Citta itu lentur (dapat dibentuk): dapat berubah. Jadi kita perlu belajar bagaimana mentransformasikannya. Kita perlu mengidentifikasi cara-cara untuk mencapai tranformasi tersebut dan menerapkannya. Samsara, lingkaran kelahiran dan kematian, dan Nirvana, keadaan di luar itu – tidaklah seperti lokasi geografis yang terpisah jauh satu sama lain. Keduanya adalah keadaan citta. Samsara adalah salah mengerti, persepsi realitas yang terdistorsi yang membuat citta sebagai budak dari emosi-emosi negatif, sedangkan Nirvana adalah keadaan kebebasan internal, bebas dari rintangan konseptual maupun rintangan emosional apa pun.
Guhya
Kalian mungkin penasaran apa yang dimaksud “mantra sembunyi.” Mantra sembunyi (guhya) bukan merujuk pada visualisasi Istadewa, pelafalan mantra, atau semua empat bentuk ritual (Skt. caturkriya; Tib. las-bzhi) baik untuk menenangkan, memperbesar, memperkuat, maupun menaklukkan. Ini semua bukanlah apa yang kita sebut “mantra sembunyi.” Ini juga bukan praktik yogi meditasi tsa-lung.
Mantra sembunyi bukan hanya mempersembahkan torma, memainkan alat-alat ritual seperti gyaling, damaru (drum kecil) dan melakukan ritual-ritual rumit. Jika definisi Tantra seperti itu, maka bahkan Milarepa pun bukanlah praktisi Tantra. Beliau hidup di gua, dan tidak ada barang kepemilikan, beliau bahkan tidak punya genta (bel) dan vajra, namun tanpa diragukan lagi, beliau adalah salah satu yogi Tantra teragung yang pernah hidup.
Jadi apa itu “mantra” dalam Mantrayana? Kata mantra berarti yang melindungi citta. Di sini, mantra melindungi citta dari persepsi biasa. Ini juga adalah makna sebenarnya dari “vajra” dalam kata “vajra-yana.”
Dalam praktik Mantrayana, harus punya pengertian sunyata yang dibarengi dengan karuna, yang kemudian bertransformasi menjadi sosok Istadewa. Kemudian kita mengidentifikasi dengan sosok Istadewa tersebut. Itu adalah elemen “vajra” dari Vajra-yana.
Jadi praktik sesungguhnya dari Vajrayana mantra sembunyi adalah membangkitkan citta sunyata dengan hati karuna (tong nyi nyingje’i nyingpo chen), dan kemudian mentransformasikan citta tersebut ke persepsi murni sosok Istadewa dan disertai rasa “kepercayaan diri yang tak tergoyahkan” (divyamana).
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Juli 2017.






