap baik, seharusnya secara otomatis kita akan bahagia, sebaliknya, ketika mengalami hal-hal yang tidak baik, kita akan selalu bersedih. Sebab-sebab kebahagiaan dan kesedihan akan mudah diidentifikasi dan ditargetkan. Semuanya akan menjadi sangat mudah, dan akan ada alasan yang masuk akal untuk menolak, marah atau terikat. Di sisi lain, jika kita menganggap segala sesuatu yang kita alami adalah hasil dari kesalingterkaitan yang kompleks dari sebab-sebab dan kondisi-kondisi, kita temukan bahwa tidak ada satu hal pun yang patut didamba atau ditolak; klesha: ketertarikan (lobha) atau penolakan (dvesha) pun akan lebih sulit untuk muncul. Dengan demikian, pengertian kesalingterkaitan membuat citta kita lebih rileks dan terbuka.
Dengan membudidayakan citta kita dan membiasakannya dengan pengertian ini, kita mengubah cara kita melihat sesuatu, dan sebagai hasilnya, lambat-laun kita mengubah perilaku kita dan mengurangi tindakan mencelakai makhluk-makhluk lain. Seperti dikatakan dalam sutra-sutra:
Tinggalkanlah perbuatan negatif;
Tumbuhkembangkan kebajikan;
Disiplinkan pikiranmu;
Inilah ajaran [para] Buddha.
Kita hendaknya meninggalkan tindakan-tindakan negatif sekecil apa pun, dan melakukan tindakan-tindakan positif bahkan yang paling kecil sekalipun, tanpa menganggapnya remeh. Alasan untuk hal ini dikarenakan kebahagiaan yang kita semua inginkan dan penderitaan yang kita semua coba hindari, persis adalah hasil dari tindakan-tindakan, atau karma kita.
Semua yang kita alami, seakan-akan terprogram oleh tindakan-tindakan kita, dan ini pada gilirannya tergantung sikap kita. Apa pun yang kita lakukan, katakan, dan pikirkan di masa muda merupakan sebab kebahagiaan atau sebab penderitaan yang kita alami di hari tua. Lebih lanjut, apa yang kita lakukan dalam hidup ini akan menentukan kebahagiaan atau penderitaan di kehidupan mendatang. Dan tindakan-tindakan di kalpa ini akan menghasilkan pengalaman-pengalaman di kalpa-kalpa mendatang. Ini yang dimaksud prinsip karma, prinsip sebab-akibat.
Berlandaskan ini, suatu tindakan disebut negatif atau tidak bajik jika membawa penderitaan, sesuatu yang kita ingin hindari. Disebut positif atau bajik jika membawa kebahagiaan, sesuatu yang kita inginkan. Kita menganggap suatu tindakan itu positif atau negatif, bukan dari segi tindakan itu sendiri tetapi didasari apakah itu membawa kebahagiaan atau penderitaan.
Ini semua tergantung motivasi, karenanya teks-teks mengatakan, “Disiplinkan pikiranmu.” Pikiran yang tidak disiplin akan mengalami penderitaan, sebaliknya pikiran yang terdisiplin akan bahagia dan damai.
Penting untuk mengetahui bahwa semua cara mendisiplinkan pikiran dilakukan melalui petunjuk-petunjuk: ekstensif (vistara) dan mendalam (gambhiram). Penawar dari penolakan (dvesha) adalah meditasi cinta kasih. Untuk mengatasi ketertarikan (lobha), kita hendaknya memeditasikan ketidakmurnian (asubha) dari apa pun yang memikat kita. Penawar dari kesombongan adalah meditasi atas skandha-skandha, atau agregat-agregat. Untuk mengatasi kesalahpengertian (avidya) kita hendaknya memperhatikan gerakan napas dan mengontemplasikan kesalingterkaitan.
Sumber dari pikiran yang bergejolak sebenarnya adalah kesalahpengertian (avidya), di mana karenanya, kita gagal memahami sesuatu sebagaimana adanya. Pikiran didisiplinkan dengan memurnikan kesalahpengertian kita tentang realitas. Inilah ajaran Buddha. Melalui budidaya pikiran inilah, kita dapat mentransformasi cara kita berbuat, berbicara, dan berpikir.
Pada titik ini, akan membantu untuk membahas sesuatu mengenai ajaran Buddha secara umum. Menurut [perspektif] Mahayana, setelah merealisasi penggugahan, Buddha memutar Roda Dharma, membabarkan ajaran beliau dalam tiga tahap.
Pertama-tama, beliau mangajarkan Empat Kenyataan Arya, yang merupakan dasar seluruh Buddhadharma. Yakni, kenyataan tentang duhkha, kenyataan tentang sumber duhkha, kenyataan tentang berhentinya duhkha, dan kenyataan tentang jalan yang menghantarkan pada berhentinya duhkha.
Pada putaran Roda Dharma kedua (atau pertengahan), beliau memberikan ajaran tentang shunyata serta aspek-aspek marga yang mendalam dan terperinci, yang membuahkan sutra-sutra Prajnaparamita.
Pada putaran Roda Dharma ketiga, beliau membabarkan ajaran tentang shunyata dalam cara yang lebih bisa dimengerti. Dalam sutra-sutra seperti Sutra Tathagatagarbha (Sutra of Buddha Nature), beliau membabarkan kenyataan terdalam yang tidak “berbelah” (advaya) dari subjek dan objek. Ini juga merupakan pokok bahasan dalam Uttaratantra Shastra (Sublime Continuum).
Sumber duhkha – yakni klesha – dapat dimengerti dengan berbagai tingkat kedalaman, dan ini membutuhkan pemahaman tentang sifat keberadaan dari pengalaman (apa pun yang dialami).
Pada putaran Roda Dharma kedua, Buddha menjelaskan dengan mendetail kenyataan tentang berhentinya duhkha. Beliau menunjukkan bahwa analisis yang semakin mendalam terhadap pengalaman (apa pun yang dialami) menghasilkan pemahaman yang semakin seksama tentang klesha, dan pada akhirnya, menghasilkan pandangan yang semakin tajam mengenai shunyata. Ini pada gilirannya menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kenyataan jalan yang menghantarkan pada berhentinya duhkha.
Pada putaran Roda Dharma ketiga, kita temukan penjelasan mendetail mengenai marga untuk merealisasi penggugahan. Putaran Roda Dharma ketiga menekankan potensi yang kita semua miliki untuk pengugahan di masa mendatang. Potensi ini, yang disebut Tathagatagarbha atau benih penggugahan, adalah sesuatu yang senantiasa kita punya, sejak masa tak berawal. Ketika berbicara mengenai jalan yang menghantarkan pada berhentinya duhkha, kita tidak berbicara mengenai sesuatu yang sepenuhnya asing bagi sifat keberadaan kita, yang mungkin muncul tiba-tiba seperti jamur, seolah-olah tanpa benih atau sebab. Ini dikarenakan kita punya landasan atau kapasitas untuk memiliki pengetahuan sempurna sehingga kita dapat merealisasi penggugahan.
Teks-teks yang termasuk dalam Putaran Roda Dharma kedua menunjukkan sifat shunya dari semua pengalaman, sementara Sutra Tathagarbha (Sutra of Buddha Nature) dan ajaran-ajaran lainnya yang berhubungan dengan putaran Roda Dharma ketiga menekankan prajna, aspek citta yang semata-mata “tahu” dan “jernih.”
Pertama-tama Buddha mengajarkan Empat Kenyataan Arya sebagai landasan dari semua ajaran beliau. Sewaktu mengelaborasi ajarannya, beliau menyesuaikan kata-kata beliau agar selaras dengan berbagai kebutuhan dan kapasitas [para pendengar]. Cara beliau mengajar sangat bervariasi, dan apa yang beliau sampaikan, tingkat kedalamannya berbeda-beda tergantung siapa yang beliau tujukan. Oleh karena itu, adalah penting untuk mengetahui ajaran mana yang mengungkap pengertian terdalam dan ajaran mana yang disesuaikan dengan kapasitas murid-murid beliau.
Jika setelah dianalisa kita temukan kata-kata Buddha diartikan secara harafiah, tampak tidak logis atau membawa kontradiksi, kita hendaknya tahu bahwa ajaran-ajaran demikian adalah ungkapan dari kenyataan konvensional yang disesuaikan dengan tingkat pengertian orang-orang tertentu. Di sisi lain, jika kata-kata beliau bisa diartikan secara harafiah dan tanpa kontradiksi atau kekeliruan, kita dapat menerima ajaran-ajaran ini sebagai ungkapan dari kenyataan terdalam (ultimate).
Keyakinan (sraddha) sangatlah penting dalam Buddhadharma, tetapi lebih penting lagi adalah prajna – ketajaman pikiran. Keyakinan sejati hendaknya didasari logika. Semata-mata berucap, “Saya andalkan,” atau “Saya berbakti,” secara membabi-buta dan tanpa kontemplasi, tidak ada gunanya. Tanpa disidik secara logis, tidak mungkin dapat membedakan apakah Buddha berbicara dalam arti konvensional atau relatif, atau apakah kata-kata beliau hendaknya diartikan secara harafiah sebagai ungkapan dari kenyataan terdalam. Inilah alasannya sutra-sutra menyebut empat andalan:
Jangan andalkan orangnya, tapi andalkan ajaran-ajarannya.
Jangan andalkan kata-kata, tapi andalkan artinya.
Jangan andalkan arti konvensional, tapi andalkan arti terdalam.
Jangan andalkan apa yang diketahui secara intelektual, tetapi andalkan prajna.
Bertolak belakang dengan pemahaman intelektual, sifat keberadaan citta adalah “jernih” dan “tahu,” serta tidak pernah terselubung oleh halangan-halangan. Praktik Mahayana sepenuhnya didasari pemahaman demikian.
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Juli 2018.






