Teks Topikal

Yogācāra: Suatu Rangkuman (Yogācāra: A Summary)

Salah satu di antara dua cara pandang Buddhis Mahayana India.

Berfokus pada proses-proses yang mencakup kognisi, kesadaran, persepsi, dan epistemologi (‘bagaimana’ atau ‘how is it’), guna menanggulangi kesalahpengertian yang menghalangi kita untuk mencapai pembebasan dari lingkaran karma kelahiran dan kematian.

Cara pandang ini disebut Yogācāra (dengan cara Yoga) karena menyajikan kerangka terapeutik (‘meringankan penderitaan’) secara komprehensif untuk menjalankan praktik-praktik yang membantu mencapai tujuan Bodhisattva, yakni cara mengalami yang tergugah. Meditasi berfungsi sebagai laboratorium di mana kita bisa belajar bagaimana pikiran beroperasi. Yogācāra berfokus pada pertanyaan tentang kesadaran dari beragam pendekatan, termasuk meditasi, analisis psikologis, epistemologi (bagaimana kita tahu apa yang kita ketahui, bagaimana cara kerja persepsi, apa yang membuat pengetahuan menjadi valid), kategorisasi ilmiah, dan analisis tentang karma.

Doktrin Yogācāra terangkum dalam istilah vijñapti-mātra, "tiada yang lain selain representasi" (sering disebut "hanya-kesadaran" – vijñānavāda atau "hanya-citta" – cittamātra) yang kadang di(salah)tafsirkan bahwa Yogācāra mengklaim “hanya-citta” yang nyata dan segala yang lainnya tercipta oleh citta.

Namun, tulisan-tulisan penganut Yogācāra sendiri memiliki pandangan yang sangat berbeda. Kesadaran (vijñāna) bukanlah realitas atau solusi sesungguhnya, melainkan sumber masalah. Aktivitas ‘menyadari’ juga terbentuk oleh cetana maupun faktor-faktor kognitif.

Masalah ini muncul dalam aktivitas mental biasa, dan itu hanya dapat diatasi dengan mengakhiri aktivitas tersebut. Berfokus pada kesadaran, tapi tidak mengklaim kesadaran itu benar-benar nyata.

Yogācāra mengklaim bahwa kesadaran hanya nyata secara konvensional karena muncul dari waktu ke waktu berkat sebab dan kondisi yang berfluktuasi, dan sebab masalah karma itulah, yang mereka ingin hilangkan.

Tidak ada teks Yogācāra India yang pernah menyatakan bahwa alam ini tercipta oleh citta. Apa yang mereka klaim adalah kita keliru menganggap interpretasi-interpretasi yang terproyeksi mengenai alam sebagai dunia itu sendiri, yakni, kita menganggap konstruksi mental kita sendiri sebagai dunia (itu sendiri). Kosa kata untuk hal ini sekaya analisis mereka: kalpana (konstruksi konseptual yang diproyeksikan), parikalpa dan parikalpita (konstruksi imaginasi yang mencakup semuanya), abhūta-parikalpa (membayangkan sesuatu dalam suatu lokus yang tidak ada), prapanca (proliferasi konstruksi konseptual). Kognisi yang tepat didefinisikan sebagai hilangnya rintangan-rintangan yang menghalangi kita untuk melihat ketergantungan bersebab tentang ‘jadinya’ hal-hal tersebut (yathā-bhūtam).

Sebagian besar ajaran inti Yogācāra, awalnya muncul dalam sejumlah kitab ajaran sekitar abad 2-3 Masehi, terutama Sutra Sandhinirmocana (Sutra yang Menjelaskan Hal yang Terselubung). Karena Sutra Sandhinirmocana berisi doktrin yang sangat berkualifikasi dan matang, pastinya itu sudah berkembang selama beberapa waktu, mungkin berabad-abad, bahkan sebelum sutra ini muncul. Karena Asanga dan Vasubandhu hidup seabad atau lebih setelah munculnya Sutra Sandhinirmocana, maka masuk akal juga untuk berasumsi bahwa ide-ide ini telah disempurnakan oleh orang lain selama selang waktu tersebut. Dengan demikian, klaim tradisional yang mengatakan dua bersaudara ini adalah pendiri Yogācāra, tidak sepenuhnya benar.

Setelah Asanga dan Vasubandhu, Yogācāra berkembang dalam dua arah yang berbeda:

1. "Mengikuti Logika/Penalaran": cara pandang logika-epistemik (pramāṇavāda), diteladani oleh para pemikir seperti Dignāga, Dharmakirti, Śāntarakṣita, dan Ratnakīrti;


2. "Mengikuti Kitab Ajaran": menyempurnakan dan mengelaborasi psikologi Abhidharma, diteladani oleh para pemikir seperti Sthiramati, Dharmapāla, Xuanzang, dan Vinītadeva.



Keduanya tidak sepenuhnya terpisah, dan sama-sama menekankan proses kognisi, yaitu, analisis bagaimana kita mempersepsi dan berpikir. Keduanya mengidentifikasi akar dari semua masalah manusia adalah kekeliruan kognitif yang perlu diperbaiki.

Sutra Sandhinirmocana memperkenalkan beberapa konsep kunci baru Yogācāra dalam Buddhadharma, termasuk:

1. Tiga Putaran Roda Dharma,


2. "Hanya-representasi/sebutan" (vijñapti-mātra),


3. Tiga Svabhāva,


4. Meluluhkan pondasi/landasan (āśraya-parāvṛtti), dan


5. Suatu sistem dengan delapan kesadaran, dan ‘lumbung kesadaran’ (ālaya-vijñāna).



Sutra Sandhinirmocana: Buddha mengajarkan doktrin yang secara signifikan berbeda untuk audiens yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman mereka yang berbeda-beda; dan doktrin yang berbeda-beda ini, dimulai dari penawar sementara (pratipakṣa) cara pandang tertentu yang meskipun berguna tapi tidak tepat, hingga ajaran komprehensif yang akhirnya membuat ajaran yang sebelumnya terselubung/tersirat (implisit) menjadi eksplisit.

1. Tiga Putaran Roda Dharma:

• Putaran pertama, ajaran Empat Kenyataan Arya dalam Nikāya dan Abhidharma, menekankan entitas (dharma, khandha, dll) tapi "menyembunyikan" shunyata, di mana ini mungkin membuat orang mencengkeram pandangan adanya sifat hakiki;


• Putaran kedua, menekankan negasi tapi “menyembunyikan" kualitas positif dari Dharma, yang mungkin disalahartikan sebagai nihilisme. Sutra-sutra Prajnaparamita berulang kali mengatakan bahwa pada akhirnya semua dharma, pada akhirnya segala sesuatu yang ada, adalah tidak bersifat hakiki (nihsvabhava), tak dihasilkan/tak lahir (anutpanna), tak hancur (aniruddha), tenang sejak purwa (adisanta) dan pada dasarnya berada dalam Nirvana (prakrtinirvrta).


• Putaran ketiga adalah jalan tengah di antara keduanya yang akhirnya membuat segala sesuatu menjadi jelas dan eksplisit (nītārtha). Di antara kontribusi-kontribusi terpenting (dari putaran ketiga ini) adalah pembaruan-pembaruan dalam analisis tentang Abhidharma, logika, kosmologi, metode meditasi, psikologi, filosofi, dan etika (Vinaya).



2. Hanya-representasi/sebutan/pelabelan (vijñapti-mātra)

Vijñapti-mātra (“hanya-representasi”) sering digunakan secara silih berganti dengan istilah citta-mātra (“hanya-citta”), tetapi memiliki arti yang berbeda.

Alam, sebagaimana yang tampak bagi orang-orang yang belum tergugah hanya semata-mata representasi (vijñapti) dari objek kesadaran, di mana berbeda dengan istilah citta-mātra yang digunakan dalam Sutra Lankavatara. Sutra ini menggunakan istilah citta-mātra, yang tepatnya berarti "hanya-pikiran." Dengan menggunakan istilah ini, berkembanglah suatu ontologi (‘apa’ atau ‘what is it?),’ yang berbeda dengan epistemologi (‘bagaimana’ atau ‘how is it’) dari istilah vijñapti-mātra. Sutra Lankavatara menganggap citta sama dengan ‘(kenyataan) yang terdalam,’ yang didefinisikan sebagai shunyata, yakni shunyata dari dualisme subjek-objek.

3. Tiga Svabhava

Tiga svabhava, yang dijelaskan dalam banyak teks Yogācāra – termasuk suatu risalah independen oleh Vasubandhu yang khusus membahas subjek ini (Trisvabhāva-nirdeśa-sastra) – menyatakan ada tiga "sifat" atau keberadaan kognitif yang berperan:

1. Keberadaan pembentukan konseptual (parikalpita-svabhāva), yang selalu memproyeksikan (melabel) konsepsi yang tidak nyata, terutama adanya "diri" yang tidak berubah-ubah, dalam apa pun yang dialami, termasuk diri sendiri. Keberadaan pembentukan konseptual tercipta oleh bagaimana pikiran kita menafsirkan dunia.


2. Keberadaan ketergantungan bersebab (paratantra-svabhāva), yang jika dibarengi dengan ‘keberadaan pembentukan konseptual,’ membuat orang salah mengira kejadian yang berubah-ubah dalam fluktuasi sebab dan kondisi sebagai entitas yang tetap dan permanen. Pengalaman (fenomena) sebagaimana adanya, bebas dari ungkapan verbal.


3. Keberadaan yang paling mendalam (pariniṣpanna-svabhāva) di mana, seperti halnya gagasan shunyata yang mendasari cara pandang Madhyamaka, berfungsi sebagai penawar (pratipakṣa) yang "memurnikan" atau menghilangkan semua konstruksi delusif dari keberadaan ketergantungan bersebab. Inilah keberadaan yang sesungguhnya.



‘Keberadaan pembentukan konseptual’ adalah kekeliruan kita yang utama, dipenuhi proyeksi-proyeksi yang kita peroleh, yang menjadi kebiasaan dan yang menyatu; saya dan milik saya.

Paratantra (secara harafiah: 'tergantung pada yang lain') menekankan munculnya segala sesuatu adalah ketergantungan bersebab dari hal-hal lain selain dirinya sendiri (yakni, segala sesuatu tidak memiliki sifat hakiki).

‘Keberadaan yang paling mendalam’ menandakan tiadanya svabhāva (independen, hakiki dari dirinya sendiri, permanen) dalam segalanya.

Ketika ‘keberadaan ketergantungan bersebab’ dihilangkan dari semua noda, itu menjadi "tergugah." Tiga svabhāva ini juga disebut Tiga Non-svabhāva, karena tidak memiliki identitas yang tetap, independen/berdiri sendiri, nyata, permanen.

4. Meluluhkan pondasi/landasan (āśraya-parāvṛtti)

Penyebab karma dari duhkha yang mendasar adalah keinginan (?) yang termanifestasi melalui (gerbang) tubuh, ucapan, atau pikiran. Yogācāra secara khusus berfokus pada aktivitas kognitif dan mental dalam kaitannya dengan cetana, yaitu, aktivitas kesadaran, karena permasalahannya terletak di sana. Avidya dan keinginan (?) adalah sebab utama dari duhkha dan kelahiran kembali. Citta tidak mencipta alam fisik, tapi menghasilkan kategori interpretatif di mana melalui itu, kita tahu dan kita golong-golongkan alam fisik, dan itu terjadi sedemikian mulusnya sehingga kita keliru menafsirkannya sebagai dunia itu sendiri.

Interpretasi-interpretasi tersebut, yang merupakan proyeksi dari keinginan dan kecemasan kita, menjadi halangan (āvaraṇa) yang merintangi kita untuk melihat apa keadaan sebenarnya. Secara sederhana, kita dibutakan oleh kepentingan kita sendiri, prasangka kita sendiri (artinya sudah dihakimi sebelumnya), keinginan-keinginan kita. Kognisi yang tidak tergugah ini sifatnya ‘diperoleh.’ Yogācāra tidak berbicara tentang subjek dan objek; tapi menganalisis persepsi sehubungan dengan pencengkeram (grāhaka) dan apa yang dicengkeram (grāhya).

Para penganut Yogācāra memetakan fungsi-fungis mental ini untuk meluluhkannya. Karena peta semacam ini juga kreasi pikiran, pada akhirnya itu juga harus ditinggalkan selagi berupaya meluluhkannya, tetapi nilai terapeutiknya berguna untuk membawa Penggugahan.

Para penganut Yogācāra menjabarkan Penggugahan sebagai hasil dari meluluhkan pondasi/landasan kognitif (āśraya-paravṛtti), yakni, meluluhkan proyeksi konseptual dan imajinasi yang bertindak sebagai pondasi tindakan kognitif kita. Realisasi atas vijñapti-mātra menyingkap kecohan ini yang merupakan sifat dari cara kerja kesadaran, dengan demikian meluluhkannya. Ketika kecohan ini hilang, cara kognisi diluluhkan. Luluhan ini mengubah cara dasar kognisi, dari kesadaran (vi-jnana) menjadi jnana (pengetahuan langsung). Tahu secara langsung didefinisikan sebagai non-konseptual (nirvikalpa-jnana), yakni tanpa lapisan interpretatif.

5. Delapan Kesadaran dan ‘Lumbung Kesadaran’ (ālaya-vijñāna)

Buddhadharma menjelaskan enam kesadaran kognitif, yang masing-masing dihasilkan melalui kontak antara indra tertentu dan objeknya masing-masing. Kesadaran kognitif muncul tergantung pada sensasi. Citta dianggap ‘indra’ karena berfungsi seperti indra-indra lainnya, yang melibatkan aktivitas indra (mana), lingkupnya (mano-dhātu), dan kesadaran (mano-vijñāna) yang dihasilkan dari kontak antara indra dan objek. Setiap lingkup adalah khusus, yang berarti penglihatan, pendengaran, dan masing-masing lingkup lainnya, mempunyai fungsi yang berbeda satu sama lain.

Dalam Abhidharma awal, momen kognitif apa pun disebut citta. Objek, tekstur, emosional, moral, dan ‘warna’ psikologis dari kognisi citta disebut caitta/cetasika (secara harafiah: "berhubungan dengan citta") yang dibagi menjadi beberapa kategori.

Dalam Yogācāra, enam cara ‘kesadaran yang sudah terproses’ (pravṛtti-vijñāna) tak lagi dianggap timbul semata-mata bersamaan dengan landasan indrawi dan objeknya masing-masing, tetapi perlu bertopang dan tergantung pada bentuk kesadaran halus yang disebut "alaya" vijñana. Oleh karena itu, proses kesadaran kognitif ini tidak lagi hanya terjadi berurutan, tapi juga terjadi bersamaan.

Enam kelompok kesadaran kognitif (sad-vijñana-kaya) muncul bertopang dan tergantung pada (samnisritya pratisthaya) kesadaran mencengkeram (grasping consciousness; adana-vijñana). Di antaranya, penglihatan terjadi karena bertopang (nisritya) wujud visual dan mata serta kesadaran melihat (savijñanaka caksu). Kesadaran kognitif mental yang bisa membeda-bedakan (vikalpaka monovijñana) dan objek indrawinya, terjadi bersamaan (samakala) dengan penglihatan.

Bila kondisi untuk satu penglihatan yang terjadi bersamaan – ada/muncul, lalu bertopang dan bergantung pada kesadaran mencengkeram (grasping consciousness), maka hanya satu penglihatan yang terjadi bersamaan. Namun bila kondisi untuk semua kesadaran yang terjadi bersamaan – ada/muncul, maka kelima kelompok kesadaran kognitif terjadi bersamaan.

Kita dapat mengupamakan hal ini dengan arus air yang deras: jika kondisi-kondisi untuk munculnya (utpatti-pratyaya) satu ombak (pratyupasthito) itu ada, maka hanya satu ombak yang muncul (pravartate). Bila kondisi-kondisi untuk munculnya dua ataupun banyak ombak itu ada, maka muncul banyak ombak, namun aliran air tidak terinterupsi ataupun tidak hilang dalam arusnya. (Saddhinirmocana Sutra V. 4–5).

Namun dalam Yogācāra, masalah terpenting berkisar soal sebab akibat dan kesadaran.

Citta berubah-ubah dari saat ke saat. Dikarenakan citta yang baru dapat mengetahui lingkup kognitif baru tiap saat, kontinuitas keadaan mental yang terlihat bisa dijelaskan sebagai sebab-akibat, bahwa setiap citta, saat citta tersebut hilang, juga merupakan sebab munculnya citta berikutnya.

Apa yang terjadi bila tidak ada citta yang muncul atau beroperasi sama sekali, misalnya saat tidur nyenyak, pingsan, atau kondisi meditatif tertentu yang secara eksplisit didefinisikan sebagai tanpa citta (āsaṃjñī-samāpatti, nirodha-samāpatti). Bila citta sebelumnya harus bersinggungan sementara dengan citta setelahnya, bagaimana bisa menjelaskan citta yang muncul kembali secara mendadak setelah berlalunya jangka waktu tertentu, setelah/sejak citta sebelumnya hilang? Di manakah citta atau sebab-sebab citta berada di antara tenggang waktu tersebut? Dari manakah kesadaran muncul kembali setelah tidur lelap? Bagaimanakah kesadaran bermula di kehidupan yang baru? Berbagai usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bahkan membawa lebih banyak lagi kesukaran dan perdebatan.

Para penganut Yogācāra menanggapi hal ini dengan menata ulang tiga bagian dari tingkatan mental 18 dhatu ke dalam tiga jenis kesadaran:

A. Mano-vijñāna (kesadaran empiris) menjadi kesadaran keenam (dan berfungsi sebagai indra keenam, yang sebelumnya merupakan fungsi/peran mana), yang mengamati isi kognitif dari lima indra maupun objek mental (pikiran, gagasan/konsep).


B. Mana menjadi kesadaran ketujuh, didefinisi ulang sebagai ‘yang terutama mencengkeram berbagai aspek dan gagasan tentang “diri,” sehingga disebut “mana yang terkontaminasi” (klista-mana).


C. Kesadaran kedelapan, ālaya-vijñāna, “lumbung kesadaran” sepenuhnya merupakan hal yang baru dan didefinisikan dalam berbagai cara.


• Merupakan tempat menyimpan semua benih, menyimpan pengalaman-pengalaman selagi pengalaman-pengalaman tersebut “masuk” hingga keluar sebagai pengalaman baru, seperti gudang penyimpanan barang.


• Juga disebut sebagai kesadaran vipāka: vipāka artinya “matangnya” benih-benih karma. Benih-benih secara bertahap matang dalam ‘lumbung kesadaran’ hingga karma matang, di mana di waktu itu, benih-benih ini pada gilirannya menjadi konsekuensi karma.


Ālaya-vijñāna juga disebut sebagai “kesadaran mula/dasar” (mūla-vijñāna) dikarenakan menyimpan dan mengirim benih-benih karma yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tujuh kesadaran lainnya. Sebagai contoh, ketika kesadaran keenam tidak aktif (selagi seseorang tidur, atau tak sadar diri, dan sebagainya), benih-benih tersebut disimpan di kesadaran kedelapan, dan benih-benih tersebut akan “muncul kembali” jika ada kondisi-kondisi untuk muncul. Kesadaran kedelapan terutama merupakan suatu mekanisme untuk menyimpan dan mengirim benih-benih yang terutama tidak disadari.



Citta muncul sebagai suatu aliran/arus dalam ālaya-vijñāna, tapi citta tersebut umumnya tahu aktivitas-aktivitas dari kesadaran-kesadaran lainnya, bukan benihnya sendiri.

Bagi Yogācāra, salah satu arti dari ‘kesalahpengertian’ (avidya), adalah masih salah mengerti tentang apa yang berlangsung dalam ālaya-vijñāna kita sendiri. Dalam keadaan tanpa citta, aliran/arus citta tertahan, tercegat, namun benih-benihnya tetap terperbaruhi tanpa disadari, hingga benih-benih itu memunculkan kembali citta arus baru.

‘Lumbung kesadaran’ merupakan mekanisme karma yang sangat penting, namun kesadaran ini sendiri merupakan karma netral. Tiap individu memiliki ālaya-vijñāna sendiri-sendiri yang tetap ada dari momen ke momen dan dari kehidupan ke kehidupan, meskipun demikian, itu tak lebih dari kumpulan “benih-benih” yang terus berubah, yang terus-menerus berubah, karenanya, tidak permanen. Tidak ada citta kolektif universal dalam Yogācāra.

Penggugahan adalah mengakhiri delapan kesadaran, dan menggantikannya dengan kemampuan kognitif yang tergugah (jñāna).

Meluluhkan pondasi (transformasi mendasar: āśraya-parāvṛtti) adalah mengubah:

• Kesadaran kelima indra menjadi kesadaran langsung yang menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan (kṛtyānuṣṭhāna-jñāna).


• Kesadaran keenam menjadi penguasaan kognitif seketika (pratyavekṣaṇa-jñāna), di mana karakteristik umum dan khusus dari segala sesuatu diketahui sebagaimana adanya.


• Pengetahuan ini dianggap non-konseptual (nirvikalpa-jñāna).


Mana menjadi kognisi persamaan seketika (samatā-jñāna), menyamakan diri dengan yang lain.


• Ketika ālaya-vijñāna pada akhirnya berhenti dan tergantikan oleh Kognisi Cermin Agung (Mahādarśa-jñāna) yang melihat dan memantulkan segala sesuatu apa adanya, tanpa bias, tanpa pengecualian, prasangka, ekspektasi, keterikatan, atau distorsi.



Hubungan pencengkeram dan dicengkeram telah hilang. Kognisi-kognisi yang “terpurifikasi” ini semuanya berinteraksi dengan dunia secara seketika dan efektif dengan hilangnya bias diri, prasangka, dan halangan-halangan yang sebelumnya merintangi kita untuk mengalami selain kesadaran narsistik (berpusat pada diri sendiri). Ketika kesadaran berhenti, bermula-lah pengetahuan sejati.

Karena kesadaran tergugah adalah non-konseptual maka objeknya tidak dapat dijelaskan. Oleh karena itu, para penganut Yogācāra tidak memberikan penjelasan mengenai apa yang kentara dalam kognisi-kognisi tergugah ini, selain mengatakan itu adalah ‘murni’ (bebas dari konstruksi imaginatif).

Satu lagi pembaruan Yogācāra adalah gagasan bahwa ada suatu kognisi khusus yang muncul dan berkembang setelah pencapaian Penggugahan. Kognisi pasca Penggugahan ini disebut pṛṣṭhalabdha-jñāna, dan itu menyangkut bagaimana seseorang yang telah memahami segala sesuatu sebagaimana adanya (yathā-bhūtam), kemudian berinteraksi dengan dunia untuk membantu makhluk-makhluk lain mengatasi duhkha dan avidya (kesalahpengertian).

***

Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

September 2016.

Baca Lebih Lanjut

Yogācāra: Suatu Rangkuman (Yogācāra: A Summary) | Potowa Dharma Center