Oh! Karena pengetahuan saya [sendiri] terbatas sehingga tak dapat diandalkan, maka tidak tepat bagi saya untuk memberikan ajaran kepadamu, yang sudah memiliki pengetahuan mendalam dan pemikiran yang sangat jernih. Namun demikian, terinspirasi olehmu, sahabat terkasih – bahkan yang lebih kukasihi daripada diriku sendiri – saya akan tinggalkan nasihat ini untukmu. // 1
Sahabat-sahabat, hingga Penggugahan dicapai, seorang guru sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, andalkanlah guru. Sangatlah penting untuk mendengarkan ajaran guru sampai engkau mendapatkan pemahaman terdalam. Oleh karena itu, dengarkan ajaran guru. Dharma sebagai pengetahuan belaka tidak cukup untuk mencapai Kebuddhaan. Lebih lanjut, praktik kebajikan sangat diperlukan. Oleh karena itu, jauhkan diri dari tempat-tempat yang dapat mengganggu pikiran dan tinggallah di tempat di mana kebajikan dapat meningkat. // 2
Kebisingan bisa merupakan hambatan jika tingkat spiritual yang kokoh belum dicapai. Oleh karena itu, bersemayamlah dalam hidup yang hening di hutan. Hindari teman-teman yang membuat klesha bertambah dan berkumpullah dengan mereka yang membuat potensi positif (punya) meningkat. Jagalah pikiranmu agar tetap hadir. Urusan duniawi tiada habis-habisnya. Jadi tinggalkan itu dan jaga agar dirimu bebas. Himpunlah punya siang dan malam dan senantiasa awasi pikiranmu sendiri. // 3
Bhavana (‘menumbuhkembangkan’) berdasarkan nasihat semata tidaklah mungkin. Setiap kali bertindak dan apa pun yang engkau lakukan, lakukanlah sesuai dengan kata-kata guru dan atas dasar bakti pada guru. Inilah cara untuk mencapai realisasi dengan cepat dan pasti. Orang yang sepak-terjangnya selaras dengan Dharma tak akan terganggu oleh masalah mata pencaharian. Sahabat-sahabat, rasa tak berkecukupan (trsna) tak mungkin bisa terpuaskan, seperti halnya dahaga tak dapat dipuaskan dengan meminum air garam. Adalah sia-sia mencoba untuk memuaskan rasa tak berkecukupan. // 4
Hancurkan pikiran angkuh dan sombong. Bersikaplah damai dan disiplin. Bahkan yang [secara kentara] disebut pahala tak lebih dari [sekadar] gangguan dan dengan demikian merupakan hambatan terhadap Dharma. Oleh karena itu, tinggalkan [juga] itu. Mendapatkan sesuatu dan mempunyai reputasi (dianggap) adalah bagaikan jerat Mara. Hilangkan itu seperti membuang batu sandungan di jalan. Kata-kata pujian dan ketenaran hanyalah tipuan belaka. Jadi buanglah itu seakan-akan engkau meludah. // 5
Kebahagiaan, kemakmuran dan persahabatan di masa sekarang bersifat sementara. Buanglah itu seperti membuang air liur. Kehidupan-kehidupan mendatang lebih lama daripada kehidupan sekarang. Simpanlah kekayaan [punya]; hanya itu yang akan menemanimu ketika melakukan perjalanan ke alam berikutnya. Pada akhirnya kita harus tinggalkan segalanya dan pergi. Tiada apa pun yang ikut bersama kita. Oleh karena itu, janganlah mencengkeram. Sayangilah orang-orang yang lebih rendah. Jangan melukai atau menghina mereka. // 6
Sayangilah musuh dan teman tanpa membeda-bedakan; janganlah memihak. Jangan iri terhadap mereka yang memiliki kualitas baik, tetapi miliki rasa hormat terhadap mereka dan kembangkan kualitas tersebut di dalam diri sendiri. Jangan mencari kekurangan orang lain; ceklah kekurangan diri sendiri dan tinggalkan itu seperti membuang darah beracun. Jangan berpikir tentang potensi positifmu (punya) sendiri; pikirkan potensi positif orang lain. Hormatilah orang lain dan layani mereka. // 7
Milikilah perasaan terhadap para makhluk seperti perasaan orang tua terhadap putranya. Tersenyumlah selalu. Hindari kemarahan dan berbicaralah lembut dengan hati penuh kasih. Berhati-hatilah dengan kata-katamu dan berbicaralah sederhana, karena banyak berkata-kata cenderung mengandung kesalahan. Tindakan-tindakan yang tidak perlu akan menghancurkan potensi-potensi positif; jangan biarkan tindakanmu ternodai oleh adharma. // 8
Tiada gunanya melelahkan diri dalam tindakan-tindakan yang tak berguna. Semua pengalaman berkaitan dengan tindakan masa lalu, tiada apa pun yang terjadi begitu saja. Oleh karena itu, hiduplah bebas dan bahagia. Dengarkanlah! Bagi para Arya, lebih baik mati daripada melakukan tindakan negatif. Dengan demikian, jangan plin-plan dan punyai kemantapan hati. Rasa senang dan rasa sakit di kehidupan ini semata-mata adalah konsekuensi dari tindakan di kehidupan-kehidupan lalu. Oleh karena itu, jangan salahkan siapa pun atas hal ini. // 9
Semua kebahagiaan bersumber dari inspirasi guru. [Oleh karena itu], berterima kasihlah kepadanya. Engkau tak dapat menjinakkan [pikiran] orang lain jika engkau tak dapat menjinakkan dirimu sendiri. Oleh karena itu, jinakkan pikiranmu sendiri terlebih dahulu. Engkau tak dapat membantu orang lain untuk sukses jika engkau sendiri belum memperoleh kewaskitaan (abhijnana). Oleh karena itu, berupayalah keras untuk mencapai siddhi. Adalah pasti kita akan meninggalkan semua kepemilikan. Oleh karena itu, jangan memupuk karma negatif demi kekayaan. // 10
Kenikmatan dan gangguan tidak memiliki esensi. Oleh karena itu, perkayalah dirimu dengan kemurahan hati (dana), (satu-satunya) kekayaan. Dengan demikian engkau akan berpenampilan rupawan di kehidupan ini dan hidup bahagia di kehidupan berikutnya. Junjunglah tinggi visuddha-sila. Kemarahan sangat mendominasi di masa kaliyuga ini. Oleh karena itu, lindungilah dirimu dengan perisai (varma) sikap memaafkan. Jangan hidup terbelakang karena pengaruh kemalasan. Nyalakan api keberanian untuk mencapai siddhi! // 11
Kehidupan manusia terbuang cuma-cuma oleh gangguan-gangguan. Oleh karena itu, bermeditasilah. Kenyataan tak mungkin terealisasi di bawah pengaruh kesalahpengertian. Oleh karena itu, perhatikanlah artinya. Sahabat-sahabat! Jangan tenggelam dalam lumpur samsara. Raihlah tanah kering pembebasan (moksa). Berjuanglah untuk memahami ajaran-ajaran guru. Kontemplasilah samsara sebagai sungai/arus duhkha. // 12
Ini bukanlah kata-kata hampa. Seyogianya engkau dengarkan ini dengan seksama dan endapkan dalam hati. Jika engkau melakukan demikian, engkau akan membuat dirimu dan orang lain bahagia. Inilah ajaran sederhana saya. Dan saya harap engkau mencamkannya. Demikianlah Devaguru Bodhiprabha diberi nasihat oleh Prabhu Jowo-Jey seorang. // 13
***
Sumber: “Atisa and Tibet,” translated by Alka Chattopadhyaya, under the guidance of Prof. Lama Chimpa. Publisher: Motilal Banarsidass, Delhi.
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Maret 2016.






