Teks Topikal

Dialog-Dialog Dengan Shitou Xiqian: Harta Karun Hutan Para Guru Leluhur (Encounter Dialogues of Shitou Xiqian: Treasury of the Forest of Ancestors)

Maha Guru Shitou Xiqian dibesarkan di dekat Guangzhou di ujung selatan. Sewaktu masih kecil, beliau berkunjung ke suatu vihara bersama ibunya. Ibunya membawanya ke hadapan rupang Buddha, memberitahunya untuk bersujud, dan berkata, “Ini adalah Buddha.” Setelah bersujud, Shitou Xiqian muda memandang rupang Buddha sejenak dan kemudian berkata, “Ini hanyalah seorang manusia. Jika beliau disebut Buddha, saya juga ingin menjadi Buddha.”

Di desa beliau ada ritual pengurbanan hewan-hewan untuk menyenangkan makhluk-makhluk halus. Sewaktu masih kecil, Master biasanya pergi ke hutan, menghancurkan altar ritual kurban, membebaskan hewan-hewan, dan menghalau pergi hewan-hewan tersebut. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun, dan para sesepuh desa tidak pernah bisa menghentikannya.

Ketika berusia 13 tahun, Xiqian pergi ke Caoxi dan menjadi sramanera di bawah bimbingan Master Huineng. Tak lama kemudian Master Huineng wafat. Kemungkinan besar Xiqian tinggal di daerah itu, dan akhirnya ditahbiskan menjadi biksu di usia yang relatif tidak muda yaitu 28 tahun di Gunung Luofu di Guangzhou. Kemudian beliau melakukan perjalanan ke utara untuk belajar dengan Master Qingyuan Xingsi, murid dari Huineng, di Jiangxi tengah.

Menurut salah satu versi, berikut adalah percakapan pada pertemuan pertama beliau dengan Master Qingyuan:
Master Qingyuan bertanya, “Dari mana engkau datang?”
Xiqian berkata, “Dari Caoxi.”
Master Qingyuan bertanya, “Apa yang engkau bawa?”
Xiqian berkata, “Apa yang tak pernah hilang bahkan sebelum saya pergi ke Caoxi.”
Master Qingyuan bertanya, “Lalu untuk apa engkau pergi ke sana?”
Xiqian berkata, “Jika saya tidak pergi ke sana, bagaimana saya tahu itu tak pernah hilang?”
Master Qingyuan berkenan atas jawabannya.
Kemudian Xiqian bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu Guru dari Caoxi?”
Master Qingyuan berkata, “Sekarang, apakah engkau kenal saya atau tidak?”
Xiqian berkata, “Meski saya mungkin kenal denganmu, bagaimana saya bisa benar-benar tahu?”
Master Qingyuan lalu menerima Xiqian masuk dalam komunitas Sangha.

Xiqian mencapai penggugahan mendalam ketika membaca suatu bagian ulasan oleh Seng Zhao (374?-414), murid Kumarajiva, seorang penerjemah dari India. Bagian tersebut berbunyi: “Diri sesungguhnya bersifat shunya dan tidak hakiki. Walaupun diri tidak memiliki wujud, tak terhingga hal tercipta darinya. Siapa pun yang merealisasi bahwa tak terhingga hal adalah dirinya sendiri, dia tidaklah berbeda dengan para Muni.”

Suatu hari Master Qingyuan berkata kepada Xiqian, “Semua orang berkata ada sesuatu yang terjadi di Lingnan.” (pegunungan di selatan, di mana Zen sedang berkembang).
Xiqian menjawab, “Ada seseorang yang tidak mengatakan bahwa sesuatu terjadi di Lingnan.”
Master Qingyuan berkata, “Jika demikian, menurutmu dari mana semua ajaran datang?”
Xiqian berkata, “Semuanya datang dari sini, dan tidak ada yang kurang.”
Master Qingyuan berkenan atas jawaban itu.

Setelah Master Qingyuan wafat, Xiqian melakukan perjalanan ke Puncak Selatan (Nanyue) di daerah pegunungan Heng di Hunan, dan membangun sebuah gubuk beratap rumput di tebing bebatuan di sisi suatu bukit. Karena tempat pertapaan beliau ada di atas batu, Xiqian kemudian dikenal sebagai Shitou Heshang (Biksu “Di atas Batu”). Tinggal berdekatan dengan paman spiritualnya, Nanyue Huairang, hampir bisa dipastikan keduanya menjalin hubungan. Pada satu cerita (dalam ‘Koleksi dari Ruangan Para Guru Leluhur’) ada percakapan antara Xiqian dan Master Nanyue:

Xiqian bertanya, “Apa yang kita lakukan ketika para guru tak lagi dibutuhkan, tetapi pemahaman kita sendiri belum diakui?”
Nanyue berkata, “Pertanyaan itu terlalu angkuh. Bagaimana kalau bertanya sesuatu yang lebih rendah hati?”
Xiqian berkata, “Walaupun terlahir berulang-ulang tanpa akhir, kita tidak dapat mencapai pembebasan dengan mengikuti orang lain.”
Master Nanyue hanya diam. Xiqian kemudian pergi.
Kemudian seorang biksu asisten datang dan berkata kepada Master Nanyue, “Biksu yang baru-baru ini mendatangimu dan bertanya – biksu yang agak tidak sopan itu – sekarang menjalankan praktik di tebing bebatuan di sebelah timur dari sini.”
Master Nanyue berkata kepada biksu asisten tersebut, “Pergilah ke sana dan katakan padanya bahwa orang dengan tekad yang begitu kuat, akan diterima dengan baik untuk berlatih di vihara kita.”
Biksu asisten kemudian menyampaikan pesan tersebut, tapi Xiqian menolak tawarannya.
Nanyue berkata, “Tidak ada orang yang dapat menandingi dia.”
Master Nanyue kemudian membantu untuk mendirikan bangunan vihara kecil untuk Xiqian di dekat lokasi gubuknya. Xiqian mulai didatangi murid-murid dan dikenal sebagai Master Shitou, yang akhirnya menjadi salah satu guru yang paling berpengaruh dalam tradisi Zen.

Suatu ketika seorang biksu bertanya kepada Master Shitou, “Apa pentingnya Bodhidharma datang dari India?”
Master berkata, “Tanyakan kepada tonggak di sana.”
Biksu tersebut berkata, “Saya tidak mengerti.”
Master berkata, “Saya juga tidak mengerti.”

Suatu ketika seorang biksu bernama Shili bertanya, “Apa yang harus dilakukan oleh para biksu?”
Master Shitou berkata, “Untuk apa engkau bertanya kepadaku?”
Shili berkata, “Jika saya tidak bertanya padamu, bagaimana saya bisa tahu sebagaimana adanya?”
Shitou berkata, “Apakah engkau yakin engkau telah kehilangan itu (sebagaimana adanya)?”

Biksu Daowu suatu ketika bertanya, “Siapakah yang telah merealisasi inti ajaran dari guru di Caoxi?”
Master Shitou berkata, “Mereka yang telah mengerti ajaran-ajaran Buddhadharma.”
Daowu bertanya, “Jadi, apakah engkau sudah mencapai itu?”
Master berkata, “Saya tak pernah mencapainya.”
Daowu berkata, “Mengapa tidak?”
Master berkata, “Karena saya tidak mengerti Buddhadharma.”

Di lain kesempatan Daowu bertanya, “Apa ajaran dasar dari Marga Buddha?”
Master Shitou berkata, “Tidak mencapai, tidak mengetahui – engkau sudah punya itu.”
Daowu bertanya, “Apakah ada sesuatu di luar dari ini?”
Master berkata, “Awan-awan putih bebas melintas di angkasa yang luas.”

Ketika Biksu Baotong pertama kali datang untuk belajar dengan Master Shitou, Master bertanya kepadanya, “Apakah engkau dapat menunjukkan citta-mu kepadaku?”
Baotong menjawab, “Yang membeda-bedakan kata-katamu adalah citta-ku.”
Master meneriakinya dan mengusirnya.
Kemudian Baotong menghampiri Master Shitou lagi dan berkata, “Jika apa yang saya katakan sebelumnya bukan citta-ku, lalu apakah itu?”
Master berkata, “Tanpa mengernyitkan alismu atau tanpa berkedip, tunjukkan padaku citta-mu.”
Baotong berkata, “Saya tidak memiliki citta tertentu untuk ditunjukkan padamu.”
Master berkata, “Dari dulu engkau memiliki citta, lalu mengapa berkata engkau tidak memilikinya? Jika engkau menyangkalnya, itu bohong.”
Mendengar itu, Baotong tergugah.

Di kesempatan lain Baotong bertanya kepada Master Shitou, “Seorang guru leluhur berkata bahwa meyakini Marga adalah keliru, dan meyakini bahwa tidak ada Marga, juga keliru. Mohon Master berkenan menjelaskannya.”
Master Shitou berkata, “Tidak ada ‘sesuatu’ di sini; apa yang engkau ingin saya jelaskan?”
Baotong terdiam.
Kemudian Master Shitou berkata, “Buang tenggorokan, mulut, dan bibirmu, dan coba lihat apa yang dapat engkau katakan.”
Baotong berkata, “Tiada apa pun yang tersisa.”
Master berkata, “Jika memang demikian, engkau telah masuk ke gerbang.”

Seorang biksu bernama Huilang suatu ketika bertanya kepada Master Shitou, “Apa itu tergugah?”
Master berkata, “Engkau tidak memiliki citta tergugah.”
Patah hati, Huilang berkata, “Saya hanya manusia. Saya tahu saya hanya berputar-putar dan penuh dengan segala jenis konsep.”
Master berkata, “Orang-orang aktif yang berkonsep, tetap memiliki citta tergugah.”
Huilang berkata, “Lalu mengapa saya tidak memilikinya?”
Master berkata, “Karena engkau tidak puas hanya menjadi manusia.”
Huilang mengalami penggugahan mendalam.

Biksu Changzi Kuang suatu ketika kembali dari berziarah untuk belajar lebih lanjut dengan Master Shitou.
Master bertanya kepadanya, “Ke mana saja engkau selama ini?”
Kuang berkata, “Mengunjungi cetiya peringatan Master Huineng di Caoxi.”
Master bertanya, “Apakah berkunjung ke sana membuatmu menciptakan daya kebajikan (punya)?”
Kuang berkata, “Saya mendapat sedikit wawasan, tetapi saya belum dapat ‘membuka mata’ yang tergugah.”
Master berkata, “Apakah engkau ingin ‘membuka mata’ yang tergugah?”
Kuang berkata, “Tolong, Master, bantulah saya melakukannya.”
Master tiba-tiba menendang biksu tersebut dengan kaki kanannya.
Kuang mengalami penggugahan mendalam, dan bernamaskara.
Master bertanya, “Mengapa engkau bersujud?”
Kuang berkata, “Itu seperti butiran salju mendarat di atas tungku yang membara.”

Biksu Lingmo suatu ketika datang untuk belajar dengan Master Shitou dan berkata, “Jika engkau dapat memberikan satu frasa yang menggugah, saya akan tinggal; jika tidak, saya akan pergi.”
Master mengabaikan dia.
Lingmo mengibaskan lengan jubahnya, dan berjalan pergi. Ketika dia mencapai gerbang vihara, Master memanggilnya, “Biksu!”
Lingmo menoleh.
Master berkata, “Dari lahir hingga mati, hanya ini! Mengapa engkau masih mencari?”
Lingmo mengalami penggugahan mendalam.

Gerbang prajna telah diwariskan oleh para guru leluhur yang tergugah. Tanpa membicarakan tingkatan-tingkatan dhyana atau upaya demi kemajuan spiritual, kita semata-mata mengalami realisasi langsung bahwa citta yang tergugah adalah demikian adanya.

Buddha maupun orang biasa, penggugahan (bodhi) atau kesalahpengertian (avidya), hanyalah istilah-istilah yang berbeda untuk kumpulan pengalaman yang sama. Kalian masing-masing seyogianya menyadari bahwa esensi citta-mu sendiri yang tahu, sepenuhnya bebas dari gagasan tentang batasan atau abadi. Sifat keberadaanmu sepenuhnya melampaui “murni” atau “tidak murni”; benar-benar jernih, sepenuhnya lengkap, dan adalah sama antara para Muni dan orang biasa. Cara kerjanya melampaui batasan pola-pola yang baku, menjangkau di mana-mana, dan tidak dikungkung oleh label “citta,” “kesadaran” atau “pikiran.” Tiga alam: kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu; serta enam alam para makhluk, semuanya hanyalah gambaran yang muncul dari citta-mu sendiri. Itu seperti bulan yang terpantul di air – bagaimana mungkin bisa ada kelahiran atau kematian? Jika engkau merealisasi ini, engkau sudah memiliki semua yang dibutuhkan.

***
Based on translations by Andy Ferguson, Thomas Cleary, and James Mitchell & Yulie Lou, of Shitou's records in the Ancestral Hall Collection (Zu Tang Ji, 952) and the Jingde Era Transmission of the Lamp (Jingde Chuan Deng Lu, 1004).


Berdasarkan terjemahan oleh Andy Ferguson, Thomas Cleary, serta James Mitchell & Yulie Lou, atas Catatan Shitou Xiqian, 石頭希遷 dalam ‘Koleksi dari Ruangan Para Guru Leluhur’ (祖堂集 , Zutang ji, 952) dan ‘Catatan Transmisi Pelita Era Jingde’ (景德傳燈錄, Jǐng dé chuándēng lù, 1004).


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Revisi: April 2018.

Baca Lebih Lanjut

Dialog-Dialog Dengan Shitou Xiqian: Harta Karun Hutan Para Guru Leluhur (Encounter Dialogues of Shitou Xiqian: Treasury of the Forest of Ancestors) | Potowa Dharma Center