Sutta Pali

Sutta Mahatanhasankhaya: Ajaran Mendetail tentang Hancurnya Tanha (Mahatanhasankhaya Sutta: The Greater Craving-Destruction Discourse) [Majjhima Nikaya 38]

Saya mendengar suatu ketika Bhagava sedang tinggal di Savatthi, di Hutan Jeta, taman milik Anathapindika.

Lalu saat itu pandangan fatal (ditthigata) demikian muncul dalam diri Biksu Sati, putra seorang nelayan: “Sebagaimana Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava, kesadaran (vinnana) itulah yang berlanjut dan bersinambung [dari kelahiran ke kelahiran], hanya itulah yang diajarkan.”

Sekelompok besar biksu mendengar bahwa “Orang-orang mengatakan pandangan fatal demikian muncul dalam diri Biksu Sati, putra seorang nelayan: ‘Sebagaimana Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava, kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung [dari kelahiran ke kelahiran], hanya itulah yang diajarkan.’” Dengan demikian mereka pergi menemui Biksu Sati, putra nelayan dan setelah tiba, mereka bertanya kepadanya, “Sahabat Sati, apakah benar bahwa pandangan fatal demikian muncul dalam dirimu – ‘Sebagaimana Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava, kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung, hanya itulah yang diajarkan?”

“Para sahabat, demikianlah Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava yakni kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung, hanya itulah yang diajarkan.”

Karena bermaksud mencegah Biksu Sati, putra nelayan, terhindar dari pandangan fatal tersebut, para biksu terus-menerus bertanya dan memperingatkannya dengan berkata, “Sahabat Sati, janganlah berkata demikian. Janganlah salah menafsirkan maksud Bhagava, karena salah menafsirkan maksud Bhagava adalah tidak baik. Bhagava tak pernah berkata seperti itu. Sahabat, dalam berbagai cara Bhagava telah mengatakan bahwa kesadaran muncul secara saling terkait, ‘Tanpa kondisi yang dibutuhkan, kesadaran tak akan muncul.’”

Dan meskipun terus-menerus ditanyakan dan diperingatkan oleh para biksu, karena keras kepala dan terikat pada pandangan fatal tersebut, Biksu Sati, putra nelayan tetap bersikukuh, “Para sahabat, seperti itulah Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava yakni kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung, hanya itulah yang diajarkan.”

Jadi ketika para biksu tak dapat mencegah Biksu Sati, putra nelayan, dari pandangan fatal tersebut, mereka pergi menemui Bhagava dan setelah tiba, mereka bersujud dan duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, mereka menceritakan kepada Bhagava apa yang terjadi.

Kemudian Bhagava berkata kepada seorang biksu, “Mari, biksu. Atas nama saya, panggillah Biksu Sati, putra nelayan, katakanlah, ‘Sahabat Sati, Guru memanggilmu.’”
“Baiklah, Bhagava,” jawab biksu tersebut dan dia pergi menemui Biksu Sati, putra nelayan dan setelah tiba, dia berkata, “Sahabat Sati, Guru memanggilmu.”

“Baiklah, sahabat,” jawab Biksu Sati, putra nelayan. Lalu dia pergi menemui Bhagava dan setelah tiba, bersujud kepada Bhagava dan duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, Bhagava berkata kepadanya, “Sati, apakah benar pandangan fatal demikian muncul dalam dirimu – ‘Sebagaimana Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava, kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung, hanya itulah yang diajarkan?”

“Bhagava, demikianlah Dhamma yang saya pahami yang diajarkan Bhagava yakni kesadaran itulah yang berlanjut dan bersinambung, hanya itulah yang diajarkan.”

“Kesadaran yang mana, Sati?”

“Bhagava, [kesadaran] pembicara ini, [kesadaran] orang yang mengetahui ini, kesadaran yang mengalami matangnya kamma bajik dan tidak bajik.”

“Orang dungu, engkau dengar kepada siapa saya mengajarkan Dhamma seperti itu? Bukankah dalam berbagai cara, saya mengatakan kesadaran muncul secara saling terkait, ‘Tanpa kondisi yang dibutuhkan, kesadaran tak akan muncul?’ Tetapi karena pemahamanmu yang terbatas, engkau tidak hanya salah menafsirkan namun juga mencabut [akar] dan menciptakan tindakan negatif untuk dirimu sendiri. Itu akan membawa kerugian dan penderitaan jangka panjang untukmu.”

Kemudian Bhagava berkata kepada para biksu, “Bagaimana menurut kalian, para biksu? Apakah Biksu Sati, putra nelayan, selaras dengan Dhamma dan Vinaya?”

“Bagaimana mungkin? Tidak, Bhagava.”

Ketika hal ini disampaikan, Biksu Sati, putra nelayan, duduk terdiam, merasa malu, dengan bahu terkulai, kepala tertunduk, merenung, kehilangan kata-kata.

Melihat bahwa Biksu Sati, putra nelayan, duduk terdiam, merasa malu, dengan bahu terkulai, kepala tertunduk, merenung, kehilangan kata-kata, Bhagava kemudian berkata kepadanya, “Orang dungu, engkau akan dikenal karena pandangan fatalmu sendiri. Saya akan bertanya balik kepada para biksu mengenai hal ini.”

Kemudian Bhagava berkata kepada para biksu, “Para biksu, apakah kalian memahami Dhamma yang saya ajarkan sebagaimana Biksu Sati, putra nelayan pahami di mana karena pemahamannya yang terbatas [mengenai Dhamma], dia tidak saja salah menafsirkan namun juga mencabut (akar) dan menciptakan tindakan negatif untuk dirinya sendiri?”

“Tidak, Bhagava, dalam berbagai cara Bhagava telah mengatakan bahwa kesadaran muncul secara saling terkait, ‘Tanpa kondisi yang dibutuhkan, kesadaran tak akan muncul.’”

“Para biksu, baguslah, kalian memahami Dhamma seperti yang saya ajarkan, karena dalam berbagai cara saya telah mengatakan bahwa kesadaran muncul secara saling terkait, ‘Tanpa kondisi yang dibutuhkan, kesadaran tak akan muncul.’ Tetapi karena pemahamannya sendiri yang terbatas [mengenai Dhamma], Biksu Sati, putra nelayan, tidak hanya salah menafsirkan namun juga mencabut (akar), menciptakan tindakan negatif untuk dirinya sendiri. Itu akan membawa kerugian dan penderitaan jangka panjang untuk orang dungu ini.”

“Para biksu, kesadaran pada dasarnya tergantung pada kondisi yang dibutuhkan yang memungkinkannya muncul.”

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada mata dan wujud pada dasarnya disebut kesadaran melihat (penglihatan).

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada telinga dan suara pada dasarnya disebut kesadaran mendengar (pendengaran).

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada hidung dan bebauan pada dasarnya disebut kesadaran membau (penciuman).

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada lidah dan cita rasa pada dasarnya disebut kesadaran mencecap (pencecapan).

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada tubuh dan sentuhan pada dasarnya disebut kesadaran menyentuh (sentuhan).

Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada daya pikir dan gagasan pada dasarnya disebut kesadaran mental.

Seperti halnya api pada dasarnya tergantung pada kondisi yang dibutuhkan untuk menyala – api yang menyala yang tergantung pada kayu pada dasarnya disebut api kayu, api yang menyala yang tergantung pada serpihan kayu pada dasarnya disebut api serpihan kayu; api yang menyala yang tergantung pada rumput pada dasarnya disebut api rumput; api yang menyala yang tergantung pada kotoran sapi pada dasarnya disebut api kotoran sapi; api yang menyala yang tergantung pada jerami pada dasarnya disebut api jerami; api yang menyala yang tergantung pada sampah pada dasarnya disebut api sampah – begitu pula, kesadaran pada dasarnya tergantung pada kondisi yang dibutuhkan yang memungkinkannya muncul. Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada mata dan wujud pada dasarnya disebut kesadaran melihat (penglihatan). Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada telinga dan suara pada dasarnya disebut kesadaran mendengar (pendengaran). Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada hidung dan bebauan pada dasarnya disebut kesadaran membau (penciuman). Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada lidah dan cita rasa pada dasarnya disebut kesadaran mencecap (pencecapan). Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada tubuh dan sentuhan pada dasarnya disebut kesadaran menyentuh (sentuhan). Kesadaran yang kemunculannya tergantung pada daya pikir dan gagasan pada dasarnya disebut kesadaran mental.

...
***

Sumber: "Mahatanhasankhaya Sutta: The Greater Craving-Destruction Discourse" (MN 38), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.038.than.html.


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleht tim Potowa Center. Juli 2014.

Baca Lebih Lanjut