“Ayya, ada berapa jenis sensasi (vedana)?”
“Sahabat Visakha, ada tiga jenis sensasi: sensasi nyaman, sensasi menyakitkan, dan sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan.”
“Apakah sensasi nyaman itu? Apakah sensasi menyakitkan itu? Apakah sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan itu?”
"Apa pun yang dialami sebagai nyaman dan enak, secara fisik maupun mental, itulah sensasi nyaman. Apa pun yang dialami sebagai menyakitkan dan tidak enak, secara fisik maupun mental, itulah sensasi menyakitkan. Apa pun yang dialami sebagai tidak nyaman maupun tidak menyakitkan, secara fisik maupun mental, itulah sensasi tidak nyaman maupun tidak menyakitkan.”
"Ayya, bagaimanakah sensasi yang nyaman bisa disebut sensasi nyaman, dan bagaimanakah sensasi menyakitkan bisa disebut sensasi menyakitkan?"
"Sensasi nyaman dianggap nyaman, bila itu berlanjut dan dianggap menyakitkan, bila itu berubah. Sensasi menyakitkan dianggap menyakitkan, bila itu berlanjut dan dianggap nyaman, bila itu berubah. Sensasi tidak nyaman maupun tidak menyakitkan disebut nyaman, bila itu diketahui, dan disebut tidak nyaman, bila itu tidak diketahui."
"Kecenderungan laten (anusaya) apa yang mendekam pada sensasi nyaman? Kecenderungan laten apa yang mendekam pada sensasi menyakitkan? Kecenderungan laten apa yang mendekam pada sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan?”
"Pada sensasi nyaman, mendekam kecenderungan laten ketertarikan (raganusaya). Pada sensasi menyakitkan, mendekam kecenderungan laten penolakan (patighanusaya). Pada sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan, mendekam kecenderungan laten kekelirutahuan (avijjanusaya)."
"Apakah pada semua sensasi nyaman mendekam kecenderungan laten ketertarikan (raganusaya)? Apakah pada semua sensasi menyakitkan mendekam kecenderungan laten penolakan (patighanusaya)? Apakah pada semua sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan mendekam kecenderungan laten kekelirutahuan (avijjanusaya)?"
"Tidak..."
"Lalu apa yang seyogianya ditinggalkan saat muncul sensasi nyaman? Apa yang seyogianya ditinggalkan saat muncul sensasi menyakitkan? Apa yang seyogianya ditinggalkan saat muncul sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan?”
"Kecenderungan laten ketertarikan itulah yang perlu ditinggalkan saat muncul sensasi nyaman. Kecenderungan laten penolakan itulah yang perlu ditinggalkan saat muncul sensasi menyakitkan. Kecenderungan laten kekelirutahuan itulah yang perlu ditinggalkan saat muncul sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan."
"Apakah pada semua sensasi nyaman, kecenderungan laten ketertarikan seyogianya ditinggalkan? Apakah pada semua sensasi menyakitkan, kecenderungan laten penolakan seyogianya ditinggalkan? Apakah pada semua sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan, kecenderungan laten kekelirutahuan seyogianya ditinggalkan?”
"Tidak...”
Ada kejadian di mana seorang bhikkhu — bebas dari keinginan indrawi, bebas dari kualitas mental yang tidak bermanfaat (akusala) – memasuki dan bersemayam dalam jhana pertama: dengan kenyamanan (piti) dan rasa senang yang muncul dari penyendirian, disertai kemampuan menyelidiki (vitakka) dan kemampuan menganalisa (vicara). Dengan demikian, dia bebas dari ketertarikan (raga). Tiada lagi kecenderungan laten ketertarikan.
Ada kejadian di mana seorang bhikkhu berpikir, 'Oh, kapan saya akan masuk dan bersemayam dalam keadaan di mana para Arya sekarang masuk dan bersemayam?' Dan selagi dia menumbuhkan keinginan untuk mencapai pembebasan yang tak terbandingkan, dalam dirinya muncul duka cita (domanassa) karena keinginannya. Dengan demikian, dia meninggalkan penolakan. Tiada kecenderungan laten penolakan.
Ada kejadian di mana seorang bhikkhu, dengan ditinggalkannya sensasi nyaman dan menyakitkan – sebagaimana diakhirinya keinginan dan penolakan sebelumnya – dia memasuki dan bersemayam dalam jhana keempat: upekkha dan sati yang murni, bukan sensasi baik nyaman maupun menyakitkan. Dengan demikian, dia meninggalkan kekelirutahuan. Tiada kecenderungan laten kekelirutahuan.
"Lalu, Ayya, ada apa di balik sensasi nyaman?"
"Ketertarikan ada di balik sensasi nyaman."
“Apa di balik sensasi menyakitkan?”
“Penolakan ada di balik sensasi menyakitkan.”
“Apa di balik sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan?"
“Kekelirutahuan ada di balik sensasi baik tidak nyaman maupun tidak menyakitkan.”
"Apa di balik kekelirutahuan?"
"’Tahu dengan jelas (vijja)’ ada di balik kekelirutahuan."
"Apa di balik ‘tahu dengan jelas’?"
“Pembebasan ada di balik ‘tahu dengan jelas (vijja).’"
"Apa di balik pembebasan?”
“Nibbana ada di balik pembebasan.”
“Apa di balik Nibbana?”
"Sahabat Visakha, engkau keterlaluan. Engkau tak dapat bertanya terus-menerus, karena kehidupan suci didasari Nibbana, memuncak pada
Nibbana, Nibbana adalah tujuan akhir. Jika engkau menghendakinya, pergilah menemui Bhagava dan tanyakan beliau arti hal-hal ini. Apa pun yang beliau katakan, engkau harus mencamkannya."
Bergembira dan bersuka cita atas apa yang dikatakan Bhikkhuni Dhammadinna, Upasaka Visakha memberi hormat kepadanya dan ber-pradaksina mengelilingi beliau, lalu pergi menemui Bhagava. Setibanya, setelah memberi hormat pada Bhagava, dia duduk di satu sisi. Selagi duduk di sana, dia memberitahukan Bhagava seluruh percakapannya dengan Bhikkhuni Dhammadinna.
Ketika itu dikatakan, Bhagava berkata kepadanya, "Visakha, Bhikkhuni Dhammadinna memang bijaksana, wanita dengan ketajaman pikiran (panna) yang luar biasa. Jika engkau menanyakan hal-hal tersebut padaku, saya pun akan menjawabmu sebagaimana jawaban yang diberikannya. Itulah makna dari hal-hal tersebut. Begitulah engkau seyogianya mencamkannya."
Itulah yang dikatakan Bhagava. Upasaka Visakha bergembira dan bersuka cita atas kata-kata Bhagava.
***
Sumber: "Culavedalla Sutta: The Shorter Set of Questions-and-Answers" (MN 44), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.044.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Mei 2016.






