22. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika dikembangkan, akan begitu lentur. Citta yang dikembangkan, akan lentur.”
23. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tidak dikembangkan, akan begitu mencelakai. Citta yang tidak dikembangkan, akan sangat mencelakai.”
24. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika dikembangkan, akan begitu bermanfaat. Citta yang dikembangkan akan sangat bermanfaat.”
23. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tidak dikembangkan dan tidak jernih, akan begitu mencelakai. Citta yang tidak dikembangkan dan tidak jernih, akan sangat mencelakai.”
26. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika dikembangkan dan jernih, akan begitu bermanfaat. Citta yang dikembangkan dan jernih akan sangat bermanfaat.”
27. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tidak dikembangkan dan tidak ditumbuhkan, akan begitu mencelakai. Citta yang tidak dikembangkan dan tidak ditumbuhkan, akan sangat mencelakai.”
28. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika dikembangkan dan ditumbuhkan, akan begitu bermanfaat. Citta yang dikembangkan dan ditumbuhkan, akan sangat bermanfaat.”
29. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tidak dikembangkan dan tidak ditumbuhkan, akan begitu membawa penderitaan dan dukkha. Citta yang tidak dikembangkan dan tidak ditumbuhkan, akan membawa penderitaan dan dukkha.”
30. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika dikembangkan dan ditumbuhkan, akan begitu membawa kebahagiaan. Citta yang dikembangkan dan ditumbuhkan, akan membawa kebahagiaan.”
31. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika belum terjinakkan, akan begitu mencelakai. Citta yang belum terjinakkan akan sangat mencelakai.”
32. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika terjinakkan, akan begitu bermanfaat. Citta yang terjinakkan akan sangat bermanfaat.”
33. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tak terawasi, akan begitu mencelakai. Citta yang tak terawasi akan sangat mencelakai.”
34. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika terawasi, akan begitu bermanfaat. Citta yang terawasi akan sangat bermanfaat.”
35. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tak terjaga, akan begitu mencelakai. Citta yang tak terjaga akan sangat mencelakai.”
36. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika terjaga, akan begitu bermanfaat. Citta yang terjaga akan sangat bermanfaat.”
37. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika tak terkendali, akan begitu mencelakai. Citta yang tak terkendali akan sangat mencelakai.”
38. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika terkendali, akan begitu bermanfaat. Citta yang terkendali akan sangat bermanfaat.”
39. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika belum terjinakkan, tak terawasi, tak terjaga, tak terkendali – akan begitu mencelakai. Citta yang belum terjinakkan, tak terawasi, tak terjaga, tak terkendali akan sangat mencelakai.”
40. “Saya tidak melihat satu hal pun selain citta yang ketika terjinakkan, terawasi, terjaga, terkendali – akan begitu bermanfaat. Citta yang terjinakkan, terawasi, terjaga, terkendali akan sangat bermanfaat.”
***
Sumber: "Ekadhamma Suttas: A Single Thing" (AN 1.21-40), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an01/an01.021-040.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Maret 2015.






