“Dan apakah yang disebut mengalami kelahiran? Suami-istri dan anak mengalami kelahiran. Budak pria dan wanita ... kambing dan domba ... unggas dan babi … gajah, ternak, kuda dan kuda betina … emas dan perak mengalami proses pemunculan/pembentukan. Kepemilikan-kepemilikan ini mengalami proses pembentukan, dan seseorang yang terikat, terpikat, terperdaya oleh hal-hal tersebut, yang mengalami proses pembentukan, mencari sesuatu yang juga mengalami proses pemunculan/pembentukan.”
“Dan apakah yang disebut mengalami penuaan ... sakit ... kematian ... penderitaan ... kilesa? Suami-istri dan anak ... budak pria dan wanita ... kambing dan domba ... unggas dan babi … gajah, ternak, kuda dan kuda betina … emas dan perak mengalami proses penuaan ... sakit ... kematian ... penderitaan ... kilesa. Kepemilikan-kepemilikan ini mengalami penuaan ... sakit ... kematian ... penderitaan ... kilesa, dan seseorang yang terikat, terpikat, terperdaya oleh hal-hal tersebut, yang mengalami proses pemunculan/pembentukan, mencari sesuatu yang juga mengalami penuaan ... sakit ... kematian ... penderitaan ... kilesa. Itulah pencarian biasa.”
“Dan apakah pencarian Ariya itu? Pencarian Ariya adalah di mana seseorang yang dirinya sendiri mengalami kelahiran, menyadari kekurangan-kekurangan dari kelahiran, mencari pembebasan yang tidak dilahirkan dan tiada bandingnya dari beban: Nibbana. Di mana dirinya sendiri mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, menyadari kekurangan-kekurangan dari penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, mencari sesuatu yang tidak mengalami penuaan, tidak mengalami sakit, tidak mengalami kematian, tidak mengalami penderitaan, tanpa kilesa, pembebasan yang tiada bandingnya dari beban: Nibbana. Itulah pencarian Ariya.”
“Para bhikkhu, sebelum Penggugahan, ketika saya adalah Bodhisatta yang belum tergugah, di mana saya sendiri mengalami kelahiran, saya mencari sesuatu yang juga mengalami kelahiran. Di mana saya sendiri mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, saya mencari (kebahagiaan dari) sesuatu yang juga mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa. Pemikiran demikian muncul dalam diri saya, ‘Mengapa saya, yang sendiri mengalami kelahiran, mencari sesuatu yang juga mengalami kelahiran? Mengapa saya, yang sendiri mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, mencari sesuatu yang juga mengalami sakit … kematian … penderitaan … kilesa? Bagaimana jika saya, yang mengalami kelahiran, menyadari kekurangan-kekurangan dari kelahiran, mencari pembebasan yang tidak dilahirkan dan tiada bandingnya dari beban: Nibbana? Bagaimana jika saya, yang mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, menyadari kekurangan-kekurangan dari penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, mencari sesuatu yang tidak mengalami penuaan, tidak mengalami sakit, tidak mengalami kematian, tidak mengalami penderitaan, tanpa kilesa, pembebasan yang tiada bandingnya dari beban: Nibbana?’”
“Kemudian, para bhikkhu, di mana saya sendiri mengalami kelahiran, menyadari kekurangan-kekurangan dari kelahiran, mencari pembebasan yang tidak dilahirkan dan tiada bandingnya dari beban, Nibbana, saya mencapai pembebasan yang tidak dilahirkan dan tiada bandingnya dari beban, Nibbana. Di mana saya sendiri mengalami penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, menyadari kekurangan-kekurangan dari penuaan … sakit … kematian … penderitaan … kilesa, mencari sesuatu yang tidak mengalami penuaan, tidak mengalami sakit, tidak mengalami kematian, tidak mengalami penderitaan, pembebasan yang tiada bandingnya dari beban: Nibbana, saya telah merealisasi keadaan yang tidak mengalami penuaan, tidak mengalami sakit, tidak mengalami kematian, tidak mengalami penderitaan, pembebasan yang tiada bandingnya dari beban: Nibbana. Muncullah pengetahuan dan pandangan dalam diriku: ‘Pembebasanku tak tergoyahkan. Inilah kelahiran yang terakhir. Mulai sekarang, tiada lagi bhava.’”
“Kemudian muncul pemikiran dalam diri saya, ‘Dhamma ini, yang telah saya alami adalah dalam, sulit dilihat (duddaso), sulit dimengerti (duranubodho), damai, tanpa gejolak, tanpa konseptualisasi, halus, hanya dialami oleh para bijaksana.”
Namun masyarakat di masa ini menyukai tempat mereka, senang di tempatnya, menikmati tempatnya. Bagi masyarakat yang menyukai tempat mereka, senang di tempatnya, menikmati tempatnya, landasan dasar ini, idappaccayata, keadaan terkondisinya ini oleh itu, dan paticcasamuppada, kesalingterkaitan, akan sulit dilihat.
Landasan dasar ini juga sulit dilihat: ketiadaannya konseptualisasi (sankharasamatha), tak lagi dibutuhkannya semua bentuk kepemilikan (padhipattinissagga), tidak adanya rasa kekurangan (tannhakkhayo); tidak lagi tertarik (viraga); pemberhentian (nirodha); Nibbana.
Dan seandainya saya mengajarkan Dhamma ini, dan mereka pun tak akan dapat memahami saya, itu hanya akan melelahkan saya, menyulitkan saya.
Ketika itu, gatha-gatha yang tak pernah terutarakan di masa lalu, tak pernah terdengar sebelumnya, muncul dalam pemikiran saya:
Akan percuma kiranya mengajarkan
apa yang telah saya capai dengan penuh perjuangan ini.
Dhamma ini tak mudah dialami oleh
mereka yang dicengkeram
ketertarikan (raga) dan penolakan (dosa).
Sesuatu yang sulit untuk dipahami, halus, mendalam,
sulit dilihat, melawan arus (patisotagami) –
tak akan dapat dilihat oleh mereka yang masih dengan senangnya menuruti ketertarikannya,
yang pandangannya sepenuhnya dan senantiasa terselubung oleh kepekatan dan kegelapan.
…
***
Sumber: "Ariyapariyesana Sutta: The Noble Search" (MN 26), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.026.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Juli 2015.






