- Keadaan yang dicapai: Mampu mengarahkan perhatian pada objek yang dipilih
- Daya penyebab pencapaian: Mempelajari petunjuk-petunjuk meditasi
- Kendala: Tak ada kontinuitas perhatian pada objek
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
- Jenis proses mental: Terfokus
- Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.
2. Perhatian berjeda (Skt. cittapravaha-samsthapana)
- Keadaan yang dicapai: Adanya kontinuitas perhatian pada objek meditasi hingga satu menit
- Daya penyebab pencapaian: Mengontemplasikan petunjuk-petunjuk meditasi
- Kendala: Sebagian besar waktu perhatian tidak terfokus pada objek
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
- Jenis proses mental: Terfokus
- Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.
3. Memperpendek jeda (Skt. cittapratiharana; cittavasthapana)
- Keadaan yang dicapai: Perhatian yang teralihkan dengan segera kembali pada objek meditasi; sebagian besar waktu perhatian terfokus pada objek
- Daya penyebab pencapaian: Perhatian penuh (smrti)
- Kendala: Untuk jangka waktu yang singkat, objek masih terlupakan sama sekali
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak kasar
- Jenis proses mental: Terputus-putus
- Kualitas pengalaman: Pergerakan (selalu bergerak)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Arus pikiran-pikiran bermunculan seperti turunnya air terjun yang deras.
4. Perhatian yang rapat (Skt. cittopasthapana)
- Keadaan yang dicapai: Objek meditasi tidak lagi terlupakan sama sekali
- Daya penyebab pencapaian: Perhatian penuh, yang sekarang sudah kuat
- Kendala: Sedikit-banyak mengalami kepuasan mengenai samadhi
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan kasar dan gejolak menengah
- Jenis proses mental: Terputus-putus
- Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir deras melalui jurang.
5. Perhatian terkendali (Skt. cittadamana)
- Keadaan yang dicapai: Mengalami kepuasan mengenai samadhi
- Daya penyebab pencapaian: Introspeksi (samprajanya)
- Kendala: Sedikit-banyak timbul penolakan terhadap samadhi
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan menengah dan gejolak menengah
- Jenis proses mental: Terputus-putus
- Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir deras melalui jurang.
6. Perhatian tanpa gangguan (Skt. cittashamana)
- Keadaan yang dicapai: Tidak ada penolakan untuk melatih perhatian
- Daya penyebab pencapaian: Introspeksi (samprajanya)
- Kendala: Keinginan, depresi, kelesuan dan perasaan mengantuk
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan menengah dan gejolak halus
- Jenis proses mental: Terputus-putus
- Kualitas pengalaman: Pencapaian (merasa mencapai sesuatu)
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir perlahan melalui lembah.
7. Perhatian sepenuhnya tanpa gangguan (Skt. cittavyupashamana)
- Keadaan yang dicapai: Keterikatan, kesedihan dan kelesuan mereda
- Daya penyebab pencapaian: Antusiasme
- Kendala: Ketidakseimbangan halus dalam memfokuskan perhatian, segera teratasi
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Keloyoan halus dan gejolak halus
- Jenis proses mental: Terputus-putus
- Kualitas pengalaman: Pembiasaan
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran bermunculan dengan sendirinya seperti sungai yang mengalir perlahan melalui lembah.
8. Perhatian terpusat (Skt. cittaikotikarana)
- Keadaan yang dicapai: Samadhi berlangsung lama, tanpa gejolak atau keloyoan apapun
- Daya penyebab pencapaian: Antusiasme
- Kendala: Masih dibutuhkan upaya untuk mencegah gejolak dan keloyoan
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Gejolak halus dan keloyoan halus bersifat laten
- Jenis proses mental: Tidak terputus-putus (tanpa interupsi)
- Kualitas pengalaman: Ketenangan
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran konseptual tenang seperti lautan tanpa ombak.
9. Perhatian seimbang (Skt. samadhana)
- Keadaan yang dicapai: Samadhi sempurna berlangsung lama dan dapat dipertahankan tanpa daya upaya
- Daya penyebab pencapaian: Pembiasaan
- Kendala: Ketidakseimbangan perhatian dapat muncul kembali di masa depan
- Tingkat ketidakseimbangan perhatian: Penyebab-penyebab berbagai ketidakseimbangan masih berpotensi untuk muncul
- Jenis proses mental: Tanpa daya upaya
- Kualitas pengalaman: Kesempurnaan
- Perumpamaan pikiran-pikiran yang muncul: Pikiran-pikiran konseptual tenang dan kokoh seperti Gunung Meru, raja dari semua gunung.
Gejolak kasar: perhatian sepenuhnya teralihkan dari objek meditasi.
Gejolak menengah: pikiran-pikiran yang bermunculan dengan sendirinya menyita pusat perhatian sementara objek meditasi tersisihkan.
Gejolak halus: objek meditasi tetap menjadi pusat perhatian dan pikiran-pikiran yang bermunculan dengan sendirinya tersisihkan.
Keloyoan kasar: sebagian besar waktu, perhatian terputus dari objek meditasi karena kurangnya ketajaman.
Keloyoan menengah: objek meditasi muncul tetapi tidak begitu jelas dan tajam.
Keloyoan halus: objek meditasi muncul secara jelas dan tajam, tetapi perhatian sedikit mengendur.
Catatan:
Dikutip dari buku 'Merevolusi Ketajaman Perhatian - Menyingkap Mekanisme Kesadaran' (The Attention Revolution) oleh B. Alan Wallace, Ph. D. Penjelasan yang lebih lengkap mengenai Shamatha dapat ditemukan dalam buku tersebut.
Diterjemahkan oleh tim Potowa Center. Oktober 2009.






