"Ya, sahabat," jawab para bhikkhu.
Bhikkhu Ananda berkata: "Para sahabat, siapa pun - bhikkhu atau bhikkhuni - yang menyatakan realisasi Arahat di hadapanku, itu terealisasi melalui salah satu dari keempat jalan. Apakah keempat jalan tersebut?"
"Ada kasus dimana seorang bhikkhu mengembangkan vipassana setelah samatha. Selagi dia mengembangkan vipassana setelah samatha, berkembanglah jalan. Dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya, menjalankannya. Selagi dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya dan menjalankannya - belenggu ditinggalkan, obsesi terhancurkan."
"Ada kasus dimana seorang bhikkhu mengembangkan samatha setelah vipassana. Selagi dia mengembangkan samatha setelah vipassana, berkembanglah jalan. Dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya, menjalankannya. Selagi dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya dan menjalankannya - belenggu ditinggalkan, obsesi terhancurkan."
"Ada kasus dimana seorang bhikkhu mengembangkan samatha berbarengan dengan vipassana. Selagi dia mengembangkan samatha yang berbarengan dengan vipassana, berkembanglah jalan. Dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya, menjalankannya. Selagi dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya dan menjalankannya - belenggu ditinggalkan, obsesi terhancurkan."
"Ada kasus dimana seorang bhikkhu dapat menangani keraguannya sehubungan dengan Dhamma. Kemudian citta-nya secara internal menjadi kokoh, tenang, terfokus dan terkonsentrasi. Dalam dirinya, berkembanglah jalan. Dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya, menjalankannya. Selagi dia mengikuti jalan itu, menumbuhkembangkannya dan menjalankannya - belenggu ditinggalkan, obsesi terhancurkan."
"Siapa pun - bhikkhu atau bhikkhuni - yang menyatakan realisasi Arahat di hadapanku, itu terealisasi melalui salah satu dari keempat jalan."
***
Sumber: "Yuganaddha Sutta: In Tandem" (AN 4.170), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight, 3 July 2010, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.170.than.html.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Desember 2012.






