Setelah mengamati pikiran seluruh persamuhan (semua yang berkumpul) dengan kesadaran beliau, Bhagava bertanya dalam hati, “Siapakah di antara yang hadir di sini yang mampu mengerti Dharma?”
Beliau melihat Suppabuddha, seorang penderita kusta duduk di tengah persamuhan, dan ketika melihatnya, muncul pemikiran dalam diri beliau, “Orang ini mampu mengerti Dhamma.” Jadi tertuju pada Suppabuddha, penderita kusta, beliau memberikan ajaran tahap demi tahap, yakni ajaran tentang dana (kemurahan hati), ajaran tentang sila, ajaran tentang alam dewa; beliau menerangkan kerugian, degradasi, dan kemunduran dari ketertarikan indrawi serta manfaat-manfaat dari pengentasan diri. Kemudian ketika beliau melihat bahwa citta Suppabuddha telah siap, dapat diarahkan, bebas dari rintangan, penuh sukacita dan tajam, beliau kemudian memberikan ajaran khusus para Buddha, yakni dukkha, timbulnya dukkha, berhentinya dukkha, dan jalan yang menghantarkan pada berhentinya dukkha. Dan bagaikan kain bersih, bebas dari noda, yang dapat menyerap pewarna dengan baik, begitu pula di tempat itu juga, muncul dalam diri Suppabuddha, penderita kusta – mata Dhamma yang tak tercemar dan tak ternoda, “Apa pun yang timbul akan berakhir.”
…
***
Sumber: Kuṭṭhi Sutta: The Leper" (Ud 5.3), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 3 September 2012, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/ud/ud.5.03.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Juli 2015.






