Kata Pengantar
Sutra Wejangan Vimalakirti (Vimalakirti Nirdesa Sutra) juga sering disebut Gerbang Dharma ke Pembebasan di Luar Jangkauan Pikiran. Judul pertama merujuk pada pembicara yang memelopori sutra ini dan judul kedua mengungkapkan cara praktik yang menghantarkan pada pembebasan yang tak dapat dipikir, yakni tujuan dari semua Bodhisattva.
Menurut teks, Vimalakirti berasal dari Buddhaksetra Abhirati, alam Buddha Aksobhya untuk memberi manfaat kepada para makhluk di bumi ini. Beliau memrakarsai sutra ini dengan mengirimkan pengikutnya, serombongan lima ratus Licchavi dari Vaisali, kepada Buddha untuk menerima petunjuk Bhagavan sementara beliau sendiri terbaring sakit di rumah, menunggu gilirannya untuk menggugah para Bodhisattva, Shravaka, para dewa dan manusia.
Sutra ini terdiri dari dua belas bab: Bab I memuji kehadiran para Bodhisattva yang tindakan-tindakan bajiknya mengubah alam mereka menjadi alam Buddha dan mampu mendisiplinkan serta membebaskan para makhluk. Mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut termasuk para dewa, delapan kategori makhluk, para bhikshu, bhikshuni, upasaka dan upasika.
Yang dikirim oleh Vimalakirti ke pertemuan tersebut adalah seseorang bernama Ratnakara bersama lima ratus Licchavi, masing-masing membawa sebuah kanopi untuk dipersembahkan kepada Buddha sebagai tanda penghormatan. Bhagavan menggunakan daya mukjizat-Nya untuk mengubah semua kanopi menjadi sebuah kanopi raksasa yang menaungi seluruh jagat raya dimana para Buddha membabarkan Dharma di sepuluh penjuru. Hal ini menunjukkan keadaan Buddhaksetra yang tak dapat dipikir agar para pengikut mengembangkan citta Mahayana yang tak terbatas untuk merealisasi alam Buddha.
Ratnakara memuji Buddha dengan gatha yang panjang, menambahkan bahwa lima ratus Licchavi telah membangkitkan tekad untuk merealisasi Penggugahan yang Tak Terbandingkan, Lengkap dan Sempurna, dan memohon Buddha untuk mengajarkan mereka bagaimana membentuk Buddhaksetra, langkah pertama untuk merealisasi keadaan Penggugahan.
Buddha lalu mengajarkan bahwa alam Buddha dihasilkan dari bagaimana mereka mendisiplinkan dan menghantarkan semua makhluk pada kesempurnaan, karena alam Buddha yang tanpa cacat ini berasal dari citta yang mendalam, citta Mahayana, praktik enam paramita, empat sikap pandang tak terbatas, empat cara membimbing makhluk, upayakausalya, tiga puluh tujuh faktor penunjang Penggugahan, dedikasi semua potensi positif demi Penggugahan diri sendiri maupun makhluk lain, bagaimana menghilangkan delapan kondisi yang tak mendukung sehingga Dharma dapat diakses oleh setiap makhluk, menjaga sila-sila dan tidak melakukan sepuluh tindakan negatif.
Sewaktu Buddha memberi ajaran, muncul keragu-raguan yang kuat dalam citta Shariputra tentang keadaan Buddhaksetra yang tidak murni, yakni alam Saha ini. Buddha mengetahui pemikiran Shariputra dan menyentuhkan jari kaki beliau ke tanah dimana seketika itu juga alam ini menjadi murni dan bersih dengan segala keagungannya. Pada kesempatan ini, Ratnakara dan lima ratus pengikutnya merealisasi kebisaan menerima dengan penuh kelegaan dan kesediaan atas semua kelanjutan dan konsekuensi apa pun, sementara banyak yang hadir di sana merealisasi mata Dharma atau mengakhiri arus samsara. Dengan demikian, Bhagavan menunjukkan Buddhaksetra yang murni dan bersih dengan segala keagungannya, realisasi yang merupakan tujuan semua Bodhisattva.
Bab II berisi tentang tindakan-tindakan bajik yang dilakukan Vimalakirti, yang memanifestasikan diri sebagai upasaka berusia lanjut di Vaisali untuk memberikan contoh yang baik mengenai praktik enam paramita (Danaparamita, Silaparamita, Kshantiparamita, Viryaparamita, Dhyanaparamita, Prajnaparamita) dan sepak terjang Bodhisattva. Melalui upayakausalya, beliau memanifestasikan dirinya sakit dan tak berdaya guna membimbing para makhluk yang mengunjunginya, pada Penggugahan Sempurna.
Bab III menceritakan para murid utama yang diminta oleh Buddha untuk mengunjungi Vimalakirti guna menanyakan keadaan kesehatannya. Semua murid Shravaka tersebut menceritakan pertemuan mereka sebelumnya dengan Upasaka Vimalakirti, menunjukkan bahwa mereka tak memenuhi syarat untuk menemui beliau lagi. Tujuan ajaran Vimalakirti di sini adalah mendorong para murid Shravaka untuk mengembangkan citta Mahayana demi merealisasi Penggugahan Tertinggi.
Bab IV menceritakan para Bodhisattva yang belum merealisasi tingkat tertinggi Penggugahan, juga merasa sungkan mengunjungi Vimalakirti untuk menanyakan kesehatannya atas nama Buddha karena mereka tak memenuhi syarat untuk berkunjung setelah pengalaman mereka sebelumnya dengan Upasaka Vimalakirti. Ajaran dalam bab ini juga sangat diperlukan bagi mereka yang berlatih dalam jalan Bodhisattva karena mengajarkan apa yang seharusnya para Bodhisattva ketahui dan lakukan dalam praktik mereka.
Bab V menjelaskan perjumpaan Manjushri dengan Vimalakirti sebagai pasangan bicara yang sebanding. Vimalakirti juga menjelaskan bagaimana seorang Bodhisattva seharusnya menjaga pikirannya.
Bab VI menjelaskan realisasi akan pembebasan di luar jangkauan pikiran melalui tindakan-tindakan bajik tertinggi, yang membentuk singgasana seorang Buddha, yang merupakan landasan dari Penggugahan. Untuk menunjukkan cara kerja yang mendalam dari pembebasan yang tak dapat dipikir, Vimalakirti menggunakan kekuatan mukjizat beliau, memohon Buddha Merupradiparaja agar mengirimkan ke rumahnya 3.200.000 singgasana yang tinggi, besar, megah dan tanpa cacat dimana semuanya termuat di ruangan beliau tanpa menghalangi apa pun, dimana segala sesuatu tetap tak berubah seperti sebelumnya. Vimalakirti kemudian mengajarkan pembebasan di luar jangkaun pikiran yang tak dibatasi ruang dan waktu. Tujuan ajaran-ajaran ini adalah mengungkap mukjizat dari pembebasan yang tak dapat dipikir kepada para Shravaka dan mendorong mereka untuk merealisasi Penggugahan Sempurna.
Bab VII mengajarkan cara yang tepat dalam melihat makhluk yang pada dasarnya bersifat seperti ilusi dan tidak eksis secara hakiki; dan bagaimana menyesuaikan ketidakhakikian mereka dengan sepak terjang seorang Bodhisattva misalnya mengembangkan empat sikap pandang tak terbatas (maitri, karuna, mudita, upeksha); mengatasi kelahiran dan kematian; mendapat inspirasi dari kebaikan-kebaikan Tathagata dengan membebaskan semua makhluk dari duhkha dan sebab-sebabnya, menjalankan smrti yang tepat, dengan membabarkan apa yang tak dilahirkan/tak tercipta/tak dibuat dan tak terhancurkan, dan sebagainya yang disebabkan pikiran membedakan-bedakan akibat kesalahpengertian.
Bab VIII menceritakan bagaimana memasuki jalan Kebuddhaan yang hanya dapat direalisasi dengan citta yang murni dan bersih. Bab ini menjelaskan bahwa untuk memasuki jalan Kebuddhaan, seorang Bodhisattva seyogianya berupaya membebaskan semua makhluk tanpa terkontaminasi oleh kesalahpengertian, keangkuhan, kesombongan, kejengkelan, kemarahan, dan sebagainya. Dengan kata lain, dia seharusnya bebas dari semua pembedaan demi merealisasi citta yang murni dan bersih. Bab ini berisi percakapan yang sangat menarik dan mempesona antara Vimalakirti dan Manjushri, juga penjelasan Vimalakirti dalam gatha yang panjang mengenai bagaimana terbebas dari pembedaan. Berakhirnya pembedaan adalah mungkin yakni memasuki gerbang Dharma yang tidak mendua.
Dalam Bab IX, Vimalakirti mengundang semua Bodhisattva yang hadir untuk mengungkap pemahaman mereka tentang Dharma yang tidak mendua, yakni realisasi mereka akan kenyataan terdalam yang melampaui semua dualitas, relativitas dan kontradiksi - penyebab-penyebab utama yang mengkreasi semua makhluk dan alam mereka. Setelah Manjushri menyimpulkan bahwa keadaan tersebut direalisasi ketika tidak lagi dalam lingkup kata, ucapan, indikasi dan intelek, beliau memohon Vimalakirti untuk memberikan pendapat tentang hal ini. Vimalakirti tetap bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menunjukkan keadaan sebagaimana adanya yang tak terlukiskan dan tak terungkapkan.
Dalam Bab X Vimalakirti menggunakan kekuatan mukjizat untuk menunjukkan Buddhaksetra Sarvagandhasugandha beserta Buddha Sugandhakuta dan para Bodhisattva di Buddhaksetra tersebut kepada rombongan - dan menciptakan seorang pembawa pesan untuk pergi ke sana guna meminta makanan yang harum dari Buddha Sugandhakuta demi menginspirasi para Shravaka di Vaisali untuk memasuki jalan Mahayana. Dalam kesempatan ini, Vimalakirti juga memberi ajaran kepada para Bodhisattva dari Buddhaksetra Sarvagandhasugandha dengan memuji dan mengungkap Dharma yang dibabarkan Buddha Sakyamuni di dunia ini.
Bab XI menceritakan Vimalakirti dan Manjushri bersama para Shravaka dan Bodhisattva pergi ke Taman Amrapali untuk mengunjungi Buddha yang sedang membabarkan Dharma. Buddha berkenan atas kehadiran mereka dan memberitahu Ananda bahwa semua Buddha dan Bodhisattva menjalankan aktivitas Kebuddhaan dengan berbagai cara. Buddha juga mengajarkan para Bodhisattva dari Buddhaksetra Sarvagandhasugandha tentang yang terhancurkan dan tak terhancurkan yang harus senantiasa dicamkan dalam citta mereka.
Dalam Bab XII, Buddha meminta Vimalakirti untuk mengungkap bagaimana Vimalakirti melihat Buddha secara tidak memihak. Karena Vimalakirti meminta Manjushri untuk datang dan melihat Tathagata, sekarang Buddha meminta Vimalakirti untuk mengajarkan mereka yang hadir bagaimana melihat Tathagara. Bab VII mengajarkan cara yang tepat dalam melihat makhluk, sedangkan Bab XII ini mengajarkan bagaimana melihat Tathagata. Jawaban Vimalakirti yang panjang sangatlah menarik mengenai cara yang tepat dalam melihat Buddha. Buddha lalu mengungkap bahwa Vimalakirti berasal dari Buddhaksetra Abhirati, alam Buddha Aksobhya dan meminta Vimalakirti menunjukkan alam Buddha tersebut kepada rombongan.
Bab Penutup menceritakan Sakra, raja Surga Trayastrimsa memuji pembebasan di luar jangkauan pikiran yang diajarkan dalam sutra ini dan bertekad melindungi semua pengikut dan praktisi Dharma. Buddha lalu menceritakan kisah beliau sendiri dimana dalam salah satu kehidupan sebelumnya, beliau adalah putra sulung bernama Candracchattra dan beliau dimotivasi oleh Tathagata Bhaisajyaraja untuk membuat persembahan dengan mengajarkan Dharma di luar jangkauan pikiran ini, yang melampui segala bentuk persembahan. Sebagai hasilnya, Candracchattra merealisasi kebisaan menerima apa pun yang dialami tanpa harus melalui filter konsep dan menerima prediksi dari Tathagata Bhaisajyaraja bahwa suatu saat nanti, beliau akan merealisasi Penggugahan Sempurna. Ayah beliau, Raja Ratnacchattra kemudian menjadi Buddha bernama Ratnarcis, dan seribu putra tersebut adalah seribu Buddha dalam kalpa kebajikan (Bhadrakalpa). Lalu Buddha meminta Maitreya, Buddha yang akan datang, untuk menyebarkan sutra ini secara luas.
Buddha juga membuat prediksi bahwa kebanyakan cendekiawan modern tidak berupaya memahami makna mendalam dari sutra-sutra namun hanya tertarik pada debat yang hambar dan tak berakhir, yang hanya memperkuat pembedaan dan membuat mereka semakin jauh dari Penggugahan Tertinggi.






