“Kevatta, suatu ketika rentetan pikiran demikian muncul dalam kesadaran salah satu bhikkhu di antara komunitas bhikkhu: ‘Di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali?’ Lalu bhikkhu tersebut mencapai keadaan konsentrasi sedemikian rupa sehingga dia dapat melihat para dewa dalam pikirannya. Kemudian dia menghampiri para dewa pengiring Empat Maharaja (dari Alam Catumaharajika) dan setibanya, dia bertanya pada mereka, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, para dewa pengiring Empat Maharaja berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Kami juga tidak tahu di mana keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali. Tapi ada Empat Maharaja, yang lebih tinggi dan lebih agung dari kami. Mereka mestinya tahu di manakah keempat unsur utama ... berhenti sama sekali.’”
“Lalu bhikkhu tersebut menghampiri Empat Maharaja, dan setibanya, bertanya pada mereka, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, Empat Maharaja berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Kami juga tidak tahu di mana keempat unsur utama ... berhenti sama sekali. Tapi ada para dewa dari Alam Tavatimsa, yang lebih tinggi dan lebih agung dari kami. Mereka mestinya tahu ...’”
“Kemudian bhikkhu tersebut menghampiri para dewa dari Alam Tavatimsa, dan setibanya, bertanya pada mereka, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, para dewa dari Alam Tavatimsa berkata kepada bhikkhu tersebut, ‘Kami juga tidak tahu di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali. Namun, ada Sakka, pemimpin para dewa, yang lebih tinggi dan lebih agung dari kami. Beliau mestinya tahu ...’
“Kemudian bhikkhu tersebut menghampiri Sakka, pemimpin para dewa, dan setibanya, bertanya pada beliau, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, Sakka, pemimpin para dewa, berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Saya juga tidak tahu di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali. Namun, ada para dewa dari Alam Yama yang lebih tinggi dan lebih agung dari saya. Mereka mestinya tahu ...’
“Para dewa Yama berkata, ‘Kami juga tidak tahu, tapi ada dewa yang bernama Suyama. Dia mestinya tahu ...’....”
“Suyama berkata,’ Saya juga tidak tahu ... Tapi ada dewa yang bernama Santusita ... dia mestinya tahu...’…
“Santusita berkata, ‘Saya juga tidak tahu ... Tapi ada para dewa dari Alam Nimmanarati ... mereka mestinya tahu...’...”
“Para dewa Nimmanarati berkata, ‘Kami juga tidak tahu ... Tapi ada dewa yang bernama Sunimmita ... Dia mestinya tahu...’...
“Sunimmita berkata, ‘Saya juga tidak tahu ... Tapi ada dewa dari Alam Paranimmitavasavatti ... Mereka mestinya tahu...’... “
“Para dewa dari Alam Paranimmitavasavatti berkata, ‘Kami juga tidak tahu ... Tapi ada dewa bernama Paranimmita Vasavatti ... Dia mestinya tahu ...’...”
“Kemudian bhikkhu tersebut menghampiri Dewa Vasavatti, dan setibanya, bertanya padanya, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, Dewa Vasavatti berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Saya juga tidak tahu di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali. Tapi ada para dewa pengiring Brahma, yang lebih tinggi dan lebih agung dari saya. Mereka mestinya tahu di mana keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali’...”
“Kemudian bhikkhu tersebut mencapai keadaan konsentrasi sedemikan rupa sehingga dia bisa melihat para dewa pengiring Brahma dalam citta-nya. Kemudian dia menghampiri para dewa pengiring Brahma, dan setibanya, bertanya pada mereka, ‘Sahabat, di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, para dewa pengiring Brahma berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Kami juga tidak tahu di manakah keempat unsur utama ini ... berhenti sama sekali. Tapi ada Brahma, Maha Brahma, Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha Tahu, Maha Kuasa, Penguasa, Pembuat, Pencipta, Pemimpin, Penitah dan Pengatur, Bapa dari semua yang telah terjadi dan yang bakal terjadi. Beliau lebih tinggi dan lebih agung dari kami. Beliau mestinya tahu di manakah keempat unsur utama ... berhenti sama sekali.’”
“Tapi, sahabat, di manakah Maha Brahma sekarang?’
“Bhikkhu, kami juga tidak tahu di manakah Brahma atau bagaimana keberadaan Brahma. Tetapi, ketika muncul tanda-tanda, muncul sinar dan cahaya, maka Brahma akan muncul. Demikianlah pertanda kemunculan Brahma: adanya sinar dan cahaya.’”
Lalu tak lama kemudian muncullah Brahma.
“Kemudian bhikkhu tersebut menghampiri Maha Brahma, dan setibanya, bertanya, ‘Sahabat, di manakah empat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, Maha Brahma berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Bhikkhu, saya adalah Brahma, Maha Brahma, Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha Tahu, Maha Kuasa, Penguasa, Pembuat, Pencipta, Pemimpin, Penitah dan Pengatur, Bapa dari semua yang telah terjadi dan yang bakal terjadi.’”
Untuk kedua kalinya, bhikkhu tersebut berkata pada Maha Brahma, ‘Sahabat, saya tidak bertanya apakah engkau adalah Brahma, Maha Brahma, Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha Tahu, Maha Kuasa, Penguasa, Pembuat, Pencipta, Pemimpin, Penitah dan Pengatur, Bapa dari semua yang telah terjadi dan yang bakal terkadi. Saya bertanya padamu di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali.’
“Untuk kedua kalinya, Maha Brahma berkata pada bhikkhu tersebut, ‘Bhikkhu, saya adalah Brahma, Maha Brahma, Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha Tahu, Maha Kuasa, Penguasa, Pembuat, Pencipta, Pemimpin, Penitah dan Pengatur, Bapa dari semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi.’”
“Untuk ketiga kalinya, bhikkhu tersebut berkata pada Maha Brahma, ‘Sahabat, saya tidak bertanya apakah engkau adalah Brahma, Maha Brahma, Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha Tahu, Maha Kuasa, Penguasa, Pembuat, Pencipta, Pemimpin, Penitah dan Pengatur, Bapa dari semua yang telah terjadi dan yang bakal terjadi. Saya bertanya padamu di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali.’”
“Kemudian Maha Brahma menggandeng tangan bhikkhu tersebut dan membimbingnya ke satu sisi, berkata padanya, ‘Para dewa pengiring Brahma percaya bahwa, ‘Tiada hal apa pun yang tidak diketahui Maha Brahma. Tiada hal apa pun yang tidak bisa dilihat oleh Maha Brahma. Tiada hal apa pun yang tidak disadari oleh Maha Brahma. Tiada hal apa pun yang belum dicapai oleh Maha Brahma.’ Itulah sebabnya di hadapan mereka, saya tidak mengatakan bahwa saya juga tidak tahu di manakah keempat unsur utama ... berhenti sama sekali. Oleh karena itu, sikapmu keliru, tindakanmu tidak tepat karena tidak menanyakan Bhagava sewaktu mencari ke mana-mana jawaban atas pertanyaan tersebut. Kembalilah kepada Bhagava, dan setibanya, tanyalah pada beliau pertanyaan ini. Apa pun jawaban beliau, engkau harus mencamkannya dalam hati.’”
“Kemudian, bagaikan orang kuat yang merentangkan lengannya atau menekuk tangannya – bhikkhu tersebut menghilang dari alam Brahma dan seketika itu juga muncul di hadapanku. Setelah bersujud padaku, dia duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, dia berkata padaku, ‘Bhagava, di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali?’”
“Ketika ini ditanyakan, saya berkata padanya, ‘Bhikkhu, suatu ketika beberapa saudagar pelaut membawa seekor burung camar dan mulai melaut. Ketika mereka tidak bisa melihat daratan, mereka akan melepaskan burung camar. Burung itu terbang ke timur, selatan, barat, utara, ke atas, dan ke semua titik antara dari kompas. Bila burung camar melihat daratan di arah manapun, dia akan terbang ke sana. Bila burung camar tidak melihat daratan di arah manapun, dia akan terbang kembali ke kapal. Begitu pula, bhikkhu, setelah bepergian hingga ke alam Brahma untuk mencari jawaban atas pertanyaanmu, akhirnya engkau kembali pada saya.”
“Pertanyaanmu seharusnya tidak seperti itu: Di manakah keempat unsur utama ini – unsur tanah, unsur air, unsur api, dan unsur angin – berhenti sama sekali? Tetapi pertanyaanmu seharusnya demikian:
Bagaimanakah air, tanah, api dan angin tak berlandas?
Bagaimanakah panjang dan pendek, kasar dan halus, adil dan curang, nama-rupa berakhir?
Dan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah:
Kesadaran (citta) tidak melandas (vinnanam anidassanam)
Tanpa akhir, senantiasa benderang
Demikianlah air, tanah, api dan angin tak berlandas.
Demikianlah panjang dan pendek, kasar dan halus, adil dan curang, nama-rupa - semuanya berakhir.
Dengan berhentinya [aktivitas dari] kesadaran, setiap dan semuanya berakhir.
Demikianlah yang dikatakan Bhagava. Perumahtangga Kevatta bersukacita dan bergembira atas kata-kata Bhagava.
***
Sumber: "Kevatta (Kevaddha) Sutta: To Kevatta" (DN 11), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/dn/dn.11.0.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Juli 2015.






