Ketika itu dikatakan, Bhagavan berkata demikian kepada Sesepuh Sariputra, “Dengan demikian Sariputra, Bodhisattva Mahasattva tidak berlatih dalam dharma apa pun.
Mengapa demikian?
"Karena pengalaman (dharma) tidak eksis (na saṃvidyante) sebagaimana menurut anggapan (abhiniviṣṭāḥ) orang-orang dungu, tak terlatih dan orang-orang biasa (bālapṛthagjanā aśrutavanto)."
Sesepuh Sariputra berkata, “Lalu bagaimana pengalaman eksis (saṃvidyante), Bhagavan?"
Bhagavan berkata, “Pengalaman eksis seakan-akan (yathā) tidak eksis. Karena tidak ditemukan (avidyamāna) dalam keadaan demikian (evaṃ), dikatakan pengalaman tidak bisa ditemukan (avidyā).
Orang-orang dungu, tak terlatih dan orang-orang biasa terjebak di dalamnya. Semua dharma mereka bayangkan (kalpitāḥ) tidak ada. Dengan membayangkannya, mereka terjebak dalam dua jalan buntu. Mereka tidak mengetahui atau melihat dharma tersebut. Oleh karena itu, semua dharma mereka bayangkan tidak ada.
Dengan membayangkan/mengonstruksi (pengalaman yang tidak ada), mereka terjebak (abhiviviśante) dalam dua jalan buntu (dvāv antāv); karena terjebak (abhiniviśya), mereka menggantungkan pada objek (yang dialami) sebagai landasan, dan membayangkan (kalpayanti) pengalaman lalu, mendatang, dan sekarang. Dengan membayangkannya/mengonstruksinya, mereka terjebak dalam nama-rupa.
Semua dharma yang tidak ada mereka bayangkan. Membayangkan semua dharma yang tidak ada tersebut, mereka tidak mengetahui dan tidak melihat marga sebagaimana adanya (yathābhūtaṃ mārgaṃ na jānanti na paśyanti).
Tidak mengetahui dan tidak melihat marga sebagaimana adanya, mereka tidak dapat meninggalkan triloka dan tak dapat tergugah atas kenyataan terdalam. Mereka disebut “dungu.” Mereka tidak menumbuhkembangkan keyakinan dalam Dharma sejati. Bodhisattva Mahasattva tidak menjadi terjebak dalam dharma apa pun, Sariputra.”
***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Juli 2017.






