Siapa pun yang tidak meyakini ajaran seorang Ariya - tidak memiliki hiri (standar diri), tidak memiliki otappa (memikirkan makhluk lain) - merencanakan tindakan-tindakan yang tidak bajik, melakukan perbuatan keliru, ucapan keliru dan pikiran keliru dan berharap: ‘Agar mereka tidak mengetahui [tindakan] saya.’
Dia mencemari perbuatan, ucapan, atau pikirannya, mengumpulkan tindakan-tindakan yang tidak bajik, di sana-sini, lagi dan lagi. Dengan tindakan yang tidak bajik, pengetahuan yang lemah, tahu akan tindakan negatifnya sendiri, dia adalah orang miskin, terlibat utang, hanya mengejar kesenangan, menderita kesukaran.
Lalu orang-orang mengejar dirinya - penderitaan mental muncul karena penyesalan - baik di rumah maupun di hutan. Dengan tindakan yang tidak bajik, pengetahuan yang lemah, tahu akan tindakan negatifnya sendiri, dia terlahir dari rahim hewan atau terjatuh ke neraka: ikatan menyakitkan dimana mereka yang tergugah telah bebas darinya.
Sebaliknya seseorang yang mempunyai keyakinan, hidup berumah tangga, melakukan pemberian dengan kekayaannya yang diperoleh secara layak, mewujudkan kedua tujuan: manfaat di sini dan sekarang serta kebahagiaan di kehidupan berikutnya. Kemurahan hati dari perumah tangga demikian membuat terkumpulnya potensi-potensi positif.
Lalu seseorang yang memiliki keyakinan yang kokoh dalam ajaran Ariya - memiliki hiri, memiliki otappa, mengetahui dan terdisiplin melalui kebajikan, dikatakan dalam ajaran Ariya adalah orang yang hidup dalam kedamaian.
Mendapatkan kesenangan yang bukan indrawi, dia kokoh dalam upekkha: Meninggalkan kelima rintangan - virya senantiasa muncul - memasuki samadhi: terfokus, senantiasa penuh sati dan bijak.
Mengetahui hal ini sebagaimana adanya yakni berakhir sepenuhnya semua belenggu, tidak mencengkeram pada apa pun, citta-nya benar-benar bebas.
Dengan dirinya benar-benar bebas demikian, dengan berakhir sepenuhnya belenggu bhava, muncullah pengetahuan: ‘Pembebasanku tidaklah tergoyahkan.’
Itulah pengetahuan tertinggi, kebahagiaan tak terbandingkan. Bebas dari dukha, bebas dari debu, berada dalam kedamaian, yakni terbebas dari utang.
***
Sumber: "Ina Sutta: Debt" (AN 6.45), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight, 4 July 2010, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an06/an06.045.than.html.
Dikutip dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Juli 2013.






