[Sariputta:] “Janganlah berkata begitu, sahabatku.”
[Maha Kotthita:] “Dengan berhenti dan berakhirnya tanpa sisa keenam lingkup indrawi, apakah bukan hal lain di luar itu?”
[Sariputta:] “Janganlah berkata begitu, sahabatku.”
[Maha Kotthita:] “... apakah demikian keduanya dan bukan hal lain di luar itu?”
[Sariputta:] “Janganlah berkata begitu, sahabatku.”
[Maha Kotthita:] “... apakah tidak demikian keduanya maupun bukan hal lain di luar itu?”
[Sariputta:] “Janganlah berkata begitu, sahabatku.”
[Maha Kotthita:] “Ketika ditanya, dengan berhenti dan berakhirnya tanpa sisa keenam lingkup indrawi, apakah ada hal lain di luar itu, engkau mengatakan, ‘Janganlah berkata begitu, sahabatku.’ Ketika ditanya apakah ... bukan hal lain di luar itu ... demikian keduanya dan bukan hal lain di luar itu ... tidak demikian keduanya maupun bukan hal lain di luar itu, engkau mengatakan, “Janganlah berkata begitu, sahabatku.’ Lalu, apa maksud kata-katamu?”
[Sariputta:] “Pernyataan ‘Dengan berhenti dan berakhirnya tanpa sisa keenam lingkup indrawi [penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, sentuhan dan kekuatan pikir], apakah ada hal lain di luar itu?’ – mengobjektifikasi (prapanca) non-objektifikasi. [1] Pernyataan ‘Apakah bukan hal lain di luar itu ... apakah demikian keduanya dan bukan hal lain di luar itu ... apakah tidak demikian keduanya maupun bukan hal lain di luar itu?’ – mengobjektifikasi (papanca) non-objektifikasi. Selama keenam lingkup indrawi ada, selama itu pula objektifikasi ada. Selama objektifikasi ada, selama itu pula enam lingkup indrawi ada. Dengan berhenti dan berakhirnya tanpa sisa keenam lingkup indrawi, berhenti dan berakhir pula objektifikasi.
***
Catatan Kaki:
1.
Lihat Majjhima Nikaya 18. Sebagaimana disebut dalam Sutta Nipata 4.14, sumber dari “beraduknya pikiran yang menjadi-jadi dengan konsep dan persepsi” (papanca-sanna-sankhara) adalah pemikiran, “Pemikir ini adalah saya.” Pemikiran demikian mendasari motivasi dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Bhikkhu Maha Kotthita di sini: pemikiran “Pemikir ini adalah saya” dapat menimbulkan ketakutan atau keinginan untuk sirna sehubungan dengan realisasi Nibbana. Kedua hal tersebut merintangi ditinggalkannya cengkeraman yang merupakan hal yang sangat penting bagi realisasi Nibbana, sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut seyogianya tidak ditanyakan.
Sumber: "Kotthita Sutta: To Kotthita" (AN 4.174), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight, 27 September 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.174.than.html.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. November 2013.






