Sutta Pali

Sutta Ina: Sutta Mengenai Utang (Ina Sutta: Sutta on Debt) [Anguttara Nikaya 6.45]

Kemiskinan disebut penderitaan dunia, begitu pula terlibat utang. Orang miskin yang terlibat utang hanya mengejar kesenangan, menderita kesukaran. Lalu orang-orang mengejar dirinya dan membuatnya terikat: ikatan menyakitkan untuk orang yang mendambakan kesenangan indrawi.

Siapa pun yang tidak meyakini ajaran seorang Ariya - tidak memiliki hiri (standar diri), tidak memiliki otappa (memikirkan makhluk lain) - merencanakan tindakan-tindakan yang tidak bajik, melakukan perbuatan keliru, ucapan keliru dan pikiran keliru dan berharap: ‘Agar mereka tidak mengetahui [tindakan] saya.’

Dia mencemari perbuatan, ucapan, atau pikirannya, mengumpulkan tindakan-tindakan yang tidak bajik, di sana-sini, lagi dan lagi. Dengan tindakan yang tidak bajik, pengetahuan yang lemah, tahu akan tindakan negatifnya sendiri, dia adalah orang miskin, terlibat utang, hanya mengejar kesenangan, menderita kesukaran.

Lalu orang-orang mengejar dirinya - penderitaan mental muncul karena penyesalan - baik di rumah maupun di hutan. Dengan tindakan yang tidak bajik, pengetahuan yang lemah, tahu akan tindakan negatifnya sendiri, dia terlahir dari rahim hewan atau terjatuh ke neraka: ikatan menyakitkan dimana mereka yang tergugah telah bebas darinya.

Sebaliknya seseorang yang mempunyai keyakinan, hidup berumah tangga, melakukan pemberian dengan kekayaannya yang diperoleh secara layak, mewujudkan kedua tujuan: manfaat di sini dan sekarang serta kebahagiaan di kehidupan berikutnya. Kemurahan hati dari perumah tangga demikian membuat terkumpulnya potensi-potensi positif.

Lalu seseorang yang memiliki keyakinan yang kokoh dalam ajaran Ariya - memiliki hiri, memiliki otappa, mengetahui dan terdisiplin melalui kebajikan, dikatakan dalam ajaran Ariya adalah orang yang hidup dalam kedamaian.

Mendapatkan kesenangan yang bukan indrawi, dia kokoh dalam upekkha: Meninggalkan kelima rintangan - virya senantiasa muncul - memasuki samadhi: terfokus, senantiasa penuh sati dan bijak.

Mengetahui hal ini sebagaimana adanya yakni berakhir sepenuhnya semua belenggu, tidak mencengkeram pada apa pun, citta-nya benar-benar bebas.

Dengan dirinya benar-benar bebas demikian, dengan berakhir sepenuhnya belenggu bhava, muncullah pengetahuan: ‘Pembebasanku tidaklah tergoyahkan.’

Itulah pengetahuan tertinggi, kebahagiaan tak terbandingkan. Bebas dari dukha, bebas dari debu, berada dalam kedamaian, yakni terbebas dari utang.

***

Sumber: "Ina Sutta: Debt" (AN 6.45), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight, 4 July 2010, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an06/an06.045.than.html.


Dikutip dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Juli 2013.

Baca Lebih Lanjut