Teks Topikal

Literatur Prajnaparamita (Prajnaparamita Literature)

Secara garis besar, literatur Prajnaparamita melewati tiga tahap perkembangan:
  1. Pembabaran awal (buddha-vacana): periode sutra-sutra Prajnaparamita;
  2. Sistematisasi: periode Prajna-nama-mulamadhyamakarika oleh Nagarjuna (150-250 Masehi) dan Abhisamayalamkara oleh Maitreya-natha.
  3. Skolastik: perkembangan dari Pancavimsatisahasrika-prajnaparamita-upadesa-sastra-abhisamayalamkarvrtti oleh Arya-vimuktisena (500 Masehi), Bhavaviveka di masa Dinasti Pala dan reformasi Tibet di abad XIV.

Tradisi Gambhira dan Tradisi Vistara

Dharmamitra (850-900 Masehi), yang hidup sezaman dengan Haribhadra, adalah penulis pertama yang dengan jelas membagi dua silsilah ulasan penjelasan Sutra-sutra Prajnaparamita: tradisi "Mendalam" (gambhira) dan tradisi "Luas" (vistara).

Pembagian itu kemudian dijelaskan lebih detail oleh Lama Tsong Khapa (tahun 1357-1419 Masehi). Menurut penjelasan tradisional beliau:

1) Tradisi "gambhira; mendalam" bersumber dari Manjusri, yang menjelma di alam manusia, dan melalui Nagarjuna dengan karya "Enam Kumpulan Pokok Penjelasan" (Prajna-nama-mulamadhyamakarika, Vigrahavyavartanikarika, Ratnavali, Sunyatasaptatikarika, Yuktisastikakarika dan Vaidalyasutra), yang kemudian diturunkan kepada Arya Deva, Buddhapalita (tahun 500 Masehi), Candrakirti (tahun 650 masehi), Santideva (tahun 695-743 Masehi), Dharmakirti, Dipamkara Srijnana, dan seterusnya.

Ulasan-ulasan dari tradisi "mendalam" merujuk makna sebenarnya dari Sutra-sutra Prajnaparamita, yaitu, kenyataan terdalam, shunyata, sebagai tema utama, dan setelah itu, mengambil keterangan dari Santideva tentang “kesamaan diri dan yang lain” (paratma-samata).

2) Tradisi "vistara; luas" bersumber dari Maitreya, yang mengajarkan Asanga (yaitu, Maitreyanatha) tentang "Lima Sastra Maitreya" (Abhisamayalamkara, Sutralamkara, Madhyantavibhangakarika, Dharmadharmatavibhangakarika dan Mahayanottaratantra-sastra) di alam Tusita. Asanga membawa kembali sastra-sastra ini ke alam manusia di mana tradisi ini dilanjutkan oleh Vasubandhu (tahun 320-350 Masehi), Arya Vimuktisena, Bhadanta-Vimuktisena (tahun 650 Masehi), Haribhadra, Dharmamitra, Dharmakirti, Dipamkara Srijnana dan Abhayakaragupta (1077-1130). Vimuktisena dan Haribadra dikatakan menganut “yogacara-svatantrika-madhyamika.”

Dalam silsilah "luas," tema utama yang diuraikan adalah makna terselubung, yaitu, urutan dari delapan realisasi jernih (abhisamaya), sebagaimana tertera pada “tujuh puluh topik” dalam Abhisamayalamkara.

Juga perkembangan alur penting dari bodhi-cittotpada yang dibuat sistematik dalam tradisi ‘Tujuh Poin’ dengan elemen-elemen penting di mana bangkitnya bodhicitta muncul dari mengontemplasikan hubungan antara diri sendiri dengan ibu kita atau anggota keluarga yang dekat.

***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Juli 2017.

Baca Lebih Lanjut

Literatur Prajnaparamita (Prajnaparamita Literature) | Potowa Dharma Center