Dan para bhikkhu, apakah daya keyakinan (saddha) itu? Para bhikkhu, yakni ketika seorang Ariya Savaka merasa yakin, yakin akan Penggugahan Tathagata:
Bhagava adalah Arahat, Samma Sambuddha, sempurna pengetahuan dan tindakannya (vijja-carana sampanno), Sugata, mengetahui segenap alam (Lokavidu), pembimbing yang tiada bandingnya dari para makhluk yang perlu dijinakkan (anuttaro purisa-dhamma sarathi), guru para dewa dan manusia (sattha deva manussanang), Buddha, Bhagava.
Para bhikkhu, inilah yang disebut daya keyakinan.
Dan para bhikkhu, apakah daya viriya itu? Para bhikkhu, yakni ketika seorang Ariya Savaka senantiasa mempunyai viriya untuk meninggalkan tindakan-tindakan tidak bajik (akusaladhamma) dan melakukan tindakan-tindakan bajik (kusaladhamma), dia kokoh dan tak tergoyahkan dalam upaya, tidak berpaling dari tindakan-tindakan bajik. Para bhikkhu, inilah yang disebut daya viriya.
Dan para bhikkhu, apakah daya sati itu? Para bhikkhu, yakni ketika seorang Ariya Savaka ingat dan waspada, memiliki sati dan kewaspadaan yang sempurna, dia ingat dan dapat mengingat apa yang dilakukan, apa yang diucapkan jauh sebelumnya. Para bhikkhu, inilah yang disebut daya sati.
Dan para bhikkhu, apakah daya samadhi itu? Yakni, para bhikkhu, seorang Ariya Savaka melihat objek yang dipersepsinya sebagaimana adanya, merealisasi samadhi, mempunyai pikiran yang fokus. Bebas dari keinginan indrawi, bebas dari kualitas mental yang tidak bajik, dia memasuki dan bersemayam dalam jhana pertama: dengan kenyamanan (piti) dan rasa senang yang muncul dari penyendirian, disertai kemampuan menyelidiki (vitakka) dan kemampuan menganalisa (vicara). Dengan kemampuan menyelidiki dan kemampuan menganalisa, dia memasuki dan bersemayam dalam jhana kedua: dengan kenyamanan dan rasa senang yang muncul dari ketenangan, kesadaran memadu (unification of awareness) yang bebas dari vitakka dan vicara – rasa yakin dari dalam. Dengan memudarnya kenyamanan (piti), dia senantiasa berada dalam upekkha, sati, sampajana dan merasakan kenyamanan di tubuh. Dia memasuki dan bersemayam dalam jhana ketiga yang dinyatakan oleh para Ariya, ‘Bersemayam dalam upekkha dan sati.’ Dengan ditinggalkannya rasa senang dan tidak senang – sebagaimana diakhirinya keinginan dan penolakan sebelumnya – dia memasuki dan bersemayam dalam jhana keempat: upekkha dan sati yang murni, bukan sensasi yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.
Para bhikkhu, inilah yang disebut daya samadhi.
Dan para bhikkhu, apakah daya panna itu? Para bhikkhu, yakni ketika seorang Ariya Savaka tahu dan mengerti, memiliki panna akan muncul dan lenyapnya, yakni sebagaimana adanya, menembus, menghantarkan pada jalan yang tepat untuk menghentikan dukkha. Para bhikkhu, inilah yang disebut daya panna.
Para bhikkhu, inilah kelima daya (pancabala).
---
Catatan penerjemah: Keterangan mengenai daya samadhi dikutip dari Sutta Indriya-vibhanga: Analisa Mengenai Pancabala (Indriya-vibhanga Sutta: Analysis of the Mental Faculties) [Sutta Nipata 48.10]
***
Sumber: http://www.buddha-vacana.org/sutta/anguttara/05/an05-014.html
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
April 2014.






