Teks Topikal

Abhisamayalamkara dan Cittotpada (Bodhicitta)

Abhisamayalamkara

Maksud atau tujuan dari Abhisamayalamkara adalah memberikan: “pemahaman yang jelas dan menumbuhkembangkan marga dari semua aspek yang diajarkan oleh Guru kita (dalam sutra-sutra).” Merupakan suatu sistematisasi mengenai topik-topik dari sutra-sutra utama Prajna setelah 700 tahun.

Abhisamayalamkara (1-2)

Sujud kepada Ibu dari Buddha bersama kumpulan para Shravaka dan Bodhisattva:

Yang Berpengetahuan Sempurna yang menghantarkan pada kedamaian para Shravaka dan mereka yang menginginkan kedamaian,

Yang mengetahui marga-marga di mana mereka yang memberi manfaat untuk dunia, mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

Dan dengan memilikinya, para Muni membabarkan berbagai ajaran dalam segala aspek.


***

Jnata: “keadaan di mana tahu,” dengan demikian “yang tahu” tidaklah merujuk pada subjek tapi kesadaran (vijnana) itu sendiri.

Dengan demikian kedudukan cittotpada sebagai poin pertama dari sepuluh dharma (pengalaman) yang menyerupai marga realisasi jernih dari yang mengetahui semua aspek (sarvakarajnata-margah), menjadi sangat penting.

Itu mencerminkan bahwa cittotpada dan cittotpada itu sendiri, bukanlah menembus realitas atau praktik yogi tinggi lainnya, bukan hanya suatu titik tolak (mula), tapi juga demarkasi dari Mahayana.

Upaya (dalam hal ini cittotpada) dan bukan prajna (mengetahui sunyata), adalah ciri unik satu-satunya yang mengindikasikan jalan Mahayana.

***

Bodhicitta atau cittotpada (memantapkan dan mengangkat hati) adalah topik pertama di antara 70 topik di mana Maitreya-natha (310-390) membahas makna sembunyi dari Sutra-sutra Prajnaparamita dalam karya beliau, Abhisamayalamkara.

Beliau mendedikasikan tiga sloka untuk topik ini, di mana hanya sloka pertama (Abhi: 18) yang menjelaskan apa itu cittotpada dan apa definisinya. Dua sloka lainnya (Abhi: 19-20), memuat 22 pembagian cittotpada sehubungan dengan tahapan-tahapan jalan.

Abhisamayalamkara, Maitreyanatha (Abad IV Masehi)

“Memantapkan/mengangkat hati (cittotpada) adalah aspirasi untuk merealisasi Penggugahan yang Tak Terbandingkan, Lengkap dan Sempurna (samyaksambodhi-kamata) demi makhluk-makhluk lain. Itu dibahas secara ringkas maupun secara ekstentif menurut Sutra [Pancavimsatisahasrika].”

Astasahasrika-prajnaparamita-vyakhyabhisamayalamkara-aloka, Haribhadra (Abad VIII Masehi)

Pertama-tama, karena potensi Kebuddhaan (gotra),
Benih karuna tergugah
Dan dengan disertai praktik dan pikiran
Bodhicitta terwujudkan.

***

Bodhicitta atau cittotpada membutuhkan dua tujuan dan pengamatan:
(1) Tekad (pranidhana) untuk merealisasi Penggugahan, dan

(2) Demi serta untuk memberi manfaat kepada makhluk-makhluk lain.


***

Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Juli 2017.

Baca Lebih Lanjut