Sutta Pali

Sutta Rohitassa: Kepada Rohitassa (Rohitassa Sutta: To Rohitassa) [SN 2.26, AN 4.45]

Pada suatu ketika, Bhagava sedang tinggal di dekat Savatthi. Waktu itu, di penghujung malam, Rohitassa, putra dewa, yang kecemerlangannya menyinari seluruh Hutan Jeta, menghampiri Bhagava. Setibanya, setelah bersujud kepada Bhagava, dia berdiri di satu sisi. Selagi berdiri di sana, dia berkata kepada Bhagava: “Bhante, apakah mungkin, dengan bepergian hingga ke ujung dunia, dapat ditemukan suatu tempat di mana tiada yang tidak dilahirkan, tidak mengalami penuaan, kematian, meninggal atau terlahir kembali?”

“Sahabat, saya katakan kepadamu, meskipun bepergian hingga ke ujung dunia, tak dapat ditemukan suatu tempat di mana tiada yang tidak dilahirkan, tidak mengalami penuaan, kematian, meninggal atau terlahir kembali.”

“Bhante, sungguh mengagumkan dan menakjubkan apa yang dikatakan Bhagava: ‘Sahabat, saya katakan kepadamu, meskipun bepergian hingga ke ujung dunia, tak dapat ditemukan suatu tempat di mana tiada yang tidak dilahirkan, tidak mengalami penuaan, kematian, meninggal atau terlahir kembali.”

Suatu waktu saya adalah seorang yang memiliki kewaskitaan bernama Rohitassa, seorang murid dari Bhoja, seorang pelintas angkasa yang sakti. Kecepatan saya seperti kilasan panah yang dilepaskan seorang pemanah yang kuat – terlatih baik, mahir, pemanah yang jitu – dapat membidik panah ringan menembus bayangan pohon palem. Lintasan saya menjangkau dari laut sebelah timur hingga laut sebelah barat. Dengan memiliki kecepatan demikian, jangkauan lintasan demikian, muncul keinginan dalam diri saya: ‘Saya akan bepergian hingga ke ujung dunia.’

Selama masa hidup seratus tahun, rentang hidup seratus tahun – saya terus melakukan perjalanan selama seratus tahun – kecuali waktu yang digunakan untuk makan, minum, mengunyah dan mencicipi, buang air kecil dan air besar, serta tidur untuk melepas rasa lelah – tapi sebelum mencapai ujung dunia, saya meninggal dalam perjalanan. Jadi Bhante, sungguh mengagumkan dan menakjubkan apa yang dikatakan Bhagava: ‘Sahabat, saya katakan kepadamu, meskipun bepergian hingga ke ujung dunia, tak dapat ditemukan suatu tempat di mana tiada yang tidak dilahirkan, tidak mengalami penuaan, kematian, meninggal atau terlahir kembali.’

[Ketika hal ini disampaikan, Bhagava merespons]: “Sahabat, saya katakan kepadamu, meskipun bepergian hingga ke ujung dunia, tak dapat ditemukan suatu tempat di mana tiada yang tidak dilahirkan, tidak mengalami penuaan, kematian, meninggal atau terlahir kembali.”

Tapi di waktu bersamaan, saya katakan kepadamu, tiada pembebasan dari penderitaan dan pergulatan tanpa dicapainya akhir alam itu.

Namun dalam tubuh sedepa beserta persepsi dan kekuatan pikir itulah, saya nyatakan ada alam (dunia pengalaman), timbulnya alam, berhentinya alam, dan jalan yang menghantarkan pada berhentinya alam.”

Itu tak dapat dicapai meskipun bepergian hingga ke ujung dunia. Tanpa dicapainya akhir alam itu, tiada pembebasan dari penderitaan dan pergulatan.

Jadi sesungguhnya orang yang bijak, orang yang benar-benar tahu alam, orang yang tahu berakhirnya alam, setelah menyempurnakan kehidupan suci, tahu alam ini berakhir – tidak mendambakan alam ini maupun alam lainnya.

***

Sumber: "Rohitassa Sutta: To Rohitassa" (AN 4.45), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.045.than.html.


Note: This sutta also appears at SN 2.26.


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Mei 2016.

Baca Lebih Lanjut

Sutta Rohitassa: Kepada Rohitassa (Rohitassa Sutta: To Rohitassa) [SN 2.26, AN 4.45] | Potowa Dharma Center