"Sebagaimana Dhamma yang diajarkan oleh Bhagava kepada kami, ini jauh lebih banyak: air mata yang telah kami cucurkan sewaktu terlahir berulang-ulang dan mengembara yang sangat, sangat lama – menangis dan meratap karena bertemu dengan hal yang tak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan – bukan jumlah air di keempat samudra.”
“Bagus sekali, para bhikkhu. Bagus sekali. Alangkah bagusnya kalian memahami Dhamma yang saya ajarkan.”
“Ini jauh lebih banyak: air mata yang telah kalian cucurkan sewaktu terlahir berulang-ulang dan mengembara yang sangat, sangat lama – menangis dan meratap karena bertemu dengan hal yang tak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan – bukan jumlah air di keempat samudra.”
“Lama sudah kalian (terus-menerus) mengalami kematian ibu. Air mata yang telah kalian cucurkan atas kematian ibu sewaktu terlahir berulang-ulang dan mengembara yang sangat, sangat lama – menangis dan meratap karena bertemu dengan hal yang tak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan – adalah jauh lebih banyak dari jumlah air di keempat samudra.”
“Lama sudah kalian (terus-menerus) mengalami kematian ayah ... kematian saudara laki-laki ... kematian saudara perempuan ... kematian putra ... kematian putri ... kehilangan sanak saudara ... kehilangan kekayaan ... kehilangan kesehatan. Air mata yang telah kalian cucurkan karena kehilangan kesehatan sewaktu terlahir berulang-ulang dan mengembara yang sangat, sangat lama – menangis dan meratap karena bertemu dengan hal yang tak menyenangkan, berpisah dengan yang menyenangkan – adalah jauh lebih banyak dari jumlah air di keempat samudra.”
“Mengapa demikian? Sejak masa tak berawal, samsara terus berlanjut. Meskipun tak berawal, para makhluk yang terintang oleh kesalahpengertian (avijja) dan terbelenggu oleh rasa tak berkecukupan (tanha), terlahir berulang-ulang dan terus mengembara. Oleh karena itu, lama sudah kalian mengalami dukkha, mengalami kehilangan, memenuhi kuburan – cukup sudah untuk tak lagi terpikat pada segala sesuatu yang dibuat (fabrikasi), cukup sudah untuk tak lagi tergantung, cukup sudah untuk terbebaskan.”
***
Sumber: "Assu Sutta: Tears" (SN 15.3), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn15/sn15.003.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Juli 2016.






